Sebuah Catatan__ @DesaPapanLoe

Sebuah Catatan_
@Desa Papan Loe, 28 Juli 2022

Ketika berjalan memasuki gerbang jalan masuk ke desa ini saya sudah bergidik cemas, sisi kanan jalanan adalah area Pengolahan smelter dengan limbah pasir yang sudah menggunung. Katanya daerah disini meningkat panasnya berkali-kali lipat. 

Lalu disisi kiri jalanan juga berjejer pemukiman  warga. Beberapa sudah permanen rumah batu, selebihnya masih rumah panggung. Konon katanya semenjak kawasan industri ini beroperasi kesejahteraan penduduknya naik drastis banyak yang beralih pekerjaan menjadi pegawai di PT nikel ini. Penghasilannya memang jauh lebih menjanjikan dibanding selama ini sebagai nelayan dan petani rumput laut. 

Mobil yang kutumpangi sudah sekian ratus meter memasuki desa. Sepanjang itu pula masih dengan pemandangan yang sama. Hanya berganti dengan sisi kiri selain gunungan pasir juga bangunan-bangunan besar pabrik pengolahannya. Lalu tampak juga bagian pembakarannya, tentu saja asap yang membumbung memenuhi udara ditambah dengan aroma yang tak nyaman di hidung. 

Saya tidak tahu harus berdecak takjub dengan gedung megah dan pabrik-pabrik yang kelihatan canggih itu. Atau cemas dengan keadaan lingkungan penduduk desa ini yang sepertinya mulai tak sehat lagi. 

Setelah kurang lebih 1 km pemandangan yang kulewati cukup melegakan. Hamparan sawah yang menghijau menyejukkan mata juga harapan bahwa tidak semua area desa ini gersang seperti bayanganku sebelumnya.

Singkat cerita setelah tiba di aula desa, sesuai tujuan kami datang disini yaitu mendampingi pelaksanaan musyawarah desanya. Acara rembuk pun dimulai, ada yang menarik dan ingin kutulis disini yaitu sambutan Ketua BPDnya ....

Orang mungkin melihat desa Papan Loe ini bak ketiban durian runtuh. Tanah yang dulunya gersang dan selalu berada dalam kelompok di bawah garis kemiskinan. Tetiba di tengah desa terbangun istana megah. 

Ada investor besar menanamkan modalnya, seketika merubah banyak hal di sini. Tapi, lanjutnya lagi ....

Tetap ada efek baik dan buruknya, malah jika  hitung-hitungan itu tiga puluh tujuh puluh.  30 persen baiknya dan 70 persen buruknya. Lah,  kenapa lebih banyak porsi kerugiannya bagi mereka? Entahlah. Itu, kan menurut Pak ketua BPD, tidak tahu kalau kata warga yang lainnya.  Tapi eh tapi BPD itu,kan mewakili suara rakyat sebagian besar, kan. 

Hhhmmm.  Ah,  selalu demikian, kan. Masyarakat kecil selalu menjadi pihak dirugikan. Entahlah itu sudah seperti hukum ketetapan rasa di negeri ini. 

Seperti jika rasaku ini rasamu.

Bagaimanalah ini, hari ini kami diminta untuk bermusyawarah merencanakan pembangunan desa tempat kami hidup. Sementara surat terakhir yang diterima Pemerintah Desa untuk mendata berapa rumah, berapa keluarga di area mereka terkait dengan tata ruang kawasan industri. Ada 6 desa, beberapa hanya sebagian, tapi desa Papan Loe sepertinya harus merelakan seluruh tanahnya. 

Demikian mungkin tanya juga khawatir dalam benak para warga di desa ini. Juga kecemasan akan lingkungan yang mulai tak nyaman lagi. 

Itu seperti warning kalau tidak lama lagi mereka harus meninggalkan tanah kelahiran. 
Apalagi yang lebih sesak dari kata 'pergi'

Sebuah kampung tidaklah serta merta terbentuk, ada banyak nilai ada banyak kesamaan prinsip, budaya yang mulai terbangun turun temurun, ada sepetak kebun yang menjadi tumpuan hidup satu keluarga. Ada serumpun keluarga Nenek, Bapak, Mamak, Paman, Bibi yang rumahnya tak ingin saling berjauhan. Dan yang saat ini mereka rasakan ada perlakuan istimewa untuk warga di desa ini jika ingin melamar kerja di perusahaan yang berdiri di tanah desa mereka.  

Dan tidak ada yang tahu seperti apa setelah status mereka bukan lagi sebagai warga desanya. Atau tidak ada yang tahu akan seperti apa lingkungan baru yang akan mereka tempati dan temui nantinya apakah penduduk setempat, warga asli masih bisa di sandang atau jangan-jangan menjadi warga gusur, atau beberapa kata yang sungguh kadang tak enak didengarnya.  

Meski saat pertamakali memasuki area desa ini saya sangat berharap agar penduduknya pindah saja dari desa ini. Kasihan. Udaranya panas, banyak debu, belum lagi aroma pembakaran bahan tambangnya. 

Tapi tahukah seperti apapun keadaan sebuah desa kalau itu kampung halaman tetap saja kita akan betah dan berat untuk meninggalkannya.

Ah, sebuah pilihan dilematis bagi mereka jadinya. 

Saya?  Entahlah ini hanya sebersit kata yang tetiba riuh di kepalaku saat pertamakalinya menginjakkan kaki di desa Papan Loe ini. 


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pada Pagi yang Senyap__

Aku Suka Kopi

Mungkin Nanti__