Senin, 12 September .... Mau berbagi keresahan Saja____

Senin, 12 September .... Mau berbagi keresahan Saja____

Baru-baru ini kita dibuat terhenyak oleh penemuan potongan mayat anak perempuan   yang masih lengkap dengan seragam sekolahnya. Di mutasi, demikian kata yang di tulis pengirim gambar itu, meski maksudnya adalah mutilasi tapi keinginan tertawa kalau ada salah kata seperti biasanya mengalahkan keterkejutan kami.  

Belum sirna rasanya kaget karena berita ini, bahkan saya masih belum mau membahasnya panjang lebar.  Jangan bilang kepalanya yang terlepas, atau potongan kakinya, dan lain sebagainya yang membuat bergidik. Besoknya pelakunya datang menyerahkan diri. Pacarnya. Demikian kabar itu kembali membuat merinding. 

Apa dalam pikirannya. 

Foto ke dua anak ini. Pelaku dan korban. Iya, masih anak-anak, sesuai dengan undang-undang mereka masih di bawah umur, tersebar dengan cepat di sosial media, di grup whatsapp menjadi pembicaraan di mana-mana. Mereka masih sekolah. SMA. Wajahnya cantik dan ganteng. 

Tapi sungguh kejadian ini kembali menampar kita. Karena mereka masih anak-anak maka kesalahan juga ada pada kita sebagai orang tua. 

Kita kadang membiarkan mereka membahas tentang pacaran tanpa merasa risih, bahwa hal itu jelas-jelas dalam agama di larang. Bahkan kita membiarkan mereka ikut menikmati sinetron. Yang kita anggap hiburan, padahal hanya tentang pacaran, selingkuh, menikah di usia muda dan semua hal yang akhir-akhir ini menjadi entahlah dianggap biasa. 

Lebih tidak habis fikir lagi saat mereka masih bocah kita sebagai orang tua menganggap candaan tentang pacaran 'macewe' istilah kita disini hanyalah seru-seruan. 

'Siapa cewe'nu'....  Lalu sambil tertawa-tawa menjodoh-jodohkan mereka. 

Lalu apa yang anak-anak pikir karena candaan kita, pada pembiaran kita. Mereka akan menganggap pacaran adalah hal biasa, boleh, orang tuaku sangat senang karenanya. Besok-besok, dia akan izin pada kita. Maka hubungan yang belum boleh ini lalu mendapat restu dari kita.  

Anak-anak lalu menganggap legal pergi berdua, boncengan, nongkrong di kafe karena izin sudah di tangan. 

Kita yang katanya sebagai orang tua berprasangka baik. Anak kita pergi dengan anak baik, mukanya aduh polos menggemaskan, tidak mungkinlah mau macam-macam.  

Prasangka kita boleh jadi benar. Anak-anak kita memang tidak melakukan hal-hal diluar batas. Mereka hanya belajar bersama. Oh ya, sambil bangga "anakku jadi semangat belajar semenjak dekat dengan si dia," tambahkan, "wah, rajin sholat pula si dia rajin mengingatkan, tengah malam di whatsapp "sayang, bangun tahajud, ya." 

Allahu Akbar. 

Kita lupa bukan berarti karena dilakukan oleh orang yang baik dan paham agama lalu pacaran itu menjadi halal.  

Lalu pergi berduaan dan yang ketiga adalah setan hanya duduk saja menemani mereka. Berprasangka baik. Ah, jangan menggodanya mereka orang baik kasian, lagian orang tuanya mengizinkan. Setannya berubah baik juga malah membisikkan hal-hal baik jangan melakukan ini, itu. Entahlah sejak kapan setan berubah menjadi malaikat. 

Kita lupa, Allah dengan tegas dalam perintahnya jangan mendekatinya (zina). Karena sejatinya itulah bentuk kasih sayangNya. 
 
Karena pada umumnya kita selalu mau melihat hikmah terlebih dahulu, padahal 'Ati'ullaha wa ati'ur rassula' adalah ketetapan seperti apa pun perintah itu tanpa perlu bertanya kenapa. 

Berita yang menggegerkan tadi menjadi bukti nyata dari melanggar aturan itu. Ngeri sekali, itu baru di dunia bagaimana di akhirat kelak. Naudzubillah min dzalik. 

Dan sejenak, mari kita merenung. 

Beberapa saat lalu saya membuka portal CNN terkait artikel healthnya yang mengatakan anak sekolah yang menjalin kasih ditemukan lebih stress dibandingkan remaja yang menjomblo. Studi yang baru saja dipublikasikan di journal of school health menunjukkan, remaja yang tidak pacaran memiliki kesehatan mental, keterampilan sosial, dan kepemimpinan yang lebih baik.  

Sesekali anak remaja buka berita-berita bermanfaat jangan hanya tiktok mulu. 

#Sedih

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pada Pagi yang Senyap__

Aku Suka Kopi

Mungkin Nanti__