Hikmah____

Suatu hal baik dari setiap peristiwa, bahkan jika kejadian itu tak mengenakkan. Tapi selalu ada hikmah dibaliknya. Seringkali kita baru menyadarinya setelah berlalu sekian waktu kejadiannya. 

Suatu hari saya mengantar si nomer 3 ke klinik untuk kontrol mata. Tapi lebih ke memperbarui rujukannya. Untuk kami gunakan ke klinik Mata di Makassar. 

Karena sedang janjian juga mau menjenguk salah satu teman yang sedang dirawat di klinik yang sama, saya lalu  buru-buru setelah selesai rangkaian pemeriksaannya. Saya melupakan satu hal.

Selang beberapa waktu, saya sudah bergabung dengan teman-teman di salah satu ruang perawatan klinik dan tidak lagi memperhatikan bahkan mendengar notifikasi HPku, ternyata sudah beberapa panggilan tak terjawab dan chat dari perawat disana memberitahu kalau surat rujukannya tertinggal. Iya, saya lupa mengambil rujukannya. Padahal inilah bagian pentingnya. Karena menggunakan BPJS maka beberapa proses administrasi harus dilakukan, seperti memperbarui rujukan kami setiap enam bulan di klinik tersebut. 

Saya lalu segera menelfon balik tapi tak diangkat. Beberapa saat kemudian pesan via whatsapp kembali masuk, menyampaikan kalau bagian poly mata sudah tutup. 

Saya mengeluh dalam hati karena itu artinya saya harus datang lagi besoknya. 

Dalam perjalanan keluar dari klinik setelah menjenguk teman yang sakit tadi saya berinisiatif ke bagian loket, syukur-syukur dititip disana.  

"Dek, saya tadi periksa di poly mata tapi rujukannya tidak sempat saya ambil. Ada dititip disini?" tanyaku  pada perawat. 

Tanpa kata dengan wajah datar dia menoleh sejenak, lalu mencari-cari di atas mejanya. 

"Kenapaq lupa," ucapnya, dia sibuk dengan beberapa berkas di depannya. 

"Ada di samping sana,  dekat Map biru, ada amplopnya!" Seorang temannya berseru tidak lama kemudian. 

Saya tidak lagi mengecek isi amplop yang berisi surat rujukannya.  setelah perawat mengkonfirmasi nama anakku yang tertera di lembar nama pasien dan menyerahkannya. Saya lalu buru-buru pergi setelah mengucapkan terima kasih. Entahlah pelayanan di fasilitas kesehatan apalagi di bagian loket itu selalu kadang-kadang. Kadang baik, kadang biasa saja, kadang malah tak menyenangkan jika salah satu persyaratan tak terpenuhi mereka akan seenaknya teriak-teriak. Apalagi dengan kartu BPJS ditangan itu selalu  menjadi lagu lama yang tak lekang waktu. 

Lagi-lagi saya terlambat melihat chat dari perawat bagian poly mata kalau surat rujukannya dia titip di bagian loket pendaftaran. Saya mengucapkan terima kasih sekaligus menyimpan nomor kontak perawat polymata itu, meskipun surat penting ini sudah ditanganku.

Hari berlalu.

Tibalah saat saya akan memakai kartu rujukan itu. Tepatnya di klinik Orbita dengan menempuh perjalanan 120 km. Ini tahun ke tiga dalam setiap enam bulan kami ke sini. klinik mata terbaik di Indonesia timur. 

Setidaknya itu yang biasa kami dengar.  Dan memang benar. Pelayanannya sangat baik, tidak ada beda antara pasien umum maupun yang menggunakan fasilitas BPJS belum lagi fasilitasnya yang sepertinya memang sesuai standar terbaik. 

Berobat di klinik Orbita sebenarnya atas saran dokter Hendra. Seorang dokter mata yang membuatkan kami rujukan ke klinik ini. Beliau sama baiknya, pasiennya tidak pernah sepi, beberapa kali setiap ke poly mata itu selalu ramai, harus antri lama, hanya saja kalau pasiennya masih anak-anak dia lebih menyarankannya untuk dirujuk ke Dokter Marliyanti di klinik orbita ini. 

Beberapa kali kesini, semuanya selalu berjalan dengan lancar. Kecuali hari ini. 

Baru juga di loket pendaftarannya. Setelah dicek ternyata rujukannya salah. Nama dan nomer yang tertulis di keterangan bukan nama anakku. Mungkin karena sudah terbiasa jadinya jarang mengecek lembar kecil berwarna kuning itu. Toh, lembar di depan yang berwarna putih sangat jelas tertulis nama anakku, jadi rasanya tidak mungkin akan berbeda dengan lembar keduanya.  

Kenyataannya setelah petugas mengecek di layar komputernya sama sekali tidak ada rujukan atas nama anakku.  

Inilah yang ingin kukatakan sebuah hikmah karena saya lupa. Meskipun saat itu sempat mengeluh tapi karena surat rujukan yang tertinggal itu, saya jadi memiliki nomer perawat yang bisa saya hubungi di bagian polymata. 

Saya segera mengonfirmasi kesalahan dari surat rujukan itu, tapi karena kesalahan ternyata dibuat oleh admin klinik tersebut, perawat tadi memberikan nomor telefon yang bisa kuhubungi. 

Satu hal penting yang harus diperhatikan adalah meminta nomor telefon klinik tempat kita biasanya berobat. Hal yang tidak pernah saya lakukan. 

Tidak terlalu lama surat rujukannya selesai diperbaiki dan segera dikirim ke saya. Ah, ini adalah salah satu kemudahan dari perkembangan teknologi. Bisa kubayangkan kalau ini masih pakai sistem lama maka boleh jadi hari ini saya tidak jadi bertemu dokter mata anakku. Harus menjadwal ulang, harus balik lagi memperbaiki surat rujukan secara manual. Butuh waktu lagi, dan biaya pastinya. 

Alhamdulillah urusan hari ini selesai dengan sebuah quote meski sepertinya tidak berkaitan dengan hikmah yang katanya ingin kuceritakan tapi ini tetap terkait dengan kejadian hari ini. Karena something wrong tadi saya harus terlambat beberapa waktu, dan ini seperti ujian sabar ditambah lagi antrian pasien hari ini mengular. Jauh lebih banyak dibanding sebelum-sebelumnya ketika periksa. 

Maka.... 

Bersabarlah. Selalu ada hal baik. Boleh jadi ada yang harus dipercepat dan ada yang lain mesti ditunda. 

Karena sabar itu jika bisa marah tapi memilih  kata-kata yang baik agar tak saling menyakiti. Karena sabar itu jika bisa teriak-teriak komplain tapi memilih mencari solusi adem agar jalan keluar masalah bisa ditemukan bersama. 

Karena pada suatu hari nanti semua akan berbalas bahkan setitik sabar hari. 

Salah satu hikmahnya lagi saya bisa menulis catatan ini karena harus lebih lama menunggu antrian dari seharusnya. Nah, kan.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pada Pagi yang Senyap__

Aku Suka Kopi

Mungkin Nanti__