Sebuah Film dan Kehidupan Nyata


Sebuah Film dan Kehidupan Nyata

Terkadang menonton film seperti melihat kehidupan nyata, pun saat melihat kehidupan nyata rasanya seperti nonton film. Entahlah siapa yang meniru siapa. 

Judulnya Juvenile Justice, itu kalau saya tidak salah mengeja. Seperti biasa jika ketemu kosa kata asing, langsung konfirmasi ke goggle. Di sana tertulis pengadilan anak. 

Drama ini memang ide ceritanya tentang hukum peradilan anak dengan setting pengadilan. 

Ini seperti potret kenakalan anak remaja sekarang. Dan seru mengikutinya karena ini sering dibahas di lingkungan tempat kerja saya saat ini. Perlindungan perempuan dan anak.

Meski hanya mendengarnya dari cerita teman-teman P2.  Kejadian-kejadian serupa menjadi dekat rasanya seolah menyaksikannya. Meski kadang miris mengetahuinya, andai memilih tidak mendenganya saja tapi mau bagaimana lagi kasus-kasus tersebut telah terjadi disekeliling kita.  

Mulai dari pembunuhan, pencurian, bully, hingga kasus kekerasan seksual. Dan belakangan ini menjadi isu yang santer. 

Dalam drama ini selain bagaimana kasus ini ditangani oleh para Hakim juga digambarkan bagaimana proses kekerasan terhadap anak-anak ini terjadi, bagaimana jika pelakunya anak-anak juga hingga jaringan kejahatan anak itu sendiri. 

Kita jadi belajar bahwa beberapa hal terkait isu-isu kekerasan anak juga bagaimana kasus-kasus seperti ini di mata hukum. 

Beberapa kasus yang diangkat dalam film ini konon adalah kisah nyata yang pernah terjadi di korea dan ditangani oleh pengadilan anak di sana.  

Dan demikian pulalah potret sistem peradilan pidana anak atau disingkat SPPA.  

Beberapa berjuang mendobrak birokrasinya, beberapa hanya bermain aman cukup mengikuti apa yang tertulis. Lupa bahwa pada kasus-kasus tertentu perlu pengkajian yang lebih dalam. 

SPPA selalu diusahakan untuk berujung damai. 

SPPA harus selalu diusahakan cepat. 

Prinsip cepat dan diusahakan damai bukannya membuat hukum ini tidak bisa dikaji lebih dalam? untuk melihat hukuman atau pembinaan yang seharusnya tepat. 

Efek tekanan! Takutnya anak katanya trauma dan lain sebagainya terkait dengan segala hal yang terjadi di persidangan. Mengingat persidangan yang pada umumnya hanya dirancang untuk orang dewasa, yang katanya orang dewasa saja kadang berkeringat dingin saat berada di sana. 

Bukannya itu malah baik. Agar mereka kapok untuk bermain-main dengan hukum. Agar mereka jera tak ingin lagi mengulangi perbuatannya. Bahwa yang mereka lakukan meski dengan dalih tanpa sengaja, misalnya pada kasus pembusuran yang baru-baru ini terjadi sehingga menyebabkan korbannya meninggal. Tetap sebuah kejahatan yang harus mereka pertanggungjawabkan. Agar tak lagi bermain-main dengan nyawa seseorang. 

Pun jika itu adalah kasus narkoba yang menimpa anak-anak meski pada dasarnya mereka tetap adalah korban. Iya, korban dari ketidakpedulian orang tua. Ataupun korban dari keadaan lingkungan. Tetap saja harus menjadi pembelajaran kenapa mereka mau membiarkan diri mereka menjadi korban memposisikan diri sebagai pelaku, sementara disisi lain ada banyak anak yang bisa menahan diri untuk tidak melakukan, patuh pada nilai-nilai di masyarakat. 

Anak-anak harus belajar untuk tidak menyerah pada keadaan.  Keadaan buruk tidak mesti membuat mereka ikut buruk.

Bahwa seharusnyalah memang, hukum itu harus ditakuti. Semoga dengan rasa takutnya rasa tertekannya pada proses persidangan itu membuat mereka jera. 

Ingat mereka masih anak-anak kenapa mereka sudah berani-beraninya berbuat kesalahan.

Komentar

  1. Terima kasih sudah diberikan kesempatan membersamai para aktivis anak desa dalam pelatihan peningkatan kapasitas PATBM perlindungan anak terpadu berbasis masyarakat hingga akhirnya saat nonton film yang mengankat tema yang sama saya segera bisa membuat reviewnya.

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pada Pagi yang Senyap__

Aku Suka Kopi

Mungkin Nanti__