LAGI yang Semoga tak Terjadi 'LAGI'___
Seperti sebuah gunung diletakkan pas di kepalaku, tak perlu dikatakan lagi kalau itu berat sekali.
Tidak bisakah kita bicara baik-baik! teriak hatiku setiapkali sebuah masalah membuat kita harus berada pada tensi yang tinggi. Kalimatku bahkan belum utuh ketika setiapkali pula kau memotongnya segera dengan ketus. Dan seketika hatiku merasakan nyeri yang teramat dalam.
Bukankah setiap sambungan di otakmu sudah bertaut sempurna? Bahkan kedewasaan bukanlah tentang bilangan umur. Kau telah banyak melihat. Sudah berapa tempat yang telah kau datangi. Tidakkah kau belajar ditiap perjalananmu. Pemahaman apa yang telah mengisi benakmu kini?
Aku menulis satu paragraf di atas dengan hati sesak di story whatsappku. Setelah sebelumnya pengaturan privasi telah kureset dengan hanya menampilkannya pada satu dua orang saja. Iya, benar. Status ini hanya kutujukan padanya. Orang lain tidak perlu melihatnya.
Status seperti ini bukan kali pertama. Aku sering menuliskannya, dari yang bijak menasihati hingga benar-benar dengan kalimat tensi sekian oktaf. Marah.
Terkadang. Kalimat-kalimat itu masih akan panjang mengurai kemarahanku. Tapi tepat di huruf terakhirnya pemberitahuan bahwa jumlah karakter sudah melebihi telah berkali-kali muncul. Mencegahku menulis lagi.
Dan akhirnya aku harus kembali di sini. Ruang tanpa batas .... Seberapapun banyaknya sesak dan kekecewaan yang ingin kutuliskan. Meskipun kalimat yang kupilih tidak selalu tepat mengabarkan perasaan yang tak baik-baik saja ini. Tapi itu sudah cukup mewakili rasanya. Mengurainya disini. Setidaknya perasaanku akan lega setelahnya.
Catatan tentang marah, kecewa, dan setiap kekesalan kecil telah demikian panjang disini. Aplikasi Memo dengan tagar lagi. Hhhm, karena ini sudah terlalu sering.
Sudah berkali-kali. Pernah suatu kali saya menulis untuk tidak menuliskan 'lagi' setiap membahas masalah ini, karena rasanya sudah seperti candu yang tak juga berhenti.
'Lagi' artinya sesuatu yang akan terus berulang dan berulang, kan .... Maka hal ini akan kembali terjadi cepat atau lambat.
Aku berharap dengan berhenti membubuhi tagar 'lagi' dalam setiap catatan menyedihkan ini. Maka dramanya akan selesai. Tapi lihatlah ... Saya kembali menulisnya.
Lagi ....
Akhirnya kali ini aku menyerah untuk berdalih tak menggunakan kata lagi dalam catatan emosional ini.
Iya, saya ingin menangis disini bersama rangkaian huruf bisu ini. Menyelesaikannya tanpa suara.
Bahwa aku benar-benar sedih. Bukankah kesedihan selalu butuh waktu? Agar waktu tidak terlalu lama rasanya, maka berada disini selalu menjadi tempat yang tepat.
Iya,....
Sikapnya makin tak kupahami. Apakah artinya aku telah gagal. Dduh, menulis kata tak berhasil kian mencabik-cabik perasaanku. Bagaimanalah nanti ketika semuanya dimintai pertanggungjawabannya. Oh, Rabb.....
Aku benar-benar kehilangan kata.... Hampir saja keluar kalimat kutukan dilidahku. Mengutuk diriku atas ketidakmampuanku.
Rasanya kian sesak.
Pernahkah sekalipun dia memahamiku? Mungkin yang tak melihat rangkaian catatan dengan tagar lagi ini akan bertanya-tanya... Bukankah seorang Ibu yang harus memahami? Itu, benar.
Aku bahkan terlalu sering memahami hingga menerabas aturan yang seharusnya bisa kokoh kutegakkan. Tentang srceentime, tentang jam pulang, tentang makan tepat waktu, Karena berusaha memahaminya aku menolerirnya. "Biarlah, nanti juga paham...." ucapku saat itu. Lalu kenapa kini .... Semua bagai bumerang.
Membiarkannya tumbuh sesuai keadaan karena berdalih ini sesuai zamannya telah benar-benar ambyar. Candu gadget dengan game online yang tak bisa dia tinggalkan bahkan jika kemarahanku telah sampai di ubun-ubun pun tak dindahkannya.
Yang ada aku merasa kian bodoh. Karena diskusi tentang aturan sudah bukan lagi waktunya.
Oh, kepalaku masih penuh rasanya.... Hal ini bukan lagi satu dua kali.
Sudah berapa kali aku mengatakannya?
"Oh, sampai kapan ...." tanyaku pilu.
Tentu saja aku hanya kembali bertanya pada rangkaian huruf bisu ini. Bahkan jika aku memelas menanyakan ini padanya, jawabannya hanya ekspresi dingin di wajahnya. Entah kenapa ada katakutan yang menyelusup dalam hatiku. Apakah dia yang sembilan bulan dalam rahimku yang darah dan nafasku pernah menyatu? Apakah masih tubuh yang sama yang pernah kudekap lama sekali hingga rasanya aku bahkan menghafal deru nafasnya?
Ah, ini sudah berlebihan rasanya. Tentu saja dia masih anakku. Kemarahanku telah membuatku berfikir tak normal.
Ibu, lelah, Nak. Umurmu sebentar lagi delapan belas tahun.
Meski menyesakkan menulis rasa kecewa. Tapi ini seperti curhatan panjangku yang akan lega setelahnya. Aku hanya perlu menghapusnya jika telah selesai. Pun jika menyimpannya satu dua, ini hanya sebagai pelajaran bahwa setiap orang pernah melewati hal-hal yang tak menyenangkan. Kemarahan, kekesalan, kekecewaan yang menyesakkan dada. Salah satu emosi yang lumrah dirasakan siapapun. Itu bukanlah kesalahan. Kita hanya perlu belajar bagaimana meresponnya.
Lagian ini kadang hanya sesaat, sebentar lagi selesai. Kami kembali baikan. Karena memang demikian .... Sebesar apapun rasa marahku, sesesak apapun dadaku oleh kekecewaan pada akhirnya akan luruh ... hilang setelah beberapa waktu.
Begitulah emosi. Saat diturutkan, saat dibiarkan tanpa kendali, itu akan membuatmu menyesal. Jadi jika keadaan seperti ini datang, kita kadang hanya perlu menarik nafas panjang menahannya sejenak dan melepaskannya perahan. Jika belum baik juga maka tulislah seluruh kosakata itu, kata-kata sedihmu, dan semua kalimat-kalimat kesalmu. Hatimu boleh jadi telah sesak oleh seluruh riuh itu.
#CatatanMama
#SalahSatu Bab dalam cerita
Komentar
Posting Komentar