Bukan, Salah Memahami__
Gara-gara ada yang bilang, 'Bulan ini puasa hanya 9 hari' bocahku mengira sabtu nanti tepat satu april sudah tak puasa. Dipikirnya puasa libur beberapa hari. Dia sudah sangat senang, membayangkan setelah 9 hari ia tak puasa.
Pembahasan ini menjadi panjang. Saya harus berapakali mengulang, memahamkannya, Puasa bulan Ramadhan yang sebulan penuh. Pada bulan maret kenanya 9 hari selebihnya di bulan april.
"Lalu kenapa orang bilang begitu, Ma!"
"Hehehe, entahlah, Nak."
"Apa maksudnya puasa hanya 9 hari, 9 hari." Mulutnya moyong mengulang-ulang. Dia masih kesal.
Bahkan hingga beduk ia masih sesekali mempermasalahkan pernyataan itu.
"Itu tidak ada gunanya," ucapnya lagi.
"Terkadang itu hanya untuk lucu-lucuan, Nak. Bahwa yang dia bilang sebenarnya betul kalau di bulan maret kita puasa hanya sembilan hari," ujarku
"Itu tidak harus dibilang, Ma. Semua orang tau kalau begitu."
Umurnya sebentar lagi sembilan tahun, pernyataan yang sebenarnya benar tapi mengandung kesalahan, belum bisa dipahaminya. Kalau di dunia ini ada bahasa-bahasa yang jika tak teliti baik-baik kita akan mempercayainya bahkan menelannya mentah-mentah.
Narasi yang tidak lengkap, terkadang menggiring kita memahami salah sesuatu. Terkadang tujuannya memang demikian, agar kita salah paham. Seperti yang dipermasalahkan bocahku. Pernyataan itu menjadi seolah-olah kita hanya akan puasa sembilan hari.
Ah, namanya anak-anak. Belum lagi kalau ketemu bahasa satire atau sarkasme. Terdengar memuji tapi sebenarnya sedang mengejek.
Saya pernah membaca ulasan seorang psikolog, katanya, pada dasarnya kita bukanlah penerjemah informasi yang baik. Beberapa hal terkadang kita sampaikan A tapi penerimaan orang menjadi B. Bahkan jika kita benar-benar menyampaikannya dengan detail masih tetap ada beberapa yang tak dipahami.
Misalnya saat kita telah benar-benar mencurahkan segala isi hati, kita mengerti bagaimana perasaannya, lalu kita akan mengatakan 'aku memahami perasaanmu' tapi pada dasarnya kita tak pernah benar-benar bisa merasakan apa yang dia sampaikan.
Katanya lagi, itulah kenapa selalu ada ruang kosong di hati kita. Ruang yang tak pernah benar-benar dipahami orang lain bahkan diri sendiri.
Berbicara pada keluarga atau orang-orang yang kita cintai, dan mendekatkan diri pada Yang Maha Kuasa akan mengurangi ruang kosong itu. Agar tak meluas memenuhi hati.
#Cerita Ramadhan
Komentar
Posting Komentar