Mengatur Rasa___
Demikian, ia memang bukan rezeki.
Setelah berkali-kali hilang. Lebih tepatnya dicuri oleh entah siapa. Karena tentu saja saya tidak ingin berprasangka buruk. Tapi setidaknya setelah beberapa kejadian dan yang terakhir sangat beruntun membuatku telah menyimpan curiga.
Curiga itu berbeda dengan menuduh. Sekalipun dinamakan prasangka rasanya itu boleh saja, itu hanyalah bentuk kehati-hatian. Berharap setelahnya tak terulang lagi.
Meski masih menyimpan kekesalan dan rasa tak habis pikir. Mau bagaimana lagi. Ini rasanya sangat rumit, seolah tak ada jalan keluar selain mengikhlaskan semuanya. Ini tidak semudah seperti dalam cerita Detektif Conan yang karena kecerdasannya tidak perlu waktu lama pencurinya dapat ditemukan. Bahkan oleh pencuri yang lihai sekalipun. Hanya dengan bukti yang orang biasa tak terfikir kesana.
Kenyataanya saya telah kehilangan berkali-kali, itu teramat menyesakkan.
Salah satu hal yang membuat lega adalah dengan membagi cerita tak mengeenakkan ini. Kejadian yang entah seperti apa harus diurai. Bahkan saat sudah melampiaskan kekesalan rasa pedih masih menyisa.
Mau bagaimana lagi....
Uangmu yang jelas sekali ada sekian, disimpan dengan amat rapi dan sebentar akan digunakan untuk suatu keperluan. Lalu tiba-tiba raib. Hilang seolah ditelang bumi sama sekali tak meninggalkan jejak. Itu teramat mengenaskan. Rasanya ingin mengamuk melampiaskan emosi tapi tidak tahu harus memarahi siapa, menyalahkan diri sendiri yang sudah sangat memprihatinkan, pun sama buruknya.
Pada akhirnya kita hanya bisa berusaha untuk mengatur rasa. Memaafkan diri sendiri dan mengikhlaskannya.
Sesuatu yang hilang memang sudah ditakdirkan demikian mau seperti apapun caranya. Apakah dengan tercecer jatuh terus hilang atau dirampas paksa oleh penyamun tiba-tiba. Atau dengan kejadian naas lainnya, dicuri diam-diam dalam tasmu. Bahkan lebih parah lagi ditipu, berharap untung dijanjikan sesuatu eh malah uangnya dibawa lari.
Salah satu bagian dari kehidupan katanya. Ada yang tak jujur tega sekali mengambil hak orang lain.... Lupa bahwa suatu hari saat semua yang telah diperbuat mendapat ganjarannya. Hukuman atas kezaliman yang diperbuat.
Begitulah, pada akhirnya yang sebenarnya terkena musibah adalah ia yang tak jujur itu. Karena kehidupan seperti apa yang bisa dibangun dari hasil kecurangan, dari hasil mengambil hak orang lain. Kebahagiaan sesaat yang diperolehnya bahkan benar-benar hanya sekejap dibanding akibat buruk dari perbuatannya.
Dan, duhai diri. Percayalah, apa yang telah hilang akan Allah ganti dengan yang lebih baik. Sesuatu itu pergi karena ada hal yang lebih baik yang akan datang.
Komentar
Posting Komentar