Bukan Es Teh Indonesia___

Namanya mie panggang. Ini tidak lebih dari mie kering yang biasa kita bilang mi titi hanya saja mie ini dipanggang sesuai namanya. Beberapa lembar mienya sampai terlihat gosong. Aroma hangus-hangusnya kuat tercium. Sebentar saat mencicipinya rasanya pahit. 

Mungkin ini salah satu bentuk inovasi dalam penyajian mie. Yang biasanya di goreng atau direbus saja. 

Tapi entahlah menurutku tidak semua hal harus di paksakan keluar dari jalur biasanya. Ada beberapa yang enaknya dibuat begitu saja, perlakuan yang tak lazim malah akan merubah cita rasanya. Hari-hari ini memang banyak sekali jenis makanan yang berusaha keluar dari fitrahnya. Eh. Saya pernah melihat es krim goreng. 

Kembali ke mie panggang.  Mie kemudian disajikan dalam wadah hot plate dengan kuah mie kental  di mangkuk terpisah. Pramusajinya sesaat setelah meletakan mie panggangnya menyarankan untuk segera menyiram kuahnya ke hot plate yang berisi mie tadi. 

Hot plate yang memang panas membuat suara seerrr saat kuah mie menyentuh permukaannya. Alhasil aromanya segera menguar memenuhi ruangan dan hhh bisa dibayangkan, kan. Menggoda selera tapi sayangnya rasa pahit-pahit dari beberap mie yang gosong tadi membuat seleraku sedikit berkurang. 

Meski demikian mie panggang ini tetap kumakan. Kuahnya yang kental dengan banyak potongan ayam, baso ayam dan udang secara umum membuatnya enak. Saya sedang lapar. Rasa makanan terkadang menjadi nomer kesekian saat perut lapar sudah berteriak minta diisi.

Mie panggang ini menjadi list menu yang tidak akan saya pesan lagi nanti. Sebenarnya saya sudah punya beberapa menu favorit tapi hari ini sudah close order, mungkin karena pengunjung sedang ramai-ramainya ada beberapa event termasuk di lantai atas rooftop, bahkan halaman yang biasanya sepi juga penuh dengan pengunjung. Hampir saja kami tidak kebagian meja. Tapi karena sudah terlanjur disini maka kami memesan apa yang tersedia.

Ini tidaklah seperti es teh Indonesia yang di komplain costumer karena pesanannya tidak sesuai dengan selera lidahnya. Mengeluh di media sosial, lalu pemiliknya tidak terima dan melayankan somasi ke konsumennya. Bukan.

Saya hanya ingin berbagi pengalaman bahwa tidak semua hal yang kelihatan menggoda selera akan sesuai di lidah kita. Pun tidak setiap hal yang tak sesuai keinginan harus kita umumkan dengan nada keras. Terkadang kita hanya perlu menjadikannya sebagai pengalaman baru setidaknya kita sudah merasakan rasa yang lain ... Rasa yang sebelumnya tak terbayangkan. 

Tapi hei bukannya es teh itu jadi viral gegara ungkapan protes dari pelanggannya.

Sebenarnya dari kejadian ini kita belajar bahwa tidak semua hal buruk yang awalnya kita anggap sebagai kemalangan boleh jadi adalah awal dan pemicu sukses setelahnya.

Komentar

  1. Saya penasaran ingin mencoba es teh Indonesia

    BalasHapus
    Balasan
    1. Di Bantaeng sudah ada tapi pilih varian yang tidak terlalu manis ya

      Hapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pada Pagi yang Senyap__

Aku Suka Kopi

Mungkin Nanti__