Fatherless dan Anak-anak yang Ribut di Masjid?___
Jangan bertanya, saya juga mau melontarkan hal serupa. Fakta bahwa Indonesia ada dalam urutan ke tiga kategori fatherless country, yaitu kurangnya peran ayah dalam pengasuhan anak, bahkan beberapa artikel menyebutnya father hungry atau lapar ayah. Membuat kita bertanya....
Kemana para ayah itu?
Apakah sibuk main game online, atau mereka sibuk bekerja.
Selain karena budaya patrilineal yang kental sehingga peran ayah sebagai pencari nafkah utama tidak boleh lagi dibebani dengan beban mengasuh anak, kerepotan menjaganya, hingga terganggu oleh tangisannya memungkinkan kondisi ini kian buruk.
Apalagi jika hanya karena kurangnya kesadaran ayah sehingga lebih memilih asyik dengan ponselnya sehingga mengabaikan tugas penting pendampingan anak-anaknya.
Sebuah realita ....
Saya tetiba teringat fakta meresahkan itu, sesaat setelah kejadian mati lampu di masjid tempatku tarwih tadi malam. Saat rakaat kedua lampu tiba-tiba padam, suara senyap karena saat itu sedang ruku mendadak riuh oleh teriakan anak-anak. Anak laki-laki di barisan depan seolah menjadi tidak terkendali.
Maka jadilah rakaat kedua hanya diiringi suara dengung anak-anak yang tak juga berhenti hingga sholat selesai. Yang pas ruku dan sujud hingga salam hanya dengan mengira.
Seharusnya jika mereka tenang, setidaknya suara imam bisa terdengar meski samar.
Sedih rasanya saat itu. Bahkan saya terhenyak untuk beberapa saat atas tingkah anak-anak ini. Hanya karena mati lampu, sholat mereka hentikan ditambah lagi dengan teriakan-teriakan tak karuan yang mengganggu jamaah yang lain.
Bahkan jika umur anak-anak ini masih lima tahun dan mereka memahami bahwa sholat bukanlah hal yang main-main maka senakal apapun rasanya tidak akan berlebihan seperti itu hanya karena mati lampu.
Kehebohan anak-anak ini telah membuat suasana sholat yang sedang berlangsung seharusnya khusyu menjadi tak lebih dari ributnya pasar. Ada yang berteriak-teriak tak karuan, entahlah seperti sebuah kejadian besar saja hingga sholat mereka harus terhenti.
Entahlah ....
Sebagian mungkin akan memaklumi mereka anak-anak. Tapi rasanya karena mereka anaklah sehingga rasa takut mereka jauh lebih besar. Apalagi terhadap urusan sholat ini. Apalagi sedang berlangsung sholat.
Saya memahami tingkah anak-anak yang memang masih anak-anak di masjid. Jika mereka bermain dan berlari-lari misalnya, tidak apa-apa tapi, TAPI ini yang harus ditegaskan ke mereka 'jika sudah berlangsung sholat untuk ikut diam mengikuti'
Lalu apa hubungannya dengan less father yang tetiba terlintas?
Itulah, seandainya setiap ayah dari anak-anak ini menjalankan perannya, setidaknya kejadian heboh itu tidaklah terlalu separah ini. Mendampingi anaknya, pun saat memiliki dua putra itu bisa duduk di kiri kanannya. Masing-masing. Jadi anak-anak ini tidak perlu membuat barisan sendiri yang berpotensi membuat mereka untuk bermain. Minimal saat sholat berlangsung. Setelahnya terserah anak mau jungkir balik juga tidak apa-apa.
Dan seharusnyalah, sebelum ke masjid anak-anak memang dipahamkan dengan adab-adab berada di rumah ibadah.
Bukankah sikap patuh pun belajar adab-adab sejatinya memang sejak dini.
Bahwa kehadiran ayah yang tak hanya sekedar fisik yang tak hanya memenuhi nafkah keluarga tapi nafkah batin anak-anaknya. Sangatlah penting.
#salah siapa
Komentar
Posting Komentar