Gigi Ber__Seri


Drama gigi ini ternyata belum selesai. Sepertinya akan menjadi mini seri, padahal bukan gigi seri tapi gigi geraham, hehehe. 

Namanya drg. Ardy, setidaknya itu yang kubaca di dada kanan baju praktiknya. Karena aku tidak sempat lagi berbasa-basi menanyakan namanya.  Pertamakali bertemu, gigiku sedang parah-parahnya. Bicara seperlunya bahkan untuk mengeluhkan sakitnya saja rasanya sungguh butuh energi. 

Lalu pertemuan ke dua kami banyak membahas tentang pilihan perawatan untuk gigiku. Apakah dicabut saja atau lanjut perawatan saraf lalu ditambal, mengingat gigiku masih bagus. Sayang jika tidak dipertahankan, itu katanya setelah melihat kondisi gigiku dan hasil rontgennya.  

"Bagaimana, baiknya saja, Dok," ucapku pasrah saat itu. 

Setelah mengingat, dan menimbang maka diputuskanlah memilih perawatan saraf. Ada beberapa biaya tambahan tentu saja karena bpjs tidak menanggung proses yang demikian.  Termasuk pembersihan karang gigi saat itulah juga baru saya tahu kalau yang ditanggung BPJS hanya dari sisi patologis saja. Artinya gigi yang sedang sakit dan dilakukan perawatan pada gigi tersebut. 

Untuk estetika atau keindahan gigi itu tidak ditanggung BPJS. Hehe cantik itu memang mahal besti. 

Waktu itu saya juga mengeluhkan keharusan minum obat selama perawatan itu. Padahal saya sudah beberapa hari mengonsumsi zat kimia itu.

Iya, ini seperti sedang tiba saatnya semua gigiku protes setelah sekian lama. 

Kali ini kunjungan ke empatku di klinik gigi.
Dokter Ardy  sudah menyiapkan semua perlengkapan perawatan. Termasuk penjelasan detail tentang proses ini. 

"Proses perawatan saraf itu bisa panjang tergantung kerusakan sarafnya. Dan bisa juga cukup tiga minggu, tiap pekan dilakukan beberapa tindakan termasuk penanaman saraf buatan hingga terakhir akan ditambal permanen. Setelahnya tidak ada lagi ngilu-ngilu," tegasnya.

Biaya-biaya tiap pertemuan juga telah kami bahas. Dan deal.  Aku suka caranya memberikan penjelasan, dan sempat bercanda, kalau ini bisa sekompleks ini ya, padahal hanya sebiji gigi. 

MasyaAllah, Allah menganugerahkan gigi-gigi mahal ini ke kita untuk dipakai gratis.

Lalu dalam prosesnya, semua persiapan untuk perawatan saraf telah diatur  di meja peralatan yang tersambung dengan kursi tempat duduk pasien. Saat itu posisiku sudah baring dengan mulut kubuka lebar. Lampu diatasku sudah menyala mesin bor sudah meraung dan bikin ngilu. Satu dua sudah ketemu lubang sarafnya. Hingga yang terakhir dan kerusakan gigi ternyata sudah sampai ke akar. Sepertinya proses perawatan tidak bisa dilanjutkan. Dokter tetap interaktif menjelaskan proses tindakannya.

"Padahal di foto rontgen tidak terlihat." Dokter Ardi berhenti sejenak. Membicarakan beberapa hal dengan perawatnya. 

Saya sudah pasrah, jarum suntik untuk bius tadi saja sudah cukup membuatku shock. Itu rasanya sakit. 

"Dicabut saja, Bu. Tapi belum bisa sekarang." Sebelumnya dokter muda ini memberiku sebuah cermin kecil memberikanku kesempatan untuk melihat langsung kondisi gigiku. 

"Eh, dok gigi yang dibelakangnya ada titik hitamnya, bagaimana dengan yang itu." 

"Baik yang itu saja yang dirawat. Biasa memang demikian setelah satu gigi bermalasalah gigi lain juga akan menunjukkan gejalanya," ucap dokter setelah memeriksa gigiku kembli, "pekan depan Ibu datang lagi untuk cabut dan tambal permanennya"

Saya pulang dan menunggu lagi, beruntung gigiku sudah tak sakit lagi dan tidak harus meminum obat. 

Setelah tiba waktu yang telah dijadwalkan. Sayapun bergegas. 

Hari kamis. Kurang lebih pukul lima aku sudah kembali duduk di kursi pasien klinik dokter gigi ini. 

Ada sedikit tambahan biaya karena ada lapisan anti ngilu, menurut dokter nya. Bisa juga tidak ditambahkan. Itu terserah pasien. 

Prosesnya hampir 30 menit. Suara bor yang mendesing, alat penyedot air ludah yang terus mendesis, dan beberapa peralatan dokter lainnya,  bergantian melakukan tugasnya.  

Alhamdulillah setelah sekian pertemuan gigiku masing-masing dengan takdir terbaiknya. Ada yang di tambal dan ada yang harus direlakan, usai sudah baktinya. 

Dan saya hanya sempat mengucapkan terima kasih dengan terbata pada dokternya. Cabut gigi ternyata sama sakitnya saat sakit gigi. Eh. 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pada Pagi yang Senyap__

Aku Suka Kopi

Mungkin Nanti__