Siapa yang Lebih Cepat?
Gambar di atas adalah screenshoot sebuah video. Entah siapa yang membuatnya. Ada dua bola kecil, mirip kelereng. Di tempatkan pada masing-masing jalur. Jalur pertama dibuat rata saja, dan jalur kedua terlihat bergelombang.
Lalu pada waktu yang bersamaan kedua bola itu berjalan. Menempuh jalurnya masing-masing.
Apa yang terjadi? Pertanyaan siapa yang lebih cepat, segera saja menemukan jawabannya.
Mungkin pada awalnya kita akan mengira dijalur yang rata bola itu akan sampai lebih dulu. Mengingat bola itu tak perlu melewati naik turun jalanan, yang kalau diukur jaraknya juga akan jauh lebih panjang.
Namun yang lebih cepat... ternyata yang bergelombang itu, yang jalanannya naik dan turun.
Ini seperti kehidupan. Keadaan yang sulit justru membuat kita lebih kuat sehingga dalam perjalanan boleh jadi yang kuat itulah yang lebih dahulu sampai di garis finis.
Tapi kita akan selalu memilih jalanan yang rata itu, bukan? Sama. Siapa yang mau capek-capek. Belum tentu juga kita akan kuat dengan tiap tanjakan belum lagi kalau turunan bisa-bisa tergelincir dan jatuh kalau tak hati-hati.
Nyatanya di ilustrasi itu bola dengan jalur naik turun itu yang duluan sampai dibanding yang jalanannya datar-datar saja.
Dan kita bukan bola, kan? Logikanya dimana coba. Jalanan yang naik turun itu sejatinya kalau dibentangkan akan lebih panjang daripada yang jalurnya rata. Karena yang melewatinya bola maka tentu saja akan berbeda, hukum fisika akan berlaku di sana.
Kalau manusia yang menempuh jalur itu, yang ada hanya hukum kekekalan perasaan. Perasaan lelah, perasaan bahwa perjalanan ini teramat sulit.
Tapi kalau dipikir mungkin akan ketemu juga penjelasan terbaiknya.
Kita dengan seluruh logika berfikirnya, akan tetap memilih yang jalurnya rata itu. Tidak ada naik turunnya. Itulah versi realistis kita sebagai manusia.
Makhluk yang selalu berharap kemudahan tapi ingin memperoleh lebih atas usaha yang seminimal mungkin.
Iya, beberapa hal jika itu tentang mendapatkan sesuatu maka kita memang selalu memilih yang mudah, dibanding yang berat. Tapi jika tentang menjadi sesuatu, maka kita ingin menjadi kuat bukan jadi lemah.
Tapi tahukah, menjadi kuat tidaklah diperoleh dari jalan yang mudah itu. Selalu bahwa seseorang yang kuat lahir dari banyaknya kesulitan yang dilewati. Begitupun sebaliknya ....
Pada akhirnya kita hanya perlu menerima setiap jalan yang telah Allah pilihkan, yang mungkin terasa berat, sangat sulit. Tapi boleh jadi itu adalah cara Allah agar kita menjadi kuat setelahnya.
Komentar
Posting Komentar