Menulis 'rasa' ___
Tidakkah kau menganggap ini mendesak?
Seseorang yang serius bertanya karena khawatir. Seorang yang hatinya sesak karena kecewa boleh jadi mendoakanmu ... tidakkah dia ingin doa yang baik itu.
Lalu kenapa tega sekali .... Seolah perasaan orang lain hanyalah mainan yang menyenangkan memainkannya. Lupa bahwa sebuah hati amatlah halus mungkin saja kau telah menggoresnya disana-sini, melukainya hingga berdarah-darah.
Kau mau bilang kami masih teramat muda....
Ah, umur tidak membuatmu bisa seenaknya. Memaklumi usia belia yang tak banyak tahu.
Hei, soal akhlak kepada orang yang lebih tua bahkan sudah diajarkan sejak TK, bahkan sebelum sekolah telah berusaha ditanamkam. Anak SD malah lebih mengerti soal ini.
Seharusnya kau ingat generasi terbaik dulu Usia 17 tahun telah diamanahi memimpin pasukan. Itu bukan main-main .... Pasukan itu hendak mempertaruhkan hidup dan mati. Yang tidak sama dengan pasukan takut lapar seperti istilah kebanyakan saat kumpul-kumpul.
Ataupun sebuah kerja kelompok lalu ada satu orang yang diamanahi sebagai pemimpin. Itu sama sekali berbeda. Sengaja bilang ini meski perbandingannya teramat jauh bahkan tak pantas untuk dijadikan perbandingan tapi saya tahu seperti apa benaknya jika diberikan contoh. Kepalanya akan penuh dengan kesangsian.... Lalu dengan santai berucap, 'ituji lagi ...." Naudzubillah.
Semoga hanyalah prasangka burukku karena sangat jengkel dan rasanya marah atas sikap tak menyenangkan itu.
Oh, ya. Tentang sejarah tadi....
Saya sengaja memakai kata 'ingat' karena rasanya sejarah dan hikmah-hikmah seperti itu telah berulang kali dia pelajari. Di sekolah-sekolah, ceramah-ceramah ustadz. Kecuali mereka hanya kembali bermain-main setiap kali pelajaran tentang akhlak dan bagaimana generasi terbaik dahulu mencontohkannya.
Ini tentang apa? Kenapa bawa-bawa kisah sampai akhlak? Mungkin ada yang bertanya-tanya. Anggap saja ini menulis ekspresif.... Entahlah apakah telah sesuai kaidahnya?
Untuk sejenak catatan ini selalu menjadi ruang nyaman untuk setiap cerita.
Hatiku masih perih rasanya dengan chat whatsapp yang tak berbalas. Panggilan telfon yang direject padahal baru saja tertulis online di ruang mayanya.... Bahkan saat dia sedang mengetik saya buru-buru menelfonnya. Tapi lagi-lagi saya hanya diabaikan.
Jadilah saya menuliskan setumpuk kekesalan ini.
Catatan ini semoga menjadi pelajaran .... Setidaknya amarahku tidak meluap memenuhi ruang chatnya.
Setidaknya seseorang nanti siapapun untuk tidak main-main dengan pertanyaan bahkan itu hanya sebuah chat. Apapun itu setiap tanya hanya perlu jawaban bahkan balasan chat 'tidak tahu' tetaplah sebuah jawaban.
Setidaknya saya belajar bahwa sikap itu bermacam rupa .... Terkadang teramat menyebalkan hingga menguji batas sabar. Bahwa kemarahan, terkadang hanya perlu diberikan ruang yang aman serupa kotak yang kedap hingga tak meluber kemana-mana.
Karena... Boleh jadi itu hanya persepsi semata. Duga tak berdasar. Bahkan mungkin saja orang yang dimaksud diseberang sana yang dari tadi riuh disebut dalam catatan ini dengan kata ganti yang betul-betul berganti, 'dia' atau 'kau' sama sekali tak tahu apa-apa, tak tahu menjawab chat whatsapp dengan baik, bahkan mungkin sedang sibuk hingga tak sempat menanggapi panggilan pentingku.
Bahkan mungkin seseorang itu memang tak ingin bicara, malas membalas chat. Dan saya tidak punya hak untuk memaksa.
Jadi sudahlah.....
Ini telah selesai dan hatiku rasanya jauh lebih tenang. Karena sikap orang lain bukanlah kendaliku, karena seseorang itu juga bukanlah siapa-siapa untuk membuatku bersikap sama buruknya.
Komentar
Posting Komentar