Sebuah Resensi
Norwegian Wood oleh Haruki Murakami.. Nano-nano Rasanya_(Pas baca endingnya)
Pertama kali baca novel yang memiliki sisi gelap seperti istilah para pembaca novel ini.
Lalu kenapa ingin membacanya ?
Novel ini adalah satu dari beberapa novel best seller menurut survei google. Ingin tahu saja seperti apa novel yang kebanyakan orang suka.
Dan saya sudah membacanya setelah beberapa lama. Ini adalah novel terlama yang saya selesaikan. Bahkan saya menyelanya dengan beberapa bacaan lain.
Saat Ramadhan kemarin selama satu bulan saya hanya membaca beberapa halaman itupun saat saya sedang datang bulan. Tapi kemudian terhenti lagi. Barulah setelah memutuskan membawanya ke kantor dan mulai membacanya saat senggang. Halaman bacaan saya kembali bergerak. Dan ternyata setelah melewati pertengahan halamannya, buku ini menjadi lancar dan cepat selesai.
Lembaran awal seolah membaca biografi saja, ceritanya sangat lambat. Tapi beruntung kalimat-kalimatnya mengalir, penulis berhasil menggambarkan segala hal dengan sengat detail bahkan bagian yang seharusnya tidak terlalu vulgar. Tapi mungkin karena itulah novel ini disebut punya sisi gelap.
Watanabe tokoh utama dalam cerita ini mencintai Naoko yang juga merupakan kekasih dari sahabat karibnya yang telah meninggal. Kisah mereka menjadi rumit, hingga ia terhanyut dalam kehidupan seks bebas dan rasa hampa kehidupannya.
Naoko yang pendiam harus menjalani terapi kesehatan mental hingga di akhir kisahnya tak bisa memahami seperti apa seharusnya perasaannya pada Watanabe. Lelaki satu-satunya bahkan teman dekat satu-satunya yang dimilikinya setelah Kizuki bunuh diri.
Dan juga beberapa kisah dari tokoh lain dalam novel ini. Setidaknya beberapa bisa bangkit dari berbagai permasalahan hidupnya.
Satu hal lagi yang kurang menyenangkan dari novel ini adalah akhir yang menyesakkan. Menggantung rasanya. Tapi mungkin memang seperti itulah ujung dari kisah dengan kehidupan bebas dan tak memiliki satu hal yang mereka yakini.
Bunuh diri di negara jepang terkesan menjadi hal yang umum. Hampir beberapa tokoh dalam ceritanya mengakhiri hidupnya dengan bunuh diri.
Padahal jika di lihat penanaman disiplin dan karakter mereka sangat kuat. Tapi ternyata memang tidak cukup dengan menjadi baik sesuai standar yang mereka buat. Bahwa keyakinan, fitrah dan aturan yang mengikat sangat kita butuhkan untuk mengatur dan mengontrol kehidupan manusia. Agar bisa bahagia baik di masa hidup di dunia juga setelah kematiannya.
Setelah membaca novel ini saya makin mensyukuri karunia menjadi bagian dari bangsa Indonesia tercinta. Terlahir di tanah dan bangsa dengan adab dan rasa malu yang masih dijaga.
Dan sangat beruntung kita yang di anugerahi islam sebagai agama dan hidup dengan keyakinanNya.
Komentar
Posting Komentar