Mengantar___

Sebuah kegembiraan itu bukanlah hanya tentang mendapatkan sesuatu, keinginan terwujud, atau beberapa hal karena materi. 

Hari ini saya menyaksikan bahwa rasa senang itu bahkan jika melihat orang lain bahagia. Iya, ini tentang perpisahan, melepas sanak keluarga, pergi untuk beberapa waktu. Meski hanya sebentar itu tetap sebuah perpisahan. 

Sebagaimana seharusnya perpisahan, itu banyak bagiannya tentang sesak tapi berbeda dengan moment melepas kepergian yang ini. Itu selalu penuh suka cita. Bahkan jika itu orang lain sekalipun. Tetap saja rasa bahagia selalu membuncah, dengan penuh rasa syukur berharap suatu hari nanti juga diberikan kesempatan yang sama. Karena ini selalu tentang rezekiNya. Sebab memiliki segalanya belumlah jaminan akan dimampukan untuk ikut merasakan berangkat ke Tanah SuciNya. 

Semua berharap mendapat undangan itu. Untuk ikut berangkat. Dilepas sanak keluarga ... pergi dengan senyum kebahagiaan dari semua orang yang ikut mengantar. 

Iya, mengantar para tamu Allah ke Baitullah adalah sebuah kebahagiaan yang tak terlukiskan. 

Kalau dipikir-pikir, padahal bukan kita yang berangkat tapi ikut senang rasanya. Tidak peduli jika harus berlelah-lelah, tidak tidur semalaman dan pegal ikut menunggu hingga tiba jadwal pemberangkatannya. Belum lagi jika harus ikut berdesakan dengan para pengantar lain. Dalam situasi normal keadaan itu akan terasa tidak menyenangkan. 

Tapi nyatanya .... Bahkan jika itu harus dilakukan berkali-kali. Tidak ada yang menolak untuk turut kembali. Mengantar.  

Jadi teringat waktu SD dulu, Kepala sekolahku mau berangkat haji. Hampir satu kampung yang turut mengantarnya. Kami berangkat tengah malam, tiba di kota Kabupaten masih dinihari. Sementara jadwal jamaah berangkat itu setelah sholat subuh. Kami menunggu hingga para jamaah haji pergi dengan busnya. Sesekali berteriak girang melambaikan tangan saat Para tamu Allah ini melintas. 

Kami tak boleh lagi dekat-dekat dengan jamaah, hanya bisa melihatnya dari jauh. Bahkan beberapa pengantar masih ikut hingga ke Bandara padahal disana mereka tak bisa lagi melihat sanak keluarga yang mereka antar tadi. Tapi begitulah kegembiraan yang satu ini. Tak ada rasa lelah karena perjalanan, bahagia meski hanya mendengar deru pesawatnya.

Bahkan ada sebuah anggapan 'mengantar' seperti ini adalah sebuah doa. Bahwasanya nanti akan merasakan hal yang sama. 

Seperti sebuah tradisi. Beberapa mulai meninggalkannya. Tak lagi harus rame-rame diantar ....Sesaat sebelum berangkat tadi ada sepasang suami istri bercerita, katanya mereka pergi umrah beberapa bulan lalu sangat simpel dalam keberangkatannya ke tanah suci. Mereka berangkat sendiri, bawa mobil sendiri dan mobilnya di simpan di bandara saat pulang pun demikian tak perlu dijemput. 

Tidak ada yang salah. Diantar atau tidak diantar. Umroh atau berangkat haji itu tentang yang mampu dan niat kita untuk menjalankannya. 

#Maret2023 
#kesekian kali merasakan subuh dinihari di bandara.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pada Pagi yang Senyap__

Aku Suka Kopi

Mungkin Nanti__