Lalu Bagaimana?__
Niatnya mau menulis, tapi saat membuka catatan ini, lupa mau menulis apa. Sambil menunggu idenya datang, buka sosial media dulu, geser-geser dulu. Lalu kemudian lupa.
Entah kenapa potongan-potongan video pendek disana selalu terlihat seru. Begitulah, selalu lupa waktu kalau sudah di sana. Asyik scroll-scroll eh tanpa terasa tiga puluh menit berlalu.
Akhirnya mengantuk, saat kembali kesini di ruang catatan ini....
Masih sama. Tidak ada ide. Benakku hanya berisi, nanti saja lagi. Sayangnya itu selalu begitu. Saat besok telah tiba, hal sama kembali terjadi. Benakku hanya berisi lainkali saja lagi.
Tadi sore, siangnya, beberapa waktu yang lalu, dan seterusnya.
Dan malam ini saat semuanya sudah benar-benar bersiap. Menyiapkan waktu, menyiapkan diri, dan meminta bocah-bocah tidur lebih awal. Biar tidak terganggu. Pokoknya semua hal yang bisa merusak konsentrasi. Tapi entahlah. Justru benakku yang tak siap. Tidak ada apa-apa disana.
Begitulah. Berulang setiap hari.
Itulah kenapa beberapa hari ini, beberapa bulan belakangan hanya satu dua tulisan yang selesai. Bahkan agustus menjadi rekor kemalasanku, karena menjadi tulisan tunggal sepanjang tahun itu.
Apa hendak dikata. Berdalih. Tidak baik memaksakan diri, melakukannya harus dengan senang hati maka entah kenapa diri dan hati malah seenaknya tak berbuat apa-apa.
Memilih keseruan lain. Iya, apa lagi.... Scroll-scroll di ruang lain.
Malam ini menjadi ujung dari luahan ketidakmampuan diri. Yang katanya jangan dipaksa, pun hati yang maunya hanya saat senang saja. Tapi ternyata tidak membuatnya jauh lebih baik.
Toh, saat diri dan hati sudah dikondisikan sesuai keinginannya, semua hal yang direncanakan tetap saja sama. Tidak ada apa-apa yang seharusnya bisa ditutur dalam cerita kali ini. Ia, menguap entah kemana.
Kecuali, keluhan ini. Keluhan yang sama.
Atau jangan-jangan saya selalu hanya bisa mengurai keluhan disini. Menyusunnya dengan apik, selalu senang menatanya dalam bait-bait kata. Lalu entah kenapa selalu ku klaim sebagai sebuah TULISAN. Agar hatiku puas, tidak lagi merasa bersalah atas usaha yang tak jua menemu hasil. Berdalih lagi, ini adalah proses.
Sebuah proses yang tidak selalu mudah. Terkadang gelap disana sini. Membuat langkah menjadi tak tentu arah hingga sekali waktu tersandung, jatuh lupa bagaimana seharusnya bangun melanjutkan perjalanan.
Sebuah proses.
Apakah memang seperti ini.
Komentar
Posting Komentar