Janji___
Tanpa terasa benar, hari ini sudah ke 19 Ramadhan. Dan saya juga baru menyadari ada beberapa hari terlewati tanpa ada catatan disini. Sesuai janji awal akan bercerita setiap harinya hingga hari ke 30 Ramadhan.
Selain janji menulis, tak berlama-lama dengan sosial media apalagi sekedar menscroll rells, kecuali membuka page para influencer islam favorit dan termasuk tulisan-tulisan para penulis keren itu.
Iya, telah berlalu sembilan belas hari waktu-waktu terbaik itu.
Benarkah kita telah melaksanakan seluruh amaliahnya dan memuliakan bulan suci ini dengan sebaik-baik perlakuan. Atau kita malah sibuk dengan hal yang sia-sia.
Karena menulis juga tentang memositifkan diri, mencari makna pada hal-hal sederhana. Dan hanya butuh beberapa menit saja.
Tulisan terakhir itu tiga hari lalu, sejak saya harus sibuk menyiapkan berbagai keperluan si sulung untuk berangkat bimbingan di Makassar. Sekaligus mengantarnya keesokan harinya. Dan baru pulang setelah hari berikutnya. Kalau dihitung-hitung memang, itu total tiga hari yang sibuk.
Tentu saja dengan berbagai alasan.
Beberapa hal bisa kita maklumi. Tapi seringnya tanpa sebab yang mendesak. Semua rencana baik yang telah tersusun rapi dengan mudahnya tidak dilaksanakan.
Begitulah, terkadang janji dingkari sendiri, bahkan kita sering mengkhianati suara yang hati bisikkan.
Hari ini bertekad melakukan ini dan itu tapi lihatlah baru saja beberapa hari keinginan itu terucap tapi apa yang telah kita lakukan setelahnya. Melanggarnya bahkan melupakannya. Pun yang suara hati kita bisikkan.
Iya, kita semua pernah melakukan kesalahan. Melanggar janji bahkan berbohong. Kabar baiknya, kita pun selalu diberi waktu untuk memperbaikinya. Saat menyadarinya, itu berarti sebuah kesempatan untuk menebus kesalahan itu.
Itu berlaku untuk banyak hal, sih. Janji menulis disini hanyalah salah satu contoh.
Bahwa ada banyak kesalahan-kesalahan, baik itu besar maupun hanya kita anggap sepele tapi itu tetaplah kesalahan yang kalau ditumpuk lama-lama akan menjadi bukit.
Kita beruntung jika diberi waktu untuk menebusnya, sebuah anugerah jika ada kesempatan memperbaiki kesalahan itu. Karena betapa banyak yang terjadi penyesalan tak berguna lagi. Terlanjur.
Iya, ini tentang kesempatan dan kesalahan yang terus saja kita ulangi. Lalu pada akhirnya semuanya telah selesai. Kesempatan bahkan telah tertutup pun jika kita masih bisa melakukan kesalahan lagi.
Semuanya akan sampai pada titik itu. Ujung dari setiap pengulangan. Dan kita tak pernah tahu kapankah akhir itu akan tiba. Kita tak pernah bisa menyadarinya, bahkan jika di detik inilah ujung dari semuanya.
Maka saat ada kesempatan pantaskah kita menyia-nyiakannya.
###
Komentar
Posting Komentar