Sebuah Novel Sejarah___

Bagi saya, membaca buku bukan hanya tentang sederet kalimat dalam bab-bab halamannya. Namun sebuah perjalanan menyusuri kisah tiap tokoh dalam ceritanya. Menapaki tempat-tempat yang jauh yang rasanya mustahil untuk sampai ke sana tapi dengan membacanya dalam novel-novel saya serasa sedang mengunjunginya.

Perjalanan kali ini tentang menyusuri kisah sang mujaddid Badiuzzaman Said Nursi yang dilakukan oleh beberapa pemuda dalam novel Api Tauhid oleh Habiburrahman  El Shirazy. Dengan berlatar Turki, Indonesia, dan Madinah. Sungguh menjadi perjalanan yang penuh hikmah. 

Salah satu hal yang menarik dari novel sejarah adalah kita menjadi tahu beberapa fakta sejarah tanpa perlu merasa bosan karena di hadirkan dengan apik dalam cerita fiksi. Meski terkadang saya tidak bisa membedakan antara fakta dan kisah fiksinya  tapi dalam novel Api Tauhid penyajiannya sangat baik, kisah sang mujahid tentu sangat terjaga dikisahkan turun temurun  langsung oleh orang-orang yang pernah membersamai beliau. 

Saya selalu jatuh cinta pada novel-novel beliau. Berawal dari ayat-ayat cintanya lalu ketika cinta bertasbih. Meski setelahnya. bertahun-tahun aktivitas membaca saya terhenti. Tidak ada novel yang bisa kubaca waktu itu, sementara keadaan ekonomi masih pas-pasan. Buku masih terasa sangat mahal.   Selain itu rutinitas yang padat rasanya tidak memberi kesempatan emak yang juga bekerja sepertiku untuk asyik membaca novel. Sepuluh tahun lebih. Barulah beberapa waktu belakangan ini saya kembali menekurinya. Bersemangat menambah koleksi bacaanku di rumah. Salah satunya novel Kang Abik ini.  

Pilihan saya tertuju pada novel sejarah ini. 

Kurang lebih 600 halaman. 

Saya mulai membacanya. Hari ini adalah hari kesekian saya menyusuri tiap lembarnya.  Saya sengaja tidak menyelesaikannya dengan cepat karena setiap bagiannya rasanya suatu hal yang berharga sehingga saya tidak boleh buru-buru, harus benar-benar mencermatinya meski beberapa bagian saya agak sulit memahaminya. Mungkin faktor kurangnya wawasan. 

Sejarah yang menceritakan kisah yang pernah terjadi kadang dianggap sesuatu yang membosankan tapi tidak dengan kisah  para mujaddid. Salah satunya Badiuzzaman ini. Kisahnya seolah sebuah fiksi. Sesuatu yang rasanya mustahil tapi demikianlah faktanya, bahwa cerita tentangnya benar-benar pernah terjadi. 

Betul-betul sebuah keajaiban zaman seperti seluruh penduduk menggelarinya. Badiuzzaman.

Di usianya yang masih belia, beliau sudah menguasai berbagai kitab-kitab yang namanya saja susah kusebutkan. Kecintaannya pada ilmu membuatnya menjadi jalan cahaya bagi sekelilingnya. 

Sejak dulu saya sering mendapati potongan-potongan kisahnya saya tidak menyangka beliaulah yang dimaksud dalam cerita-cerita menakjubkan itu.  Tentang seorang saleh yang akan dihukum mati lalu permintaan terakhirnya hanya agar diizinkan mengerjakan sholat dua rakaat. Pemimpin pasukan musuh luluh hatinya tidak jadi menjatuhkan hukuman. 

Atau beberapa kisah heroiknya pada beberapa persidangan.

Bahwa beliaulah yang disiapkan oleh Allah untuk tetap menjaga api tauhid yang secara sistemik terus menerus berusaha dipadamkan oleh rezim sekuler di Turki masa itu.  

Sebuah perjuangan yang panjang dan tak mudah. 

Seperempat abad hidupnya dihabiskan dari satu penjara ke penjara lain dari satu pengasingan ke pengasingan berikutnya. Tapi  dari tiap kesengsaraan yang dialaminya risalah nur kian bercahaya. 

Demikianlah seorang ulama. Penjara tidaklah membuatnya berhenti dan hanya terkurung dalam jeruji.  Sejatinya hanya fisiknya saja yang dipenjara tapi pemikiran dan semangatnya tetap bebas dan menyebarkan kebaikan. 

#sebuahResensi

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pada Pagi yang Senyap__

Aku Suka Kopi

Mungkin Nanti__