Kita dan Kata__
Kata-kata itu bukan hanya sekedar huruf-huruf kaku yang dingin tanpa makna. Ia bisa membuat tertawa, menginspirasi dan mengajak kita merenung.
Sebuah tulisan bahkan mampu menyakiti perasaan dan membuat terluka yang membacanya.
Status-status menohok di sosial media, tulisan itu entah ditujukan pada siapa seenaknya saja menulis kata-kata itu. Lupa bahwa sosial media adalah ruang publik yang semua orang membacanya dan siapapun bisa merasa tersinggung. Bahkan jika kita telah memahami baik-baik bahwa itu hanyalah sosial media 'jangan baper' Tapi tetap saja namanya perasaan itu sangat halus, seperti angin mudah sekali terbawa-bawa.
Begitulah kata-kata dia bahkan bisa lebih tajam dari belati. Tergantung bagaimana menggunakannya.
Tentang perasaan ....
Kita tak pernah bisa selalu menjaga baik-baik ia yang namanya perasaan. Bahkan untuk urusan perasaan ini kita memohon... Ya, Rabb, ya, Malik, ya Allah. Dalam surah An-Nas kita menyebut NamaNya tiga kali meminta perlindunganNya.
Dan kata-kata bisa mengobrak-abrik perasaan. Percayalah.
Saya selalu takjub dengan kalimat-kalimat indah para penulis .... Terkadang rela menghabiskan waktu demi menikmati seluruh rangkaian kata-katanya. Dari mana dia menemukan seluruh aksara indah itu, bagaimana dia merangkainya hingga begitu renyah di lidah bahkan mampu masuk dalam relung hati.
Luar biasa sekali yang namanya kata-kata, bukan.
Lalu untuk sejenak saya pun ingin merangkai kalimat-kalimat baik itu. Menyusun kata demi kata. Terkadang hanya untuk mengekspresikan diriku, menasihati hatiku yang kadang rak karuan. Sungguh aku berusaha agar fasih. Menulisnya serenyah Tere Liye, sedalam Leila s chudory, bahkan bermimpi sepuitis Ustadz Salim Fillah. Tapi itu memang tak mudah, kan. Iya, itu masih sebatas keinginan dan bermimpi itu tidak dilarang. Jikalau tulisanku masih begitu-begitu saja ya, begitulah, namanya keinginan tidak selalu sesuai ekspektasi.
Aku terus saja menulis kata-kata itu.
Hingga dari seluruh perjalanan meniru-niruku ini, aku belajar banyak hal. Menulis itu tidaklah harus persis sama dengan mereka. Kita harus memiliki corak dan warna sendiri dalam rangkaian kata-kata kita. Lebih sederhananya menjadi diri sendiri. Karena setiap pribadi adalah unik.
Meski tak sehebat para penulis keren itu tapi dapat merasakan keseruan bermain dengan kata-kata itu sudah luar biasa rasanya.
Merasakan menulis itu menyenangkan.
Menulis itu menjaga kewarasan.
Bahwa menulis itu adalah salah satu cara memositifkan diri. Melihat segala sesuatu dari sudut pandang terbaiknya.
Dan menulis itu adalah cara terbaik memahami diri sendiri.
#Menulis sajalah, kata-kata itu akan datang menghampiri, entah satu-satu atau rame-rame.
Komentar
Posting Komentar