Sebelum Rindu itu Datang___

Meski kadang panas, dan terik matahari seolah memanggang. Tapi bagian menyenangkannya jauh lebih banyak. 

Mengantar dan menjemput itu bukan hanya tentang waktunya telah tiba dan kewajiban itu harus tunai ....

"Kasihan, Mama, panas-panas. Bolak balik antar jemput azkiya," ucapnya saat perjalanan pulang menjemputnya. 

"Mama, senangji," ujarku sambil mengelus lengannya yang kian erat di perutku.

Motor sedang melaju pelan, tangannya melingkar di pinggangku. Suara celotehnya kadang tenggelam oleh bising lalu lalang kendaraan di jalan raya. Saya tidak tiap hari menjemputnya, terkadang Bapaknya. Tergantung siapa yang sedang lowong. Tapi lebih sering Bapaknya. 

Dia bilang begitu karena keadaan tertentu memang harus bolak-balik. Setelah pulang sekolah saya harus mengantarnya lagi ke tempat mengajinya, selang beberapa saat waktunya untuk menjemput kakaknya yang SMP. Tidak menunggu lama waktu untuk menjemputnya akan tiba. Dan kami juga seolah berburu dengan waktu untuk segera tiba di kantor kembali. Dia sangat memahami rute bolak-balik itu. 

Lalu seringnya dia mendengar celutukan, "repotnya itu ...." Beberapa orang melihatnya sebagai suatu hal yang merepotkan, "kenapa tak pakai jasa gojek saja," lanjutnya lagi. Entahlah, padahal bagi kami ini wajar saja. 

Begitulah.... 

Suatu hari kami lupa menjemputnya karena ada beberapa urusan di kantor .... Hingga harus diantar pulang oleh Ustadznya. Sejak saat itu dia tak henti mengingatkan pukul berapa harus menjemputnya dengan detail jam dan menitnya setiap kali mengantarnya. Bahkan tambahan penekanan 'tepat waktu!'

Terlepas dari beberapa drama itu. Mengantar dan menjemput anak-anak selalu menjadi moment menyenangkan. 

Merasakan lengan kecilnya melingkar di pinggangku. 

Melihat langsung mimik senang di wajahnya saat menceritakan betapa hari ini sangat seru di sekolah. Pun muka cemberutnya kalau di kelas tadi hanya satu kali istirahat hingga dia tak sempat memakan bekalnya, atau ada temannya yang tetiba iseng menjahilinya, wajahnya lemas. 

Mendengar celotehnya beradu dengan suara motor dan kendaraan berseliweran itu. Dia selalu tak sabar untuk menunggu menceritakan semuanya.

Kita boleh tidak memilih repot-repot. Ada yang bersedia menggantikan tugas sederhana ini .... Tapi tahukah, bagi kami yang harus bekerja, pergi pagi pulang sore, moment izin untuk menjemput anak-anak itu seperti hadiah. Hadiah kesempatan untuk bersua dengan wajah-wajah polos mereka. Hadiah kesempatan untuk membuat kenangan manis dalam benak mereka. Kenangan yang akan membuat mereka memiliki pemahaman yang jauh lebih baik tentang hidup ini. 

Selain itu.... 

Saat telah dewasa nanti, kami akan merindukan masa-masa ini. 

Rindu itu akan menunggu sekian lama. 

Maka sebelum rindu itu datang maka izinkan kami menghabiskan sisa waktu itu.  

Hanya beberapa tahun ....

Iya, beberapa tahun lagi bahkan jika kita menginginkan saat-saat seperti itu tak akan pernah ada lagi. Karena beberapa tahun lagi ia telah tumbuh besar tak lagi banyak tergantung pada kita. Tak lagi harus diantar dan dijemput, dia pulang dan pergi dengan kendaraannya sendiri. Dan kita tidak akan menikmati celotehnya lagi seperti sekarang.

Jadi apakah ini teramat merepotkan?

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pada Pagi yang Senyap__

Aku Suka Kopi

Mungkin Nanti__