Aku dan Upacara___
Upacara peringatan, hari lahir Pancasila... segera dimulai. Mohon, yang masih berjalan agar mempecepat langkahnya.
Suara MC terdengar memesona memenuhi halaman kantor tempat upacara peringatan Hari Lahir Pancasila akan dilaksanakan. Tepat pukul 7.30. Matahari menyiram dengan lembut. Suasana masih sangat sejuk, pagi-pagi, kan.
Bahkan jika tak sempat mandi itu tetap akan terasa nyaman saja.
Masalahnya, hari ini di kalender tanggalnya berwarna merah. Itu berarti libur. Hari yang dinanti oleh para pegawai yang berbaris hari ini. Perintah mengikuti upacara itu bisa berarti banyak hal. Merusak hari liburlah, hingga, ini tuh bisa dilakukan dihari lain, kan.
Jadilah peserta upacara boleh dibilang hanya sepersekian dari seharusnya yang bisa hadir, beruntung ada para pemuda pancasila yang hampir memenuhi setengah dari lapangan ini, andai tak ada mereka, maka boleh jadi ini adalah upacara peringatan paling sepi.
Ini bukan tentang idealisme yang entah kemana, bahwa seperti inilah realita hari ini. Mengingat orang yang paling merasa pancasila dan selalu teriak NKRI justru adalah mereka yang mencuri uang rakyat, koruptor bedebah.
Hari ini para penegak hukum mudah sekali di disuap, bahkan setingkat Hakim MA pun tak luput, jenderal yang jual narkoba lalu apa kabar Jaksa pinangki. Kurang belajar apa mereka tentang Pancasila, bahkan mereka adalah yang berdiri paling didepan setiap uparaca peringatan hari lahir Pancasila.
Meski itu urusan mereka. Tapi Pancasila hari ini seperti apa? Apakah hanya sebuah simbol bahkan alat untuk mengangkangi kekuasaan lalu seenaknya mengeruk kekayaan negara untuk kepentingan pribadi dan kelompoknya.
Hari ini hari peringatan lahirnya Pancasila. Pancasila sebagai dasar negara yang dibuat berdasarkan diskusi dan musyawarah yang panjang, mengingat kemajemukan bangsa ini. Hingga tibalah pada sebuah kesepakatan lima sila yang mewakili seluruh keinginan anak bangsa.
Maka terlepas dari semua gejolak itu, kami semua yang hadir hari ini pun yang tak sempat ikut karena kurang sehat atau ada hajat lain yang sama mendesaknya mengucapkan dengan segenap jiwa, Selamat Hari Lahir Pancasilaku, semoga tetap sakti untuk menjaga nilai-nilai luhur bangsa. Bukan hanya sekedar simbol apalagi alat untuk sebuah kekuasaan jahat.
Upacara berlangsung khidmat, sambutan Bapak Wakil Bupati sebagai Inspektur upacara hari ini begitu bertenaga seolah ada kiriman energi dari setiap ucapannya hingga uraian panjang yang biasanya akan membosankan tanpa terasa ditutup sebelum ada yang berguman 'kapan selesai'
Meski saya tidak terlalu menyimaknya karena ternyata saya asyik dengan catatan ini. Padahal niat awal ingin mencatat point pentingnya tapi entah kenapa saya malah sibuk dengan monolog di kepalaku.
Satu dua kalimat saya mengkutinya, tapi pada akhirnya saya tak bisa menulis apapun dicatatan, hingga ucapan penutup. Dan sayapun haru segera menyudahi catatan ini, berharap setelah pulang lalu membukanya kembali ada hal yang bisa kutambahkan.
Maka sesaat lalu, saat catatan ini kembali menjadi tulisan yang tak selesai. Karena setelah menengok memori yang terekam di kepalaku ternyata itu hanya berupa satu dua kata yang tak utuh bahkan jika kutuliskan hanya membuat diriku makin sadar bahwa otakku sangat terbatas hehehe.
Sudahlah, ini sampai disini saja.
Komentar
Posting Komentar