Catatan Untuk Seorang Kawan.

Dia telah lebih dahulu pergi. Entah kenapa kabar kepergian tetap selalu membuat kaget rasanya, bahkan jika kita semua tahu itu adalah sesuatu yang pasti dan tak akan tertunda bila masanya telah tiba.  

Sesedih apapun, kita tetap harus mengucapkan selamat tinggal.... 

Allahummaghfirlahu warhamhu wa'aafihi wa'fu'anhu 😭

Untuk teman, sahabatku, Hasnah. 

Innalillahi Wa Innailahi rojiun. Semoga diampuni segala kesalahan serta diterima segala amal ibadahnya oleh Allah dan semoga keluarga yang ditinggal diberikan ketabahan dan kekuatan iman lahir batin.

Alfatiha ....

Rasanya masih gemetar mendengar kabarmu kawan.

Semua kenangan bersamamu seketika menyerbu seluruh penjuru benakku. Saat kita sama-sama berlarian menaiki mobil angkutan umum, waktu itu kalau tidak cepat dan gesit mobilnya keburu penuh dan harus menunggu lagi, dan biasanya lebih lama. Kau sangat tahu saya kadang lamban, tepatnya tidak bisa berebutan naik, maka kau memegang tanganku menariknya mengikuti kegesitanmu.  Hari itu, saat kita janjian kerja kelompok di rumahmu, dan menginap disana. Itu waktu yang selalu kutunggu selain bisa menikmati masakan ibumu yang sangat lezat, masa itu, berkumpul dengan teman-teman memang seseru itu. 

Kita pernah melewati banyak moment-moment seru. 

Saya yang tak banyak bicara kadang hanya ternganga-nganga dengan semua cerita-ceritamu. Tentang ayahmu, laki-laki yang paling kau cintai namun telah lebih dulu pergi saat usiamu justru teramat membutuhkannya. Tentang kisah-kisah petualanganmu disekolah sebelumnya, oh, ya, waktu itu kau pindahan dari sekolah lain. Dan Saya jadi teman dudukmu. 

Ibumu sangat menyukaiku karena saya katanya sangat kalem. 'Sabbara' orang bilang, saya juga tidak tahu kenapa saya bisa kelihatan seperti itu. Sepertinya memang bawaan saja, bukan karena saya benar-benar menginginkannya. Karena sebenarnya saya juga menyukai banyak bicara, rame . Itu terlihat seru, bukan, yang suaranya selalu terdengar dan tentu saja orang yang demikian selalu dicari-cari, menjadi pemeriah suasana. Tapi begitulah.

Tapi sepertinya karena itulah kita cocok, saya adalah pendengar yang baik untuk banyak ceritamu. 

Iya, ibumu sangat menyukaiku. Beliau berharap kita bisa sama-sama saat kuliah nanti.  

Ajaibnya, kita bahkan tidak janjian. Setelah tamat saya tidak pasti akan melanjutkan kuliah. Tidak ada HP untuk saling mengabari. Tapi nasib mempertemukan kita lagi di bangku kuliah dengan jurusan yang sama.  Saat itu kita langsung janjian akan sama-sama. 

Tahun pertama di perguruan tinggi kita sekamar di kost-an. Setelah tahun ke dua saat adikmu sudah kuliah juga, kita harus pisah, perpisahan itu entah kenapa juga seolah membuat kita menjadi berjarak, meski kita tetap akrab, satu dua kali saling mengunjungi, sesekali masih curhat-curhatan tapi seiring berjalannya waktu masing-masing kita dengan teman yang berbeda, bahkan kita tak sama-sama dalam penyelesaian studi. 

Hei,  kita masih tetap sahabat, saya bahkan pernah mengunjungi rumahmu membawa anakku yang pertama. Sangat antusias mencari kabarmu. Tapi begitulah, waktu, jarak, dan masing-masing kita telah disibukkan oleh urusan pribadi dan keluarga, dan tidak lagi saling bertanya kabar. 

Hingga hari ini saya mendengar kabarmu.... 

Saya lalu menyadari satu hal, bahwa masa-masa sekolah, putih abu-abu, adalah banyak tentang dirimu. 

Terima kasih kawan, sahabatku kau banyak memberi warna indah, saya belajar banyak darimu. Kau telah menuntaskan peranmu dengan baik. Saat menjadi kawan, kau menjadi sahabat terbaik.  Saya yakin diakhir episode saat peran-peran kita telah berubah menjadi, ibu, menjadi istri dan teman ditempat kerja kau tetap menjadi yang terbaik. 

Selamat jalan semoga tenang di sana, sahabatku.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pada Pagi yang Senyap__

Aku Suka Kopi

Mungkin Nanti__