Apa Kabar Pildun?___

Beberapa hari ini saya luput dengan perkembangan piala dunia. Meski yang kumaksud dengan perkembangan disini hanyalah sekedar tahu siapa yang menang dan tim mana yang harus kecewa. Lalu yang sudah aman menuju 16 besar. Itu tetap ikut memeriahkan gempita piala dunia, bukan. 

Ngomong-ngomong Jepang jadi juara group loh, Spanyol harus legowo menjadi runner up.  

Ups, Jerman harus segera pulang. Tersingkir di babak group. Mereka sih tidak fokus menang. Negara Qatar sepertinya memang tak bisa menerimanya lama-lama. 

Tim Arab harus menerima nasib tak ikut ke babak selanjutnya. Juga tersingkir di babak group.

Begitulah, bola. 

Karena pada akhirnya saya lebih menyukai berita-berita yang menyejukkan sepanjang pagelaran itu di mulai.  

Qatar sebagai negara muslim telah menunjukkan kepada kita bagaimana menjadi muslim yang bangga dengan keislamannya. Ditengah persekusi dan tuduhan radikalisme pada sebahagian ulama kita yang sedang berusaha menegakkan syariat islam secara kaffah di negara Indonesia tercinta ini. Bahwa islam bukan hanya tentang persoalan ibadah kepada Allah tapi menyeluruh dalam tiap laku hidup kita dalam berbangsa dan bernegara. 

Pada piala dunia kita kembali teringat pesan Sayyidina Umar ... bahwasanya islam telah memuliakan kita maka tegakkanlah kepalamu. 

Bahwa menunjukkan kepada dunia bagaimana keindahan islam itu telah terang benderang disampaikan disana. 

Ada banyak time line yang membuat kita jadi tersenyum. 

Tentang tim Maroko yang serempak sujud syukur atas kemenanangannya. Mereka menjadi salah satu tim yang awalnya tidak diperhitungkan. Lalu booom, seperti biasanya kalau tidak masuk prediksi maka kemenangannya adalah kejutan. Semoga dia bisa melaju terus hingga ke babak delapan besar. 

Banyak kejutan dan berita menyenangkan. 

Mulai dari perhelatan pembukaannya yang menakjubkan. Untuk pertamakalinya piala dunia dibuka dengan lantunan ayat suci Alquran. Hal yang tidak biasanya karena mengingat acara bergensi ini banyak diikuti oleh negara-negara eropa yang  mayoritas non muslim.

Tentang kumandan azan yang mengalun merdu di sudut-sudut stadion. Panggilan untuk sholat ini harus menghentikan sejenak aktivitas yang sangat penting itu. Luar biasa. Bahwa sengaja dipilih muadzin yang bersuara merdu.

Beruntunglah mereka yang karena dengannya seseorang lalu mendapat hidayah keislaman. Dakwah islam bukanlah hanya tentang berdiri di mimbar-mimbar tapi juga tentang sikap dan perilaku yang orang diluar sana akan melihatnya. 

Setidaknya yang selama ini terpapar islamophobia terbuka matanya, dan melihat keindahan islam yang sebenarnya.

#PialaDunia


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pada Pagi yang Senyap__

Aku Suka Kopi

Mungkin Nanti__