Menyimak?___


Samar-samar penjelasan Narasumber diatas mengalahkan hiruk pikuk pertemuan hari ini. Forum kesekian yang sudah dilaksanakan. Kali ini di Balai Kecamatan. Ruang pertemuan penuh oleh para undangan. Sangat ramai, nyaris tak ada kursi yang kosong. 

Ah, tahulah .... Pemimpin Daerah ini turut hadir. Itu otomatis, seluruh perangkatnya akan berusaha hadir semua. 

Setelah seremoni pembukaan selesai, saat beliau-beliau bergeser ke ruangan yang sudah disiapkan maka seketika dengung di ruangan ini mengalahkan kesibukan apapun. Bahkan saat acara selanjutnya terkait materi pertemuan ini tidak lagi terlalu membuat semua peserta fokus. 

Untuk beberapa saat keriuhan itu mengalihkan perhatian.

" Angka Gini ratio tahun ini ...." 

Saya memasang telingaku baik-baik. Itu istilah yang sangat asing, kalaupun sebelumnya pernah mendengarnya saya tidak memiliki gambaran penjelasannya. 

Entahlah apakah ini penting, tapi rasanya tidak salah untuk menyimak baik-baik penjelasan pemateri di depan. 

Saya disini. Di ruang catatan ini bercengkerama dengan diriku sendiri. Karena tentu saja akan sangat mengganggu jika sayapun harus menambahkan suara di suasana riuh ini. Cukuplah jika tak paham, aku hanya perlu beralih disini. Tidak mengganggu. Toh, telingaku masih menangkap penjelasan pemateri diatas.

Entahlah apa dalam pikiran sebagian orang sehingga tetap asyik dengan obrolannya, sementara pemateri di atas terlihat setengah mati menaikkan volume suaranya agar bisa mengalahkan suara-suara sekitar yang tak kalah bisingnya. Bahkan ada yang lalu lalang.... 

Saya memang tak serius menyimak, toh saya sedang menulis ini. Hanya sesekali memerhatikan. Hingga sampai pada istilah yang membuatku membenak. 

Baiklah, kita akan menulisnya. Ini selalu tentang menambah wawasan. Besok-besok ketemu istilah ini, kita memahaminya.

Ketimpangan atau gini ratio merupakan tingkat kesenjangan antara pendapatan yang besar dan yg sedikit. Saya akhirnya menangkap penjelasan istilah itu.

Salah satu indikator pembangunan ... Yang selalu dipaparkan para petinggi-petinggi itu. Data-data yang terlihat membingungkan. Tapi mereka begitu lugas membahasnya. Angka-angka itu menjelaskan banyak hal ternyata. 

Seperti biasa saya hanya selalu termangu saat diuraikan data-data itu. Luar biasa sekali. Pertumbuhan ekonomi yang positif, selalu ada diurutan sekian-sekian penanganan kemiskinannya, dan lain sebagainya. 

Dan gini rationya lumayan sangat sedikit. Itu berarti tingkat keadilannya cukup baik. Saya sebenarnya fokus pada perbedaan si kaya dan si miskin kalau berbahasa ketimpangan. Tapi mungkin dalam bahasa data yang dipaparkan beliau-beliau itu terkait dengan program pembangunan yang merata telah di laksanakan. 

Tapi sejauh ini saya sebenarnya tidak ingin menulis semua angka-angka dan penjelasannya itu. Hanya kebetulan menyimak ... dan rasanya selalu menyenangkan untuk berceloteh disini. 

Ah,  tentang ketimpangan. Itu sebenarnya sangat jelas terlihat. Bahwa jurang perbedaan antara si kaya dan si miskin teramat lebar. Kita tentu bisa melihat baru-baru ini berita tentang gaya hidup beberapa petinggi di sebuah kementerian. Istrinya yang menenteng tas seharga 35 juta itu menjadi hal biasa bagi mereka. Bahkan jika itu katanya wajar karena gaji mereka memang selangit. Itu diperoleh dengan halal. Tapi tetap saja itu rasanya terlalu berlebihan. Mereka adalah pejabat publik, bahkan sering dibahasakan sebagai pelayan masyarakat. Mirisnya masih banyak rakyatnya untuk makan tiga kali sehari masih susah. 

Lah, puluhan juta hanya untuk sebuah tas yang kebetulan mereka beli saat jalan-jalan keluar negeri. Bukankah itu terlalu melukai rasa percaya ....

Entahlah bagaimana rasanya memakai tas mahal itu. 

Begitulah.... 

Katanya seperti itulah kapitalisme, hanya kelompok-kelompok tertentu saja yang kian sejahtera, sementara tetap jauh lebih banyak kelompok yang berada di bawah garis kemiskinan. 

Ah, membicarakan ini rasanya akan kian panjang. Jadi sudahlah, mari kembali menyimak materi di atas. Semoga ketemu penjelasannya.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pada Pagi yang Senyap__

Aku Suka Kopi

Mungkin Nanti__