Tentang Ini Itu Banyak Sekali __
Padahal jarum jam baru saja menunjuk pukul sembilan malam.
Masih banyak waktu untuk menyelesaikan beberapa bacaanku. Atau sekedar melatih jemariku kembali di catatan ini. Tapi rasanya mataku sudah sangat berat. Dan sekali lagi tak ada ide yang ingin kutulis, kecuali kembali dengan keluh 'aku harus menulis apa'
Entahlah ....
Mungkin aku hanya lelah. Seharian tanpa istirahat. Sore tadi seharusnya aku bisa merebahkan badanku tapi sisa novel Leila S Chudori dengan Laut berceritanya terus memanggilku. Hari ini hari ke tiga membacanya sudah di bab-bab terakhir. Kian seru dan itu cukup mengalahkan seluruh letihku.
Suasana sore yang sepi karena anak-anak masih tertidur membuatku makin leluasa untuk segera menyelesaikannya.
Kalimat demi kalimat, lembar-lembar demi lembar begitu luar biasa rasanya. Bahasa yang kaya, pemilihan diksi yang dalam sungguh memukauku untuk tak ingin berhenti melahapnya. Tidak percuma label best seller tersemat di novel ini.
Dan malam ini sesaat sebelum tidur aku ingin meraihnya dan kembali tenggelam dalam kenangan Asmara, adik Biru Laut dalam cerita novel itu. Tapi tanganku tertahan dan memilih ruang catatan ini. Jika menuruti hati tentu saja memilih tenggelam dalam semesta novel itu. Tapi, aku tidak ingin mengusir rasa kantukku yang telah menyerangku sedari tadi. Karena aku yakin sesaat setelah membaca novel itu, aku akan terjebak lagi dan melupakan waktu istirahatku yang berharga. Padahal besok, hari harus terus berlanjut, tidur malam yang cukup akan sangat mempengaruhinya.
Dan menulis disini selalu menjadi catatan pengantar tidur yang baik. Tentu saja setelah berdoa.
Dulu aku selalu menulis dengan alasan sekian ribu hajat kata agar sebentar malam bisa tidur nyenyak, agar bisa menjaga warasku, dan banyak agar-agar lainnya. Meski terkadang aku melupakannya. Moodku yang berubah-ubah, pun semangatku yang naik turun sepertinya kian menjadi. Entahlah aku benar-benar lupa atau selebihnya adalah rasa malas. Hhhm, itu alasan apalagi.
Hehe aku kian pandai saja menumpuk alasan.
Padahal seseorang akan makin bijak seiring berjalannya waktu, entah kenapa. Aku mulai menyangsikan diriku soal ini
Sudah berapa buku yang telah kubaca. Entahlah apakah aku belajar. Atau hanya sekedar tenggelam, lalu saat kembali ke permukaan aku malah seolah baru saja selamat dari peristiwa yang ingin kulupakan. Iya, aku menduganya demikian karena lihatlah setiap kali aku ingin menuliskan beberapa hal tentang bacaanku aku malah bingung mau menulis yang mana. Tiba-tiba saja semuanya telah menguap. Tak berbekas.
Dan sekarang aku hanya selalu lagi dan lagi hanya menuliskan hal sama. 'mengeluh'
Benar saja mataku kian berat. Aku sudah tak tahan untuk tak meletakkan catatan ini. mengakhiri keluhanku dan segera membubuhkan tanda titik di ujung kalimatnya.
Meski dengan sisa kantuk aku ingin tetap berusaha mengingat janjiku walau telah jauh dari kata konsisten tapi setidaknya saat memulai kalimat pertama di catatan ini Aku harus menyelesaikannya hingga sekian kata. Aku tak pernah menghitungnya tapi di ujung catatan ini ada penghitung otomatis bahwa telah sekian karakter telah terekam. Dan angka yang bergerak naik cukup membuatku lega. Setidaknya malam sebelum aku terlelap aku telah berusaha kembali mengukir mimpiku.
Mimpi yang rasanya sangat gugup untuk kuungkapkan bahkan masih sangat malu jika mengatakannya.
Tapi di dalam catatan ini aku bisa dengan lega mengupayakannya. Biarlah kuukir ia dalan sunyi dan gelapnya malam .... Semoga dalam langkahnya yang terseok, cepat atau lambat ia akan menemu cahaya di ujung fajar.
Iya, aku akan selalu tidur dengan harapan itu. Bahwa sekian hajat kata bukan hanya tentang tidur yang nyenyak atau kelegaan akan rasa. Tapi lebih dari itu. Ia adalah tentang mengupayakan mimpi.
#Menulis
Komentar
Posting Komentar