Jika ____

Sebuah Catatan. 

Saya sepertinya gabut. Meminjam istilah sekarang saat tidak tahu harus melakukan apa. Meski sebenarnya bukanlah benar-benar sebingung itu.  

Ini seperti hiatus.... dalam hitungan jam.

Saya selalu berharap, saat tak mengerjakan apa-apa, dan tak bisa melakukan apapun selain hanya duduk, dan sesekali memerhatikan sekitar. Sesekali kembali memanjatkan do'a dan seharusnya hanya perlu membenak mengingat kebaikannya pun saat berbicara dengan orang lain hanya boleh membicarakan tentang kebaikan saja.  Berharap setelahnya saya hanya perlu menulis di catatan ini.  

Seharusnya apa saja. Agar setiap keadaan setidaknya bermanfaat. 

Tapi lebih seringnya malah tak bisa menuliskan apa-apa meski benakku telah riuh oleh suara-suara.

Ayolah,  bahkan kalimat-kalimat yang sudah terangkai di awal catatan ini, itu juga sebuah tulisan, bukan. Paragraf-paragraf yang memberi kabar, bait-bait yang bercerita, dan seluruh huruf-huruf yang mewakili rasa. 

Baiklah, saya sedang menulis sekarang. Sesekali menjedanya, menyapa kawan yang baru saja datang. Lalu melanjutkannya kembali. 

Rasanya beruntung memiliki ruang ini. Seperti tempat persembunyian saat berada di keramaian. Jangan khawatir ini tidak selalu terjadi. 

Itu jika saya hanya duduk-duduk. 

Meski saya bukan sedang duduk-duduk saja disini. Di kursi plastik, dibawah tenda biru. Bendera putih terpasang di ujung jalan. Kalian bisa menduga, kalau saya sedang melayat. Kakak dari teman kantor lamaku meninggal tadi malam. Rumahnya juga tidak terlalu jauh dari lorong tempatku tinggal. Itu seperti tetangga jauh juga. 

Sudah menjadi kewajiban sebagai sesama muslim untuk saling mendoakan dan turut berbelasungkawa atas duka yang dialaminya.

Sudah berlalu satu jam lebih sejak saya duduk di bawah tenda ini. Sebelumnya saya sempat di dalam rumah setelah yang datang melayat kian banyak beberapa bergeser ke tenda yang sudah disiapkan di halaman. 

Satu dua, setelah basa-basi menyapa. Saya kembali hanya duduk, sesekali membuka catatan ini. Mengecek whatsapp dan pesan yang masuk di sana. Selain menscroll Whatsapp group, saya tidak membuka aplikasi yang lain. 

Karena tidak terlalu mengenal yang duduk di kiri kananku. Jadinya setelah menyapa basa basi. Kembali bingung mau apa lagi. Menunggu waktu. 

Beberapa menit berlalu. Mereka asyik dengan obrolannya. Sepertinya mengenal baik almarhumah. Saat terakhir masih hidupnya, katanya lebih banyak diam, dan mulai malas makan, bahkan sempat berucap, "sepertinya saya sudah tidak lama lagi akan mati...." 

Sungguh kematian selalu menjadi misteri. Kapan datangnya dan seperti apa kita akan menemuinya selalu menjadi hal yang tak terduga. 

Matahari kian naik, suasana kian ramai ditambah lalu lalang kendaraan yang hanya beberapa meter di depan, membuat cuaca makin terasa gerah. Benakku dipenuhi bermacam-macam suara. 

Termasuk saat beberapa pelayat yang datang dengan pakaian hitam dengan hiasan payet yang sepertinya terlalu gemerlap untuk suasana berduka seperti sekarang. 

Bahkan jika hitam itu melambangkan duka. 

Dan bukankah dalam agama kita tidak ada aturan khusus mengenai warna pakaian yang harus dipakai. Sepanjang itu layak dan tidak menarik perhatian rasanya itu pantas-pantas saja.  Tidak harus hitam 

Malah jika mengharuskan pakaian hitam itu jadinya meniru kebisaan agama tertentu. Sementara Rasulullah selalu memerintahkan kita untuk menyelisihnya.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pada Pagi yang Senyap__

Aku Suka Kopi

Mungkin Nanti__