Hari Raya yang Sepi__


Salah seorang adikku masuk rumah sakit dan menjalani operasi. Jadinya tidak ada moment kumpul-kumpul di rumah. Seperti biasanya saat Idul Adha tiba, Kakak dan beberapa adikku datang ke rumah menikmati masakan 'konro' buatanku.

Tapi berkurban tetap dilakukan. Itu adalah ibadah yang Allah sukai pada hari Raya Idul Adha. Selain Takbir dan dzikir. Mau seperti apapun kondisinya, Karena ini sudah diniatkan jauh hari sebelumnya. Setiap tahunnya berikhtiar untuk ini. 

Bahkan jika kali ini tak ada ketupat.

Bahkan jika kali ini tak ada kue lebaran. Seperti biasanya jika hari raya. Iya, lebaran kali ini sepi.

Namun.... 

Berqurban dengan menyembelih hewan qurban bukanlah tentang berbagi kebahagiaan, seolah menyambut kegembiraan. Seperti halnya saat aqikah dengan memotong kambing lalu dibagikan setelah dimasak karena sukacita dengan kehadiran sang buah hati. 

Memang terlihat mirip. Sama-sama memotong hewan untuk dibagikan ke orang lain. 

Karena berqurban adalah bentuk pengorbanan kita yang rela menumpahkan darah seekor hewan demi mendapat ridho Allah. 

Itulah kenapa daging yang disembelih dibagikan bahkan masih dengan sisa darah yang menetes sebagai penggambaran kita telah menumpahkan darah hewan qurban.

Sejatinya kita sedang menyembelih rasa kepemilikan kita pada semua titipanNya.

Tulisan ini menjadi panjang, seketika benakku berusaha mengingat beberapa tulisan terkait dengan Idul Adha ini. Padahal awalnya hanya untuk story di Whatshapku karena baru saja lewat potongan video yang bilang, 'Idul Adha bukan hanya sekedar berqurban saja, melainkan mengajarkan pada umat muslim di dunia' 

Dahiku mengerut, jari-jariku seketika mengetikkannya, 'Idul Adha tentu saja tentang berqurban selain dua ibadah lainnya yaitu takbir dan dzikir. Dan berqurbanlah jika mampu. Itulah kenapa sering disebut juga Idul Qurban. 

Entahlah kenapa ada diksi-diksi yang terdengar bijak tapi tentu saja merusak pola pikir. 

Dan, ini tentang perintah Allah. 

Kewajiban tentang berkurban tentu saja hanya bagi yang mampu saja. Pun yang belum memiliki rezeki rasanya tak pantas mengucap kalimat-kalimat demikian. 

Seharusnyalah yang terucap adalah doa... Semoga dimampukan untuk ikut berkurban, semoga diberikan rezeki melaksanakan ibadah luar biasa ini. Bukannya ikut bilang hal sia-sia, yang seolah mengecilkan orang-orang yang telah berusaha keras untuk selalu bisa melaksanakan Qurban. 

Apalagi jika yang mengucapkan kalimat-kalimat 'bukan hanya tentang berkurban' justru sebenarnya mampu untuk berkurban. Apakah sedang mencari pembenaran? 

Ah,  semoga hanya karena ketidaktahuan saja.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pada Pagi yang Senyap__

Aku Suka Kopi

Mungkin Nanti__