Menyiasati Kasih-Sayang__


Katanya kisah teladan adalah sebuah nasehat yang sangat lembut .... 

"Pernahki' baca kisahnya julaibib?" tanyaku suatu sore pada anak mudaku. Kami sering memanggilnya demikian meski usianya baru 10 tahun. 

Kami sedang duduk menikmati senja sambil mengobrol maksudnya. Tapi nyatanya perhatiannya lebih banyak pada si layar pipih bersinar ditangannya. Entah game apa kali ini yang sedang dimainkannya. Bahkan suatu waktu ia begitu asyik dengan HPnya tanpa memedulikan sekelilingnya. Seolah keseruan di sana lebih menarik dari apapun.

Saya sedang memegang buku,  berharap dia mau membacanya juga. 

Ayolah, mereka anak-anak, saat disuruh memilih buku atau gadget. Mereka tentu saja lebih menyukai game di gadgetnya. Itu manusiawi. Artinya mereka normal. Kita pun kurang lebih sama. Hanya saja sudah tugas kita untuk mengontrol. Baik durasinya. Maupun konten apa saja yang dilihat di HPnya.  Karena tidak memberikannya sama sekali juga rasanya tidak adil. Mereka berada di zamannya. Dengan seluruh teknologi informasi berada dalam genggaman. Siapa yang menguasainya merekalah menjadi pemenang, katanya. Tidak mengapa saat ini mereka adalah konsumen, penikmat sajian konten-konten berkualitas. Dan bukan tidak mungkin, besok lusa mereka menjadi pemeran utama pembuat hal-hal menarik itu.  Dan tugas kitalah yang mengontrol agar seimbang. 

Kepalanya hanya menggeleng.

"Tahu tidak, julaibib ini memang dianggap ada dan tiada oleh para sahabat kala itu. Hingga di akhir hidupnya tidak ada yang menyadari atau kehilangan atas kematiannya."

"Haaa?  Ada dan tiada, kek hantu dong, Mak."  Ia tergelak, "kenapa bisa?" Kalimat ini yang kutunggu. Rasa penasarannya akan menuntunnya mencari tahu. Tinggal bilang kisahnya sebagian ada dibuku ini halaman sekian. Dan dia akan membacanya sendiri. Meski terkadang mendesaknya untuk ikut membacanya,  tapi saat nanti setelah menyusuri kisahnya dia mulai larut dan menyukainya. 

Namun saat ini saya sedang bersemangat bercerita. Sekalian menuntaskan dua puluh ribu hajat kata. Menurut penelitian jika tidak tuntas maka akan berpengaruh pada kualitas tidur. Setidaknya setelah ini tidur malamku akan nyenyak. 

Biasanya jika berkisah tentang para sahabat Rasulullah saya jarang menyelesaikannya, biasanya diakhiri  'bacamaq sendiri, ada di sini dan di sini' dengan semangat menunjukkan halaman di bukunya. 

Selain memang karena saya tak pandai bercerita. 

Terkadang rasa sesak dan haru terlebih dahulu menggedor-gedor dadaku. Ceritanya menggantung kemudian. Suaraku bergetar, kaca-kaca dipelupuk mataku akan pecah berhamburan. Selanjutnya suaraku hilang tidak bisa lagi melanjutkannya.

Kali ini entah di bagian mana saya akan terhenti.

Saat Rasululullah dengan sendu mengucapkan. "Tapi aku kehilangan Julaibib." Dan para Sahabat terhenyak.  

Ddduh apalagi saat dimandikan khusus oleh Rasululullah, dan ucapan Rasululullah lagi tentang Julaibib "Julaibib adalah bagian dari diriku, Dan diriku adalah bagian dari dirinya." MasyaAllah. 

Rasa di dada sudah membuncah.

Setelah beberapa menit berlalu. Kenyataanya, ia tetap bergeming setelah kukisahkan sepotong cerita julaibib ini. Matanya kembali fokus pada layar gadgetnya.

"Sayang.... " kali ini suaraku merdu memanggilnya. 

Sunyi.

"Sayang!" Suaraku naik sekian oktaf, "aduh, Mama, lagi semangat ini mau cerita. Ndak mauki' dengarkah?" Walupun volume sedikit naik tapi tetap dengan nada yang indah, ya. Katanya anak laki-laki memang begitu saat sedang menatap layar HandPhone. Dia perlu tiga kali panggilan untuk bisa mengalihkannya. 

Kita tidak boleh langsung mengambil kesimpulan bahwa mereka sudah kecanduan gadget, atau mulai tidak 'mendengar' karena telah dipanggil berulang kali, tapi tak juga menyahut. Ini hanyalah bagian dari cara kerja otaknya. Bahwa anak laki-laki saat berkonsentrasi pada hal tertentu maka dia akan sangat fokus sehingga tak mendengar dan peduli pada hal lain lagi. Mereka selalu butuh waktu untuk mengalihkan fokus. 

Jadi dengan mengetahui bahwa memang demikian responnya saat sedang fokus terhadap sesuatu. Kita tidak perlu ngegass atau dengan marah menanggapinya. 

Dulu saat belum ada gadget juga demikian saat mereka bermain itu konsentrasinya dan fokusnya hanya pada satu titik itu yaitu permainannya. 

"Iye', Mama." 

Tuh, kan. Dia hanya mendengar panggilan terakhir kita. Jadi kita hanya perlu mengulang kalimat terakhir tetap dengan nada yang indah.

"Iye, Iye cerita maq pale." Nadanya pasrah kali ini sambil meletakkan HPnya. Dia tak punya pilihan selain menuruti keinginanku. 

"Ok, Mama lanjut ....

Iya,  keberadaannya kadang tidak terlalu diperhatikan oleh para sahabat. Tapi tidak dengan Rasululullah. Rasulullah sampai berapa kali menanyakan kepada para sahabat sesaat setelah peperangan telah usai.

"Apakah kalian kehilangan seseorang?"

"Tidak ada, ya, Rosulullah"

Rasulullah bertanya hingga duakali dan dijawab sama para sahabat. 

"Tapi aku kehilangan julaibib. ucap Rasululullah dengan sendu. Para sahabat barulah menyadari, mereka lalu menyebar mencari jasad julaibib. Julaibib syahid.

"Hanya itu?" tanyanya saat kalimatku terhenti  beberapa lama. Tentu saja saya sedang menyusun kalimat-kalimat berikutnya berusaha mengingat potongan-potongan kisah itu. 

"Ini justru scene akhir dari cerita julaibib, Nak." jawabku kemudian. 

Iya, ini membuat kita bertanya siapa julaibib sehingga Rasululllah mencintainya.

"Iye, ceritamaq pale dari awal... " ujarnya kembali. 

Sebenarnya, sekali lagi saya tak pandai bercerita. Jadi wajar jika kisahnya lompat-lompat, malah seperti potongan puzzle. Untung anak-anakku cukup sabar menungguku untuk kembali mengingat, atau sekedar mengulangnya beberapakali kali karena cerita yang harusnya diakhir malah diangkat terlalu cepat. 

Tidak mengapa, bagiku ini tetap sebuah usaha. 

Berusaha menceritakan hal-hal baik dan kisah hebat manusia-manusia terbaik itu. Tidak mengapa tak sempurna, setidaknya kita memberinya kail untuk lebih banyak mencari tahu.

Sejarah adalah hal luar biasa yang harus mereka telusuri. Pada setiap kisah tersebut, mereka dan juga kita sangat bisa belajar. Bahwa keberhasilan, kemenangan dan kesuksesan orang terdahulu selalu punya syarat. Pun keruntuhan dan kejatuhan orang yang zalim selalu punya sebab. Untuk tahu syarat dan sebab itu kuncinya adalah membaca sejarah mereka.

Beruntung saya baru saja membaca ulang kisah julaibib ini di Buku Ustads Salim Fillah, pada bagian 'Ketika Taat Dia Tak Merisaukan  Kemampuan' sepenggal kisahnya sebenarnya membahas bagaimana seorang wanita yang ikhlas menerima permintaan Rasululullah sebagai takdir baiknya. Karena ia menyakini ketetapan Allah dan RasulNya adalah kebaikan. 

Putri salah seorang pemimpin kaum anshor terpandang  yang kedua orangtuanya bahkan diliputi keraguan untuk menerima julaibib sebagai menantu.

Secara manusiawi begitu sulit untuk menerima, namun ketaatan pada Allah dan RasulNya membuatnya menjadi mudah.

Maka sore itu mengalirlah cerita tentang salah satu sahabat Rasulullah ini. 

Saya menarik nafas panjang, setelah menjedanya beberapa menit. Wajahnya  takzim mendengarkan. 

Kita semua tahu seperti apa kisah ini. Bahwa kepada siapapun jika Allah menghendaki kebaikan untuknya, maka tidak ada yang bisa menghalanginya. 

Seorang julaibib yang buruk rupa tapi ketaatannya menjadikannya mulia.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pada Pagi yang Senyap__

Aku Suka Kopi

Mungkin Nanti__