Diantara Sayap-sayap Patah dan Drama Realita___
Tulisan ini sebenarnya sejak tahun lalu, di sudut catatan tertulis 4 september 2022. Tidak tahu kenapa tak selesai, tapi sebenarnya tidak mengherankan ada banyak tulisanku yang seperti ini. Beberapa paragraf terpotong, kalimatnya menggantung. Entah ragu atau saat itu tak menemukan kata yang tepat setelahnya.
Kita sering menyebutnya 'stuck' atau lebih keren lagi 'writer's block' dimana penulis tidak tahu apa yang ingin ditulis. Itu wajar dialami penulis apalagi penulis pemula. Terhenti, macet, tak ada ide lagi untuk melanjutkannya. Penyebabnya bisa bermacam-macam, selain tak memahami dengan baik apa yang sedang dituliskan, juga bisa jadi karena jenuh dan lelah. Itulah kenapa mood yang baik diperlukan dalam proses menulis, pun saat jenuh atau lelah seharusnya berhenti sejenak dulu. Mengambil jeda. Tapi itu tidak boleh terlalu lama .... Istirahat yang berlebihan malah akan membuat semangat kian menguap. Demikianlah nasehat yang sering disampaikan, dan akupun masih belajar.
Mengurai ulang apa yang pernah di tulis itu kadang menyenangkan.
Dan aku menemukan catatan ini sesaat setelah ending dari drama saat september lalu itu di buat, sedang hangat-hangatnya. Iya, hari ini sedang ramai dengan hasil sidang tuntutan untuk para pembuat skenario pembunuhan itu di umumkan. Bayangkan, mereka yang merencanakan sebuah pembunuhan lalu membuat skenario lagi untuk menutupi kejahatannya.... Itu jahat sekali, rasanya novel fiksi genre ini akan kalah dengan cerita hari ini. Atau dalam cerita detektif menjadi episode yang paling seru.
Dan kita semua menunggu seperti apa hasil putusannya. Berharap hukuman untuk mereka bisa setimpal.
Ah, sudahlah. Aku ingin bernostalgia dengan beberapa paragraf ini ....
Film sayap-sayap patah sedang tayang sekarang, kisah tentang polisi jujur. Waktu yang pas katanya, di tengah realita yang sungguh penuh drama. Bahwa tidak semua yang berseragam itu sejahat dia. Iya, dia.
Iya kita ditampar oleh banyaknya fakta, bahwa banyak dari mereka yang tugasnya mengayom justru mengancam, seharusnya menjaga namun menjagal, melindungi tapi merundung. Tapi katanya itu hanya oknum.
Entahlah selama ini ada yang selalu bersembunyi dari balik kata oknum. Setiap ada kesalahan oknumlah yang bersalah. Bukankah ini sudah terlalu sering.
Kenyataan hari ini sudah benar-benar memukul rasa percaya kita. Hingga rasanya keyakinan pada mereka sedang di ujung batasnya.
Dia, yang namanya tiba-tiba menjadi sebuah simbol kejahatan. Menyebut namanya sama dengan mengidentikkannya dengan tipu-tipu, mafia, pembunuh, hingga perilaku-perilaku buruk lainnya.
Dramanya telah berapa seri, rapi sekali rencana kejahatan itu disusun. Entah seperti apa skenarionya. Kepercayaan kita rasanya kian tercerabut dengan berbagai fakta yang bermunculan.
Itulah kenyataan hari ini....
Dan film Sayap-Sayap Patah yang diangkat dari kisah nyata membuat harapan kita tak boleh mati bahwa akan selalu ada orang-orang yang baik dan jujur di negeri ini. Seperti Aji dalam cerita film itu.
Meskipun Aji hanyalah tokoh fiksi dalam cerita Sayap-Sayap Patah ini, yang digambarkan sebagai seorang yang sederhana, berdedikasi dalam tugasnya, jujur, sepenuh hati mengayomi dan melindungi warga. Tapi ada banyak Aji Aji nyata yang spesifikasinya sama seperti disebutkan tadi. Yang tak menerima uang dengan alasan menilang ketidaklengkapan surat-surat kendaraan bermotor. Karena itu sama dengan menyogok. Mereka menjaga dirinya dari perkara itu, mengingat saat mendaftar masuk dalam institusi bermartabat ini. Prosesnya dilakukan dengan jujur, tanpa uang-uang sekian itu. Yang kalau menyebutnya itu membuat kita tercengang. Tidak. Jadi percayalah. Ada banyak Aji... Yang hidup sederhana tidak memakai kaos burberry dan istrinya menenteng tas hermes. Percayalah.
Selalu ada kebenaran meski dunia ini adalah panggung sandiwara.
#4 September 2022
Komentar
Posting Komentar