Jangan Meremehkan Sakit Perut__

Akhirnya dia bisa memejamkan matanya.  Tertidur. Setelah hari yang berat baru saja dilaluinya. Operasi usus buntu. 

Sebelum saya mengetahuinya tadi, saya pun hanya menganggap ini hanya operasi biasa. 

Wajahnya pucat, tangannya terus menggenggam tangan kami bergantian. Rasa nyeri tak henti mengiris bekas operasi  yang baru berselang beberapa jam lalu. Kata dokter lima jam pertama setelah operasi memang akan sangat berat. Kami bergantian mengipasi bagian perutnya. Tapi tetap saja ia merasakan sakit yang hebat. Bahkan dia berkali-kali mengigau tadi. Belum lagi rasa hausnya, dia sudah puasa sejak kemarin.

Dia terus meracau. Tidak mau sakit lagi setelah ini. 

Ini tentang adikku. 

Dia sedang kuliah saat ini. Sedang sibuk-sibuknya. Akhir semester enam, jadwal ujiannya sudah keluar. Tiba-tiba harus mengalami ini. 

Adikku mengalami nyeri hebat di bagian perut bawahnya setiap datang bulan. Katanya itu wajar, pergantian hormon pada beberapa orang memiliki reaksi berbeda termasuk sakit perut saat haid. Dia pernah ke dokter dan dilakukan USG tapi hasilnya tidak ada apa-apa. Hanya nyeri haid biasa. Lalu kami semua menganggap normal tiap sakit perutnya, apalagi itu selalu datang bertepatan dengan dia datang bulan. 

Hingga beberapa hari lalu lagi-lagi sedang datang bulan. Nyeri hebat datang lagi. Tapi kali ini ia bahkan tak bisa bangun. Jadi segera dilarikan ke rumah sakit terdekat. Setelah habis dua cairan infus habis besoknya saat diperiksa dokter sakitnya agak mendingan. Dokter mengatakan sudah bisa pulang. 

Saya hanya bisa menyimak kabarnya di WA gruop kelurga kami. Mama di kampung sudah bertolak ke Makassar. Beruntung dia tinggal di rumah salah satu adikku yang lain. Jadi ada yang memperhatikannya. 

Belum genap satu hari di rumah sepulang dari rumah sakit, malamnya adikku kembali di bawa ke UGD. Kali ini dengan pemeriksaan lebih intensif. 

Mama sudah tak terkira rasa khawatirnya.

Dan hasil Rontgennya menunjukkan usus buntu dengan kategori kritis. Besoknya harus segera dilakukan operasi. 

Operasinya sudah selesai saat saya tiba di ruang ICU. Beberapa selang tergantung dikiri kanannya. Bahkan ada selang dimasukkan ke hidungnya, itu katanya  untuk mengeluarkan cairan di rongga perutnya. Dalam hatiku... ini separah ini, padahal hanya operasi usus buntu. Karena bagaimana pun adikku tentu jauh lebih ketakutan kalau ditambah lagi wajah cemas kami. 

Lalu tidak lama salah seorang petugas medis datang. 

"Apendiks. Ini operasi besar," ucapnya, "sudah infeksi ini ke peritoniumnya," ujarnya lagi. 

Saya terhenyak mendengar penjelasannya. Karena hingga setelah saya tiba, saya masih menganggap ini hanyalah operasi usus buntu biasa seperti yang biasanya saya dengar. Bahkan waktu kuliah dulu ada teman mengurus operasinya sendiri, orang tuanya tak diberi tahu. Saat kami datang dia sendirian juga, karena operasi usus buntu memang salah satu operasi ringan. 

Seketika benakku berusaha mengingat-ingat si peritenium. Berbeda saat menyebut apendiks.

Apendiks adalah nama ilmiah dari usus buntu. Saya mengingatnya dengan baik, bahkan masih melekat dalam ingatan. Selain namanya yang unik, usus buntu sering jadi bahan candaan. 'kalau dalam perjalanan makanan di usus lalu ketemu usus buntu, kira-kira bisa balik?' 

Saya masih mengingat waktu belajar anatomi tubuh manusia zaman kuliah dulu dosennya bilang, 'inilah satu-satunya organ yang sama sekali tidak ada manfaatnya' katanya lagi Ilmuwan sepakat usus buntu ini hanyalah sisa dari perkembangan evolusi yang saat itu belum diketahui kegunaannya. Jadi jika diangkat itu tidak memberikan pengaruh apa-apa pada tubuh.

Itu kurang lebih 20 tahun yang lalu. 

Karena hari ini mudah mencari informasi, saya kembali mengentikkan apendiks di pencarian google androidku selain peritonium yang sudah lupa-lupa ingat.

Disana sudah disebut beberapa fungsi dari apendiks ini. Meskipun kegunaannya tidaklah terlalu signifikan. Ah, itu sebuah kemajuan ilmu pengetahuan. Karena kita meyakini bahwa tidak ada hal yang Allah ciptakan dengan sia-sia. Termasuk usus buntu ini.

Kami semua bilang waktu itu, apendiks sebagai kontrol. Seseorang itu menjaga pola makan sehatnya atau tidak. Karena jika sembarangan, bagian ini akan meradang, itu akan sakit sekali kau bahkan akan mengira akan kehilangan nyawa sebab rasa perihnya perutmu. Apalagi jika sampai infeksi, itu akan sangat merepotkan. 

Apendiksnya pecah menginfeksi peritoneum yaitu selaput yang membungkus organ dalam perut sehingga menyebabkan peritonitis. Operasi usus buntu yang sekiranya hanya operasi ringan, dibelah bagian perut bawah persis bawah usus bagian kanan, hanya beberapa senti, menjadi operasi besar. Operasi besar atau laparotomi. Perutnya dibelah sekitar satu jengkal lebih membujur, untuk melihat keadaan rongga perut yang sudah terinfeksi. Proses pemulihannya pasti lebih lama. 

Keadaan itu cukup membuat ngilu tulang-tulang kami. Selang dikiri kanan perutnya, pasti sangat sakit. 

Begitulah.... 

Tulisan ini tentang 'jangan meremehkan sakit perut' 

Suatu waktu mengira hanya karena telat makan, asam lambung naik atau hanya nyeri biasa karena perubahan hormon. Dibiarkan saja sebentar juga akan reda. Setelah minum  obat sakit maag atau pereda nyeri akan sembuh. Ternyata kadang hanya mengurangi sakitnya, nanti kambuh lagi, minum obat lagi. Kambuh lagi demikian seterusnya. 

Hingga pada titik hampir saja terlambat. Pun bisa ditolong ini menjadi teramat berat, andai sedari awal mendeteksinya. Andai sejak dini mengetahuinya, maka beberapa hal boleh jadi lebih ringan.

Tapi begitulah, kita tidak pernah bisa menebak apa yang akan menimpa kita. Pun tidak ada yang bisa menolak sakit, itu selalu tak menyenangkan. Dan tidak ada yang menginginkan kejadian seperti ini. Rasanya seperti ujung dari nikmat hidup. Namun rencana Sang Pemilik Kehidupan selalu yang terbaik, bahkan pada rasa sakit yang diberi. Hanya saja kita belumlah bisa melihat hikmahNya.  

#Pukul 00.29 tengah malam, ruang ICU Rumah sakit Syekh Yusuf Gowa.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pada Pagi yang Senyap__

Aku Suka Kopi

Mungkin Nanti__