Jangan Terburu Menilai ___
Eh, wajar kita salah bicara pun salah mengirim pesan. lupa bilang 'iye, Ibu, Pak', terlewat mengetik tabe' atau sapaan-sapaan tanda penghormatan lainnya.
Itu terkadang karena beberapa sebab. Satu dua kali terlewat, tanpa sengaja. Karena buru-buru mengetik, tidak mengecek langsung kirim saja. Pun saat bicara.
Itu tidak menggambarkan pribadi seseorang seutuhnya.
Juga yang terlihat sopan, atau menulis pesannya teramat rapi tanpa ada kesalahan, tidak menjamin seperti itulah dirinya. Karena ada banyak penipu kelas kakap memakai topeng ini.
Terkadang kita teramat buru-buru menyimpulkan sesuatu. Hanya karena satu kesalahan yang orang lain buat tanpa melihat lagi hal lain yang boleh jadi menjadi sebab kenapa dia melakukannya.
Kita mungkin pernah mendengar bagaimana keyakinan akan memengaruhi perilaku dan respon seseorang terhadap sesuatu. Dalam ilmu psikologi perkembangan ada Carol Dweck dengan dua karakter mentalnya. Yaitu seorang yang memiliki pola pikir tetap dan mereka dengan mental bertumbuh.
Fixed mental atau berpola pikir tetap menganggap bahwa segala sesuatu tidak dapat berubah. Sedangkan yang memiliki mental bertumbuh percaya bahwa proses belajar akan mampu merubah hal buruk menjadi lebih baik.
Terlepas dari berbagai apa yang psikologi itu bilang, catatan ini hanya lagi-lagi nasehat diri... tentang jangan terburu-buru menyimpulkan sesuatu atau menilai baik dan buruk apa yang hanya selintas terlihat.
Dan sebaik-baik pelajaran, seindah-indah nasehat adalah kisah teladan para manusia pilihan. Maka izinkan saya ikut menulis dalam catatan ini, sebenar-benarnya pelajaran itu....
Tentang menilai seseorang. Kita tentu teringat dengan sebuah kisah dengan Khalifah Umar bin Khattab. Diceritakan, bahwa pernah seorang sahabat berkata dia sangat baik, lalu Sang khalifah bertanya, "apakah engkau pernah menjadi tetangganya?"
Tidak.
Lalu tanyanya lagi, "apakah engkau pernah melakukan perjalanan dengan dia?"
Tidak.
Pertanyaan terakhir beliau, "apakah engkau pernah mengamanahkannya sesuatu?"
Dijawab oleh sahabat lagi, "tidak."
"Maka engkau tidak mengenalnya," tegas Khalifah.
Bahwa ketika ketiga hal diatas tidak kita ketahui maka sesungguhnya kita tidaklah bisa menilai seseorang itu baik atau buruk. Apalagi hanya dari caranya bicara ketika bertemu satu dua kali, pun saat sesekali sempat ngobrol via chat saja. Samasekali jangan.
Demikianlah....
Saat bertetangga, kita telah melihat kesehariannya.
Saat bepergian karena rasa lelah dan lapar serta kesulitan lain yang kerap mewarnainya, maka terkadang sifat asli seseorang akan keluar.
Dan kejujuran dan tanggungjawab seseorang akan terlihat saat dia diamanahi sesuatu.
Saya lupa-lupa ingat apakah tentang berurusan dengan uang salah satu yang dimaksud dalam kisah itu. Tentang urusan uang terkadang sifat seseorang bisa diketahui juga.... Mungkin ini termasuk dalam soal amanah atau tidaknya. Dan hanya Allah yang Maha Tahu.
Komentar
Posting Komentar