Drama Sakit Gigi___
Bahwa seseorang akan dihancurkan dengan apa yang ia sombongkan.
Saya terhenyak ....
Beberapa hari lalu saya dengan jumawa mengatakan tak pernah sakit gigi, saat itu saya baru saja mengambil foto rontgen gigiku. Saya sedang bingung apakah memilih perawatan syaraf yang mahalnya tak ketulungan atau giginya dicabut saja.
Tidak lama setelahnya hanya berselang tiga hari, malamnya saya sakit gigi. Sakit yang hebat berdenyut-denyut hingga naik ke kepala. Malam itu sejak pukul dua dinihari saya tidak bisa tertidur hingga subuh tiba. Yang anehnya itu bukan gigi yang kubicarakan waktu itu. Tapi gigi yang lain, sebelah kanannya, bagian atas pula, dan tidak berlubang.
Lalu sepanjang hari saya harus menikmati tiap detik sakitnya.
Saya sampai minum paracetamol, obat pereda nyeri itu. Tapi hanya bisa meredakan sakitnya beberapa jam, selanjutnya nyut-nyut di gigiku kembali menyerang.
Sorenya barulah saya ke dokter. Setelah diperiksa bagian yang sakit, sama sekali tidak ada lubang, Bu dokter sampai beberapakali mengetuk semua gigiku untuk memastikan bagian gigi yang sakit. Saya tidak membahas gigi kiriku yang sedang menunggu proses cabut atau perawatan syaraf karena bagian itu tidak sakit dan bukan dokter yang sama yang menanganiku sejak awal. Iya, saya di klinik lain, klinik yang biasanya saya kunjungi tutup. Sementara gigiku tak lagi bisa menunggu untuk ditangani. Bahkan harus ada drama penolakan awalnya, karena disini bukan faskes bpjs saya terdaftar. Meski saya sudah meminta untuk pakai fasilitas umum saja. Tapi katanya pihak mereka akan kena tegur. Entahlah ini bagaimana prosesnya. Tapi tidak lama akhirnya bersedia juga.
Karena sudak diketuk saat periksa alhasil sepulang dari dokter, nyerinya makin hebat.
Saya sampai meraung karena sakit yang sudah tak tertahan, semua tindakan yang biasanya untuk sedikit meredakannya tak mempan lagi. Dibubuhi minyak tawon, berkumur dengan larutan air garam. Sama sekali tak membantu. Dengan air mata berlinangan saya mendorong kue serabi agar bisa tertelang. Saya harus makan sesuatu agar bisa segera meminum obat dari dokter tadi. Karena sungguh saya tidak lagi bisa menunggu hingga malam tiba.
Alhasil beberapa menit setelah meminum obatnya, yang beberapa tablet itu. Sakitnya mereda. Saya bahkan bisa makan malam agak banyak. Tentu saja saya seperti kelaparan, lah sepanjang hari saya hanya makan seadanya karena memang tak bisa mengunyah makanan.
Drama belum terhenti, tengah malam saya kembali terjaga. Sakit gigi menyerang lagi. Efek obatya mungkin telah hilang, mengingat saya meminumnya menjelang magrib. Itu sudah berapa jam berlalu.
Sepertiga malamku kembali dengan sakit gigi.
Hari ini hari ke tiga saya bersama dengan sakit gigi.
Sakit gigi itu sakit tiada tara. Sampai-sampai dia disandingkan dengan sakit hati. Ada lagunya,kan, tapi itu lagu lawas anak sekarang mungkin tidak tahu. Huhuuhu pokoknya sakit tidak enak makan tidak enak tidur. Eh mirip-mirip sih ....
Eh, padahal....
Saya rajin sikat gigi, bahkan menahan makan apapun meski itu sangat menggoda tapi karena baru saja gosok gigi lebih memilih menjaga gigiku. Tapi hari ini lihatlah .... Hal yang begitu kita jaga tetap akan sakit jika pemilikNya berkehendak. Tentu semua tetap disebabkan oleh diri ini.
Ya Allah ampuni hamba ....
Semoga ini bukan tentang kalimat pembuka di atas. Tapi setidaknya saya belajar dan kembali menyandarkan segala sesuatu hanya padaNya.
Selalu atas rahmatNya. Kebaikan dan segala keberuntungan yang kita peroleh, bukanlah karena diri sendiri.
Bahkan jika kita telah mengusahakan sesuatu kalau Allah tidak menakdirkanNya maka tidak akan terjadi. Selalu meyakini bahwa segala ketetapanNya adalah yang terbaik. Karena keterbatasan sebagai manusia, sebagai hamba saja maka terkadang kita terlambat bahkan tidak mampu memahami hikmah setiap hal yang terjadi.
Komentar
Posting Komentar