Mengulang__


Ungkapan bahwa hidup ini hanyalah sebuah siklus, dari suatu peristiwa ke peristiwa berikutnya, berulang, lalu kembali lagi ke awal. 

Bahkan kita sedang berada pada siklus sederhana ini. Iya kita menyebutnya rutinitas. 

Bukan hanya tentang sejarah yang berulang ataupun peradaban yang silih berganti. Sepertinya biasanya ketika kita membahas tentang hal yang silih berganti atau semua pengulangan itu.

Pada setiap pergantian itu.... keadaan sulit akan melahirkan manusia-manusia yang kuat, kemudian manusia kuat membuat keadaan menjadi mudah. Lalu kondisi-kondisi yang serba mudah justru melahirkan manusia-manusia lemah. Akhirnya kembalilah lagi pada keadaan sulit seperti semula. Berulang terus seperti itu. 

Bahwa roda memang selalu berputar. Dan hari terus berganti.

Jika saat ini sedang berada dibawah itu berarti hanya menunggu waktu keadaan akan menjadi sebaliknya. Roda tak pernah berhenti berputar yang di bawah akan naik pun sebaliknya.

Kembali lagi. Ini selalu tentang silih berganti. 

Dan....

Saya hanya ingin menulis... yang boleh jadi ini hanya sebuah pengulangan. Kembali menulis, kembali membuka catatan ini, menulis lagi, besoknya dan besoknya entah akan sampai kapan. 

Meski demikian pada setiap hal yang berulang seharusnya kita belajar. Pada masalah yang datang jangan-jangan juga hanya sebuah pengulangan. Itu lagi, itu lagi. Yang berarti kita tak belajar membiarkan ia datang dan datang lagi. 

Bukankah jika sudah pernah melewatinya kita menjadi tahu bahkan jika sering, seharusnya menjadi hafal dimana bagian berlubang itu jika itu seumpama jalanan. Kita hanya perlu melewati jalur lain atau sedikit bergeser agar tak bertemu lubang yang sama.  Atau kalau perlu mengambil rute berbeda. Jika tak ada lagi peluang untuk tak menghindarinya.  Rute lain boleh jadi masih teramat asing tapi bukankah itu juga sebuah kesempatan untuk bertemu dengan hal baru? Hal baru yang bisa jadi sebuah titik untuk menjadi lebih baik lagi.  

Iya, mengulang tulisan akan membuatnya menemukan tulisan terbaiknya. 

Bahkan jika ini bukan tentang menulis. 

Percayalah kita hanya perlu belajar dan selalu mengambil hikmah dari setiap pengulangan itu.  

Bukankah lembaran indah yang berarti syukur dan bagian sesak yang harus bersabar hanyalah tentang jalan. Dan bahkan Sayyidinah Umar tak peduli harus melewati jalan yang mana. Karena ujung dari perjalanan, syukur dan sabar itu adalah tentang ridaNya Allah. 

Namun kita boleh meminta untuk memperbanyak bagian syukurnya, karena Allah pun telah menetapkan bahwa satu kesulitan diikuti dua kemudahan. Iya,  bagian menyenangkan tetap lebih banyak porsinya. 

Untuk itu mari menikmati siklus ini, tidak peduli kita saat ini berada di bagian mana.  

#berasaRandom

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pada Pagi yang Senyap__

Aku Suka Kopi

Mungkin Nanti__