Sejenak Dengan Buku___

"Virus Mama sudah menyebar," ujar si kakak remaja, sesaat setelah pemandangan sore  itu tercipta.

Pemandangan langka. Sebuah novel ditangannya, wajahnya fokus, tentu saja sangat serius, beberapa halaman telah terbuka. Dia tidak hanya membaca blurb atau sekedar membolak-balik sampulnya. 

Menit berlalu hingga genap beberapa jam dan dia masih belum beranjak. 

Bapak tidak pernah membaca novel sebelumnya__mungkin pernah saat remaja dulu 'serial Wiro Sableng 212'. Atau hikayat-hikayat yang kebetulan ada di rumahnya. Itu dulu, sekarang paling bacaanya surat kabar yang ia bawa dari sekolahnya atau media online di gadgetnya. 

Biasalah bapak-bapak, saat punya waktu luang pun dia memilih menghabiskannya untuk hobbynya. Membaca novel bukanlah kebiasaan bahkan boleh dibilang ia tak pernah menyukainya. Tapi hari ini sejak tadi, tiba-tiba ia begitu serius melahap novel itu ditangannya. 

Selain karena memang seru membaca novel serial aksi itu. Juga karena agar obrolannya nanti dengan anak mudanya akan nyambung. Iya, setelah membaca novel kami akan asyik membahas setiap karakter dalam cerita. Itu selalu seru. Menceritakan kembali kisah-kisah itu menjadikannya topik obrolan.

"Seru memang itu, Ma." Kali ini si anak muda ikut menyela. Melirik sejenak ke arah Bapak yang tetap bergeming digoda anak-anaknya. Ia pun sama asyiknya dengan bacaannya. Jadilah Bapak dan anak ini senyap dalam dunianya. 

"Iya, itu kalau sudah dibaca rasanya tak mau berhenti sampai ketemu endingnya," ujarku. 

Tawa kami sekali lagi tidak mengalihkannya. Sepertinya benar-benar serius. Mungkin dia sejenak tenggelam dalam semesta bacaannya. 

Membaca sebuah kisah itu seperti menarik kita dalam simfoninya. Menjadi tokoh utama dalam ceritanya merasakan ketegangan dan kesenangan persis seperti dalam kisahnya. 

Sejenak melupakan realitas hidup yang mungkin itu-itu saja. Ah,  itu hanya bagiku. Yang dirasakan anak-anak tentu jauh lebih seru lagi. Bahkan itu seolah bertualang dalam dunia baru, seperti refresing tanpa harus ke tempat wisata. 

Tapi yang lebih penting dari sebuah cerita adalah nilai yang tersampaikan yang ikut kita pahami dan resapi kebenarannya. Berharap bisa seidealis tokohnya atau minimal juga berusaha menjadi lebih baik. 

Itulah setiap saya membaca buku, saya selalu berdo'a semoga penulisnya dijaga hatinya selalu oleh Allah agar hanya menuliskan kebaikan dan hal bijak yang disampaikan dalam ceritanya bisa kami ambil pelajaran bukan hanya sebatas diketahui.

Apalagi jika novelnya tentang science fiction. Genre fiksi ilmiah. Beberapa hal meski hanyalah fantasi tapi tetap harus didukung fakta ilmiah. Beberapa penulis berhasil menghadirkan pengetahuan-pengetahuan tanpa harus membaca buku-buku beratnya. Merasakan keseruan sekaligus dapat hal-hal baru. Luar biasa, bukan. 

Dan selalu menyenangkan membahas buku-buku yang baru saja kami baca. Penasaran dengan endingnya, bagian paling serunya dimana, bahkan sibuk mengomentari karakter para tokoh dalam ceritanya. Hal itu pulalah yang kemudian membuat satu persatu dari kami memilih membaca setiap serial-serial novel itu datang. 

Ah,  apapun itu rumah menjadi senyap sejenak.

Kita semua tahu nasehat tentang literasi itu sangat banyak. Bahwa menumbuhkan kebiasaan membaca itu harus sejak dini dimulai dari rumah-rumah. Bukan hanya sebagai pengisi waktu luang tapi menjadi kebiasaan baik agar mereka tumbuh dengan pemahaman yang jauh lebih baik. Semoga.

Dan kebiasaan membaca itu butuh keteladanan. Terutama bagi anak-anak. Karena rasanya tidak mungkin menyuruh mereka menyukai buku, menjadikan membaca sebagai kebiasaan baik kalau sekelilingnya tidak terbangun kecintaan itu.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pada Pagi yang Senyap__

Aku Suka Kopi

Mungkin Nanti__