Dalam Setiap Cerita dan Perjalanan___
Alhamdulillah, hari ini perjalanan yang memberi energi baru. Banyak hal seru, meski tetap terselip sedikit gerutu tapi tetap saja lebih banyak bagian yang menyenangkannya.
Setiap perjalanan selalu dengan ceritanya tersendiri.
Kita selalu bisa memilih.
Memilih menyimpan cerita baiknya dan membuang jauh-jauh yang tak enaknya. Karena porsi yang seru-seru itu selalu lebih banyak jika kita uraikan. Sementara yang tak menyenangkan yang ikut menyempil selalu hanya sepersekian dari cerita panjang itu.
Namun tetap saja terkadang itulah yang dibesar-besarkan, dibahas tanpa henti seolah hal baik tidak ada lagi.
"Yang seru-serumi kita cerita," Dia seorang yang baik hati. Menegur dengan halus karena tak mungkin melarang kami yang bukan lagi anak kecil untuk dinasihati ini salah dan benar. Caranya sudah sangat tepat dengan mengingatkan kami saja.
Saat itu kami sedang asyik mengobrol, mengeluhkan berbagai hal, begini dan begitu, saling menyela, ramai sekali. Sayangnya itu juga tentang seseorang. Ini jadinya menceritakan keburukan orang lain. Padahal kita semua tahu membicarakan hal benar sekalipun itu tetap gibah namanya hukumnya sangat jelas. Belum lagi jika itu tidak benar bisa jadi menjadi fitnah.
Naudzubillah min dzalik. Dosanya teramat berat tapi kadang tetap saja kami lakukan.
Entahlah, kenapa kami tak juga kapok.
Bahkan setelah menonton video ilustrasi saat seseorang baru saja menggibah saudaranya dalam waktu yang bersamaan dia sedang mengunyah daging, dimulutnya keluar darah dan bau tak sedap sehingga orang yang berada di sampingnya tak tahan berlama-lama di dekatnya. Dia sedang memakan daging saudaranya. Sangat menjijikkan.
Besoknya dan besoknya, tetap saja terjebak dengan pembicaraan yang selalu hangat itu.
Bahkan menjadi istilah 'itumi serunya kumpul-kumpul' artinya baru akan terasa keseruan sebuah acara, ketika bertemu, atau kumpul-kumpul kalau dibumbui dengan cerita-cerita yang menjurus ke gibah ini.
Entahlah....
Semestinya ini menjadi horor. Bagaimana tidak, coba bayangkan, saat baru saja mendekat dan ingin menyambung keseruan pembicaraan yang sedang hangat-hangatnya, tiba-tiba ilustrasi memakan daging saudara itu terlintas. Kalimat yang baru saja ingin keluar dari mulut boleh jadi akan tersumpal di tenggorokan lalu akan berganti dengan rasa mual. Seharusnya hal yang bisa kita lakukan hanyalah dengan buru-buru menjauh saja atau diam itu lebih baik. Dan lebih bagus lagi kalau mencegah orang lain untuk melanjutkan hal yang tidak patut ini.
Kita tak akan pernah rela menyerahkan seluruh pahala yang setengah mati kita kumpulkan, itu kalau amalnya banyak. Jika tak seberapa? Boleh jadi kita harus menanggung dosa dari tiap-tiap mereka yang telah kita bicarakan keburukannya. Allahu, Rabb.
Belum lagi jika itu memang tak menyenangkan untuk diceritakan, bikin kesel, dan malah membuat sakit hati jika mengingatnya.
Lalu untuk apa menghabiskan energi menceritakannya kembali, bukan? Itu bukanlah kenangan indah yang akan menyenangkan untuk diurai ulang seolah bernostalgia.
Jadi sudahlah ....
Komentar
Posting Komentar