Tulisan ini kupersembahkan untukmu....
Dia adalah kakakku. Begitulah cerita kali ini akan dimulai.
Dia adalah kakakku yang tertua, selisih tiga tahun denganku, jadi tidak terlalu jauh. Meski demikian saya tetap adik kecilnya yang lemah dan dia selalu menjadi kakak yang kuat serba bisa.
Sejak kecil saya selalu mengandalkannya. Apalagi jika itu urusan rumah, meminjam bajunya lalu menjadi tempat pulang selain rumah di kampung saat sekolah hingga kuliah dulu.
Selalu senang saat mengunjunginya, dia pandai memasak dan sangat jago bikin kue, bahkan tim terdepan yang turun tangan tiap ada hajatan tetangga atau kerabat. Kalau ada dia urusan perut rasanya aman.
Hingga kini saat kami semua telah memiliki keluarga, masing-masing di kota yang berbeda pula, ikatan itu tetaplah erat. Tempat bercerita panjang dan lebar tentang bahagia juga hal sesak.
Hari ini usianya sudah 44 tahun, tapi dia masih terlihat cantik, bukan. Bahkan saat jalan dengannya, orang mungkin mengira saya yang lebih tua, hehe. Bahkan dia sudah jadi nenek sekarang, anaknya yang sulung sudah memberinya cucu dan tidak lama lagi akan bertambah.
Dia memang selalu terlihat cantik, dulu hingga sekarang.
Saat masih remaja saya ikut kewalahan menjadi penitip salam, satu dua hal sangat menyenangkan sekali, sewa angkot ke sekolah gratis gara-gara sopirnya naksir kakakku. Atau saat SD tidak berani dijahili gara-gara punya kakak incaran para preman itu.
Satu hal istimewa yang dimilikinya, dia punya pengalaman hidup yang diantara kami bersaudara tidak merasakannya. Saat umurnya belum genap 17 tahun dia ikut merantau ke Negeri seberang Malaysia menjadi TKW, itu tidak mudah apalagi seorang perempuan belia. Saya tidak tahu bagaimana ia beroleh izin hingga bisa ikut sama Paman yang sudah lebih dulu ke Malaysia. Meski saat itu menjadi hal lumrah para pemuda pergi ke sana, mengadu nasib. Tapi itu butuh mental yang kuat untuk bisa melalui perjalanan itu. Cerita-cerita yang tak menyenangkan hingga kasus ilegal loging kerap terjadi, bahkan ada yang tak lagi bisa pulang. Entah bagaimana nasibnya di sana.
Jangan tanya tentang sekolah, tamat SD, SMP di zaman itu sudah luar biasa. Meski tak memiliki kesempatan kuliah seperti kami adik-adiknya, dia beruntung menyelesaikan sampai sekolah menengah pertama. Berfikir untuk kehidupan yang lebih baik saat usianya masih sangat belia.
Saya lupa berapa tahun tepatnya dia baru pulang. Itu rasanya lama dalam benak anak seusiaku.
Saat dia pulang dengan diantar mobil openkap milik teman berdagang tante yang di Bone itu rasanya tak percaya. Saya dijemput saat sedang di sekolah waktu itu, rasa haru biru tak bisa kuungkapkan saya hanya mematung tak banyak bicara hingga mobil tiba di kampung.
Satu hal lagi, saya hampir tak mengenalinya. Kakakku teramat berbeda saat dia pergi dulu. Dia seperti nona-nona yang hanya bisa kulihat di layar televisi. Sepertinya pekerjaannya di sana tidak terlalu berat. Barang-barang yang dibawanya pun membuat mataku takjub.
Dia pulang membawa kabar akan menikah dengan penduduk setempat, asli malaysia. Namanya pun agak susah kueja saat itu. Melihat fotonya, calon iparku sepertinya bukan orang sembarangan, dia terlihat keren. Aku sudah membayangkan kehidupan kakakku akan sangat makmur dan sejahtera nanti.
Namun setelah sekian lama menunggu kedatangannya, bahkan waktu yang telah dijanjikan sudah lewat. Dan pria yang berjanji itu belum juga sampai ke Indonesia. Apakah ia tersesat tak menemukan kampung kami yang memang terpencil, entahlah. Saat itu belum ada HP, susah sekali saling berkabar, kecuali melalui surat itupun butuh waktu berbulan-bulan.
Lalu kakakku memutuskan kembali ke negeri Jiran, entahlah apakah menagih janji laki-laki itu atau bagaimana. Saat itu saya belum terlalu paham, hal yang kuketahui juga sebatas apa yang sempat kucuri dengar.
Nah, saat mengurus tiket pulang itulah dia ketemu suaminya yang sekarang. Tiket sudah di tangan bahkan, saat Si pengurus tiket nekad mengejar kakakku hingga berhasil melamarnya. Orang tuaku yang mungkin berfikir daripada anak gadisnya pergi jauh lagi mending menerima yang sudah pasti dan sudah ada di depan mata. Anaknya juga terlihat baik dan bertanggungjawab.
Maka pernikahan pun dilangsungkan. Cerita yang di Malaysia selesai.
Dia sangat kuat, entah bagaimana ia melewati semua pergulatan perasaan itu. Lelaki yang dinanti tak kunjung datang, entahlah apakah hanya janji palsu. Kekecewaannya tentu saja tak terkira. Memutuskan menerima lelaki lain yang baru saja dikenalnya, lalu segera menikah juga bukan hal yang sederhana.
Dia bisa hidup bahagia. Ah, kehidupan. Dia belajar dengan baik tentang hidup ini memang tak mudah.
Dan, jodoh memang selalu tak terduga. Kita tak pernah menyangka. Boleh jadi dia yang hanya berapapasan. Karena sering bertemu dan berkawan lama tak pernah menjamin dialah nanti jodoh kita. Itu selalu menjadi rahasiaNya.
Kakakku yang sudah begitu jauh berjalan, jodohnya ternyata sama-sama orang bugis sinjai juga. Lah, saya yang yang tak pernah berani kemana-mana justru diantara bersaudara saat ini, sayalah yang memiliki jodoh paling jauh.
#Bantaeng, pada hari selasa 4 april 2023
Komentar
Posting Komentar