Melukis Pisang Ijo___
Saya sedang di rumah saat menulis cerita ini, tepatnya di dapur menunggu lembar-lembar dadar matang di atas panci teflonku. Itu hanya perlu satu dua menit, lalu di angkat lagi. Maka saat menulis ini pun seperti lembar-lembar dadar itu.
Satu lembar selesai saya berdiri lagi. Atau satu potongan paragraf selesai saya berhenti lagi.
Ini bukan tentang memaksa diri, atau tidak ada waktu lain lagi untuk membuat catatan ini, hanya saja sepertinya seru.
Kira-kira potongan-potongan ini akan nyambung. Atau berupa lapis-lapis rasa, ehm.
Namun tidak seperti kulit-kulit dadar yang meski berlembar-lembar tapi rasanya tetap sama. Maka tulisan ini boleh jadi punya rasa yang berbeda pada setiap potongannya. Karena tentu saja ini berbeda dengan dadar yang dibuat dalam satu adonan untuk tiap lembarnya, sedangkan catatan ini entahlah bahkan perasaanku pun boleh jadi berubah lagi setiap kali tulisan ini terhenti.
Saat ada lembar dadar yang tak bulat sempurna, ketebalannya tak bagus atau malah ada yang sedikit hangus karena terlambat mengankatnya. Ada banyak hal hingga sebuah cerita itu menjadi drama atau hanya sebuah kisah yang hambar saja.
Tapi terlepas dari semua itu, lagi-lagi ini tentang menulis, bukan. Menulis selalu menjadi sebuah 'me time' yang seseru ini. Dan semua orang bisa melakukannya. Bahkan saat kita sedang melakukan sebuah pekerjaan teramat penting.
Oh, ya, sudah ada beberapa lembar dadar yang selesai itu berarti telah sekian kali pula catatan ini dituangkan huruf-huruf, hehe ini seperti menuang adonan kue ini ke atas wajan.
Rencananya akan dibuat 10, dengan hitungan 2 potong untuk Bapak, 1 potong buat nenek, masing-masing sepotong untuk 3 bocahku yang sedikit besar dapat satu setengah. Totalnya ada 8. Sisanya dua potong akan dimakan saat pulang tarwih saja.
Eh, jangan salah. Potongannya cukup besar ko, saya pakai pisang besar untuk setiap lembarnya.
Oh, ya. Ini ceritanya mau buat pisang ijo. Tapi saya pakai kulit dadar untuk kulitnya. Yang umum dilihat dan yang dijual di pasar-pasar Ramadhan itu yang dikukus kulitnya terlihat menyatu dengan pisang jadi modelnya benar-benar menyerupai pisang.
Dan saya lebih suka model ini. Dadar pisang hijau. Kira-kira demikian namanya.
Jangan salah ini tidak kalah enaknya, dan membuatnya rasanya lebih praktis saja.
Pisangnya dimasak terlebih dahulu. Lalu untuk kulit dadarnya sama dengan saat membuat dadar vla. Tepung terigu dilarutkan tambahkan satu butir telur, beri sejumput garam dan mentega cair yang boleh diskip kalau tak mau. Jangan lupa pewarna pandan biar bisa disebut pisang ijo, lebih bagus lagi kalau pakai pandan wangi selain alami aromanya lebih semerbak warnya, juga lebih soft. Kan, sedang zaman warna-warna pudar atau pastel.
Eits ini kepanjangan, beruntung tak gosong. Karena saya pake apinya kecil saja.
Untuk vlanya sebntar bisa dibuat saat menjelang berbuka. Bahannya umum saja larutan maizena beberapa sendok, santan kelapa. Eh, memang ada bukan santan kelapa? Iya, itu santan kara. Nah, saya pakai santan dari kelapa parut yang diperas dan diambil santannya. Meski sedikit ribet ini jauh lebih sehat dan rasanya pun tak tergantikan. Jadi santan kelapa itu rasanya tak tergantikan.
Dan terakhir tambahkan susu. Dimasak sampai vlanya meletup-letup.
Saat disajikan boleh ditambahkan sirup DHT. Atau es batu jika suka.
Akhirnya selesai proses mebuat dadarnya. Tidak lebih dari 15 menit. Kecuali pisang yang dimasak tadi itu butuh waktu sekitar 30 menit.
Sebentar dilanjutkan lagi, ya. Setelah pisang ijonya selesai dan akan didokumentasikan biar jadi cover tulisan ini hehehe.
A few moment later....
Cekrekk, gambarnya sudah ada, kan. Itu real peact, sesaat lalu di potong-potong dan kuah vlanya masih mengepul. Sirup DHTnya di skip saja dulu, kecuali sebentar ada yang minta.
Selamat berbuka puasa semoga segala perbuatan kita, termasuk riweh menyiapkan hidangan berbuka puasa diterima sebagai amal ibadah dan ditetapkan pahalanya.
Aamiin ya Rabbal Alamin....
Komentar
Posting Komentar