Tentang Memaafkan___
Hidup ini memang benar-benar drama. Sebentar menangis sebentar senang, beberapa saat lalu marah sekali. Lapor ke polisi hingga banyak perhatian tertuju padanya. Eh hari ini sudah memaafkan semuanya. Mau bagaimana lagi.
Banyak penonton yang jengkel juga marah. Tapi ini bukan serial fiksi yang bisa diatur endingnya sesuai maunya penggemar. Ini kehidupan nyata, yang menjalaninyalah yang paling berhak seperti apa dia ingin mengakhiri drama yang sudah dibuatnya.
Saya bukanlah penggemarnya saya bahkan tidak pernah secara khusus menonton kejadiannya. Tapi ini terlalu ramai, beritanya kadang lewat dilinimasaku, sekelilingku membicarakannya, topiknya hangat dimana-mana.
Kasus KDRT, sudah sering sekali kita mendengarnya. Baik yang terjadi pada publik figur atau orang-orang biasa yang tak tersorot kehidupannya. Respon kita semua sama. Menolak keras tindakan demikian. Perempuan selalu menjadi korban dan pada akhirnya anak-anaklah yang menderita.
Kisah hari ini hampir sama dengan kejadian yang dialami oleh seseorang teman. Saya dan teman yang lain bahkan menemaninya ke kantor polisi, melaporkan kekerasan yang dialaminya termasuk saat mengajukan permohonan cerainya. Teman saya sudah tak tahan dengan perlakuan suaminya, kami semua menyaksikan luka-luka lebam bekas penganiayaan itu. Kami semua tentu sangat geram dan sepenuhnya mendukung tindakannya.
Tapi berjalannya waktu saat kami menunggu proses perceraian mereka. Kami malah mendengar mereka baikan kembali. Entah seperti apa prosesnya semua kejadian sebelumnya seolah terlupakan.
Kami hanya terhenyak dan sedikit emosi mengingat beberapa proses sebelumnya kami juga turut serta.
Tapi begitulah, alasannya tentang ke 4 anaknya, bagaimana nasib mereka. Lalu Rumah yang telah dibangun bersama sangat sayang untuk di tinggalkan. Akhirnya kami tak bisa ikut campur lagi dia sudah memutuskan.
Posisi perempuan selalu sesulit itu. Seperti buah si malakama. Untuk sesaat ia dengan lantang berteriak meninggalkannya tapi dikemudian hari menjadi menyesalinya. Anak-anak harus menyaksikan perpisahan, anak harus merasakan keluarga yang tak utuh.
Iya, selalu tentang alasan anak-anak. Demi menjaga keutuhan rumah tangga yang sudah dibangun bersama-sama. Itu tak mudah.
Salah satu dari sekian alasan kenapa perempuan memutuskan untuk menerima perlakuan kasar sekalipun. Memilih memaafkan.
Saya bukannya mendukung keputusan sang biduan, atau tidak terima dengan keinginan teman saya memaafkan kejadian sedih itu. Hanya saja kita memang tidak pernah tahu apa yang mereka telah alami sebenarnya. Pilihannya mencabut laporannya adalah haknya. Semoga saja kejadian yang menimpanya tidak terulang lagi. Pun suaminya tidak akan mengulangi lagi perbuatannya.
Setiap orang memiliki kesempatan untuk berubah menjadi lebih baik. Mungkin inilah titik balik bagi seorang yang hari ini hampir seluruh indonesia menghujatnya.
Kembali kita hanya harus menempatkan diri sebagai penonton bukan pemain. Kita boleh beropini tapi tetap menjaga adab dan etika. Menghujat dengan kata-kata kasar bukanlah jalan keluar dari permasalahan mereka.
Kejadian yang menimpa teman saya itu sudah berlalu bertahun-tahun. Kabar baiknya hingga hari keluarga mereka baik-baik saja tidak ada lagi drama. Anaknya sudah tumbuh besar.
Memaafkan memang selalu membawa kebaikan.
Alhamdulillah
BalasHapus