Duka Mendalam__

Sampai hari ini hati saya masih menangis setiap kali berita tentang tragedi kanjuruhan lewat di linimasaku. Membayangkan para korban dan keluarga-keluarga yang ditinggalkan. Sungguh tak terperi menyaksikan orang-orang yang hanya pamit nonton bola tapi tak lagi kembali setelahnya. Dia telah pergi untuk selamanya. 

Terlalu banyak kesedihan di sana. Mereka adalah para ayah dari anak-anaknya, sang suami dari istri yang menunggu di rumah. Banyak Ibu yang tak terkira kesedihannya buah hati pulang hanya dengan jasadnya. 

Terlalu banyak kesedihan di sana. Satu nyawa seorang manusia itu sangatlah berharga. Bagaimana mungkin waktu yang teramat singkat itu ratuasan nyawa melayang sia-sia.  

Hanya karena hal sepele. 

Tidak ada yang menduga kejadian ini terlalu naas. 

Menurut berita-berita semua kemungkinan dan celah untuk bentrok antar suporter telah di antisipasi. Tidak ada pendukung lawan di tribun penonton. Bahkan saat diakhir pertandingan tim yang menang tidak melakukan selebrasi sebagaimana biasanya kalau menang. Tentu saja untuk menjaga semua hal yang memicu konflik itu. 

Kekecewaan, aksi protes itu biasa. 

Setelah melihat video-video yang beredar kericuhan itu tidaklah perlu terjadi. 

Bahwa saat satu dua orang penonton ke lapangan hanya sekedar ingin memberi salam, melampiaskan kekesalan. Hei, itu hanya kemarahan seorang pencinta itu tidak akan pernah menyakitinya. Lalu beberapa menyusul turun. Para petugas terlalu agresif dengan menendang dan memukul para supporter itu. Hal tersebut tentu saja memicu kemarahan penonton di tribun yang nampak jelas dari tempat mereka berada. 

Solidaritas penonton bola itu melebihi dari persatuan manapun tanpa melihat ras, golongan dan agama manapun mereka itu satu rasa satu bahasa yaitu bahasa bola kata mereka.
 
Tanpa bisa dicegah bentrok yang terjadi kemudian adalah penonton lawan petugas keamanan. Ada teriakan sambo di sana.

Dan hal paling fatal adalah tembakan gas air mata yang seharusnya tidak dibolehkan, di arahkan pula ke tribun. Itu sangat disayangkan disana banyak anak-anak dan wanita. Penonton yang hanya sekedar kesal karena melihat teman sesama penonton mereka diperlakukan kasar oleh petugas. 

Semua telah terjadi, apalah daya takdir Allah telah berlaku. 

Semoga ini menjadi bahan evaluasi yang ketat bagi semua pihak yang bertanggungjawab atas semua insiden ini. 

Harus ada ketegasan untuk menghukum keteledoran ini. 

Seratus lebih itu bukan hanya sekedar angka. Itu adalah nyawa-nyawa yang teramat berharga. 120 secara resmi tercatat, kemarin-kemarin angka-angka itu masih simpang siur ada yang memberitakan mencapai 187. Angka itu tetaplah rekor dari semua kejadian tragis sepak bola di seluruh dunia.

#Duka
#TragediKanjuruhan

Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pada Pagi yang Senyap__

Aku Suka Kopi

Mungkin Nanti__