Suatu Sore

Saat melihat dari ketinggian sungguh yang nampak di bawah sana terlihat kecil. Makin sadar, kita hanya debu. 

Tempat ini adalah lantai delapan sebuah rumah sakit. Salah satu hikmah menjenguk orang yang sakit adalah kita makin menyadari kekuasaanNya. Betapa kesadaran  kian membisik dalam nurani, apalah diri ini. Nikmat sehat hari ini bahkan se sore ini mungkin belumlah lagi kita syukuri. 

Subhanallah Walhamdulillah. Apalagi yang bisa kami ucapkan saat menyadari bahwa kesehatan ini teramat mahal. 

Saat tubuh terbaring lemah dan tak ada daya untuk melakukan apapun, betapa sepanjang waktu saat sehat apakah telah kita tunaikan haknya. Haknya untuk bersimpuh pada RabbNya, mengadukan seluruh keluh kesahnya pun haknya untuk diperlakukan baik. Sungguh kita semua hanyalah saling dititipi, termasuk tubuh ini. Kaki untuk melangkah dan semua bagian tubuh lainnya hanyalah pinjaman kita pada pemilik sebenarNya. Allah SWT.

Sakit dan sehat.

Kita semua tahu tentang kisah Nabi Ayyub. Kurang cinta apa Allah pada nabinya ini. Dan betapa berat ujian sabar yang harus dilaluinya atas sakitnya ini. 

Beberapa di pilih Allah menjadi istimewa dengan ujian yang kita melihatnya seperti sangat menyedihkan tapi sungguh itu adalah jalan indah yang Allah bentangkan.  Seseorang itu hanya perlu sabar. Meski kesabaran itu teramat berat.

Namanya Ahkam. Dia ketua Forum Anak Butta Toa tahun sebelumnya. Kami datang menjenguknya di lantai 8 rumah sakit. Beberapa bulan lalu ia divonis kanker tulang. 

Kabarnya yang menghenyakkan beruntung datang darinya. Pertamakali saat harus tiba-tiba dirujuk ke Makassar padahal baru beberapa minggu lalu dia datang ke kantor dan kelihatan sangat sehat. Tidak ada tanda-tanda bahwa kanker ganas sedang menggerogoti badannya. Tepat di lututnya yang selama ini hanya dikira asam urat apalagi mengingat badannya yang berisi. 

Lalu kabar tentang kakinya yang harus di amputasi sebagai jalan satu-satunya untuk mengurangi rasa sakitnya yang kian hari makin hebat. Itu menambah daftar kesedihan kami. 

Subhanallah, anak itu sangat baik selama ini. Di rumah pun demikian. Ibunya merasakan kesedihan yang teramat dalam. Anaknya yang perhatian dan selalu membanggakan sang ibu, kini harus berbaring lemah meregang kesakitan ditambah lagi harus kehilangan kakinya. 

"Takutka, Bunda ...." Kalimat yang terucap dari bibirnya disela sesak nafasnya kali ini benar-benar telah meruntuhkan pertahanan semua yang datang menjenguknya. Vonis terakhir dari dokter, kanker sudah menyebar hingga ke paru-parunya. Itu membuatnya kesulitan bernafas. Rasa sakit sudah tak henti menyerangnya. Katanya obat pereda nyeri sudah level paling tinggi. Tipe heroin. Tapi itu tidak membantu banyak. Ia tetap merasakan sakit dan kesulitan bernafas tanpa jeda. 

Allahu Rabb. Sungguh Engkau Maha Pengasih dan Penyayang. 

"Sabarki', Nak." Hanya itu yang bisa kami ucapkan bibir kami kelu tak tahu harus berucap apalagi. Dia si anak baik, dipilih Allah untuk ujian seberat ini. Itu bukan sesuatu yang kebetulan. 

Allah Maha Tahu. Kami tetap dengan prasangka baik kami, bahwa apa yang Allah tetapkan untuk Nak Ahkam adalah yang terbaik. Kasih sayang Allah bukan hanya pada fisik yang sehat tapi bahkan pada tubuh yang mulai melemah itu tetap tentang cinta Allah padanya. 

#Do'a kami tak henti untuknya. 
#Semoga lekas sembuh. Kunfayakun. Apa yang tak mungkin bagiNya.

Komentar

  1. Balasan
    1. Dia sudah sembuh, tak lagi merasakan sakit. Dini hari tadi Allah telah memanggilNya. Innalillahi wainnailaihi rojiun 😢

      Hapus
  2. Balasan
    1. Innalillahi wainnailaihi rojiun

      Si anak baik itu telah pergi, kembali ke RabbNya. Dia tak sakit lagi sekarang.

      Semoga Ibunya dan seluruh kerabatnya diberi ketabahan. Tidak mudah menerima kenyataan bahwa anak yang berprestasi dan berbakti ini secepat itu dipanggil yang Maha Kuasa. Seorang teman yang setia kawan telah pergi lebih dahulu, padahal rasanya baru kemarin semua kenangan indah itu mereka ukir.

      Tapi demikianlah rahasia takdir, tidak ada yang bisa menebak kapan datangnya panggilan itu. Bukan karena sakit bukan sebab usia.

      Hapus
  3. Koreksi pada kata 'beruntung' harusnya 'beruntun' yang artinya berturut-turut. Ah, tahulah dialek bugis Makassar itu kadang suka kelebihan vitamin G 😃

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pada Pagi yang Senyap__

Aku Suka Kopi

Mungkin Nanti__