Mudah Teralih. Itu hanya fokus, kan?


Sebuah pengalaman. Sedikit catatan dalam tulisan pendek ini. Semoga tetap bisa untuk menasihati diri. Mengurainya selalu tentang kelegaan rasa. 

Distraksi itu nyata adanya. 

Iya,  saya sedang menyimak materi yang disampaikan oleh narasumber. Lagi ada kegiatan. 

Satu dua menit saya fokus dengan tampilan slide, mendengar baik-baik setiap penjelasan dalam kalimat-kalimatnya. 

Beberapa menit kemudian beberapa hal mulai membuat perhatianku terbagi. 

Teman di sebelah meja yang menanyakan sesuatu, lalu malah berlanjut obrolan singkat. Meskipun hanya beberapa patah kata itupun dengan nada serendah mungkin. Hanya bisik-bisik. Astaga, kami bikin forum dalam forum. Itu melanggar etika, bukan? Itu satu.

Bahkan jika itu hanya pembicaraan sekejap, itu cukup membuat penjelasan pemateri berlari meninggalkanku. Beberapa kesempatan saya tetap berusaha mengejarnya. Ah,  tapi tetap saja kadang tertinggal, dan tidak mudah memahami materi yang sudah terlewat itu. 

Saat kembali serius. Entah kenapa malah teringat sisa kopi di rumah. Lalu terbersit tentang makan siang yang padahal masih lama. Snack yang disiapkan panitia tadi rasanya enak, hhhm dia pesan dimana, ya?Dan seterusnya dan seterusnya. 

Berbagai hal melintas dan hilir mudik di kapala,  membuat fikiranku tidak lagi pada materi di depan. Konsentrasiku terbagi. Itu sudah dua, tiga dan empat. 

Sesaat saya berusaha kembali fokus. Mencermati materi-materi itu. Huruf-huruf dalam tampilan slide sudah seperti rangkaian huruf-huruf yang saling berkejaran. Suara pemateri entah kenapa mulai seperti nyanyian. Ssst sekarang rasa kantuk yang mulai menyerang.  

Tidak lama kemudian getar di gadgetku mengabarkan notifikasi yang selalu membuat penasaran. Tahu, kan, akhirnya bagaimana. Layar pipih yang bersinar selalu punya magnetnya. 

Awalnya hanya mengecek Whatsapp. Ada chat yang harus segera di balas. WA grup sepertinya ramai,  padahal rencananya hanya mau mengintip. Apalah daya obrolan di sana sedang seru-serunya. Maka untuk beberapa saat malah tenggelam di sana. Setidaknya rasa kantuk yang hilang. Entahlah. Menghitung distraksi Itu sudah terlalu banyak. 

Materi sudah sampai dimana?  

Demikianlah ....

Bahkan untuk hal sederhana. Tujuan awal mengikuti suatu kegiatan agar bisa memahami banyak hal. Agar bisa menambah pengetahuan. Boleh jadi itu teramat penting dalam pelaksanaan tugas kita kedepannya. Menjadi tidak maksimal. 

Dan mungkin saja pemahaman yang bahkan hanya secuil itupun saat keluar dari ruangan juga akan menguap ke awan-awan. Tidak menyisakan lagi apa-apa. Distraksi itu tak bisa kita elakkan.

Distraksi. Saya berani meminjam istilah itu karena baru saja di timelineku kalimat yang pake kata itu memberikan penjelasannya. 

Distraksi yang berarti teralihkan dari fokus kita sebelumnya. Pada beberapa hal kata distraksi lebih tepat digunakan pada keadaan yang lebih luas, misalnya tentang tujuan hidup atau pada hal-hal yang berkaitan dengan mencapai mimpi-mimpi.

Tapi sepertinya tidak masalah memakainya dalam kondisi tadi. Agar lebih sederhana memahaminya.

Kabar baiknya selalu ada cara untuk meminimalisir semua distraksi itu. Pun hal demikian memang tak bisa kita hindari. 

Selain beberapa tips yang sudah sering kita lakukan, seperti membiasakan diri tidak mudah teralihkan oleh hal sepele, lalu menjauhkan gadget sebagai pengganggu paling berat, kita bisa mencatat point-point penting dalam materi. 

Aktivitas yang sejalan dengan tujuan awal akan membuat kita lebih fokus pada hal yang ingin kita capai. Yaitu 'Memahami' Menulis adalah cara kita mengikat ilmu pengetahuan itu.  

Semoga ini selalu menjadi pengingat. 

Bahkan saat ingin mengejar mimpi. Hal yang membuat kita teralih akan selalu ada. 
Kita hanya perlu terus belajar dan segera kembali menuju jalan ke arah mimpi itu.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pada Pagi yang Senyap__

Aku Suka Kopi

Mungkin Nanti__