Obrolan Waktu Itu__

Menjadi istri yang menyenangkan memang tak mudah.  Bahkan jika telah belajar ilmunya, tapi saat penerapannya tidak serta merta bisa sesuai mengingat kecenderungan setiap orang yang memang tak sama. 

Untuk membangun kecocokan hati, saling memahami satu sama lain perlu proses dari kebersamaan yang telah dilalui, dari komunikasi, dan rasa saling menghargai. 

Kali ini saya teringat dengan kisah seorang klien dari teman-teman pendamping PPA di kantor.  Seperti biasa saat dia menceritakan kejadian yang dialaminya, itu selalu sebuah tragedi rasanya. 

Sebelumnya tetangga dan teman perempuan ini sudah datang meminta petunjuk bagaimana proses pemberian pendampingan untuk seorang ibu yang ingin dipisahkan dari anaknya.  Awalnya kami mengira ini hanya soal hak asuh anak. Sepasang suami istri yang akan berpisah dan masing-masing menginginkan memiliki anak mereka satu-satunya.  Ternyata bukan hanya masalah itu. 

Seorang wanita cantik, umurnya juga masih sangat muda. Dia mulai bercerita, awal-awal pernikahannya semuanya baik-baik saja. Suaminya bersikap baik, ibu mertuanya juga demikian. 

Tapi setelah melahirkan, kedua-duanya berubah. Ibu mertuanya sering memarahinya, bahkan tak membiarkannya merawat anaknya. Suaminya pun demikian setiap pulang kerja hanya mengacuhkannya. Hanya sibuk dengan HPnya. 

Dan terakhir saat dia, Si istri ini minta izin menjenguk mamanya dirumahnya. Itu seolah bilang, 'tidak perlu kembali lagi setelah menjenguk' dan alhasil katanya tidak dibiarkan lagi datang. "Padahal saya sudah rindu dengan anakku," ucapnya sambil terisak.  

"Sejak saat itu saya tidak pernah ketemumi sama anakku." ujarnya lagi.  

Teman-teman pendamping mulai menggali informasi sebab musabab kondisi klien tadi. Pendampingan berlanjut tidak lagi di kantor, jadi saya  tidak mengikuti lagi bagaimana perkembangannya. 

Seiring berjalannya waktu, suatu hari.... saat berada di kantor, pendamping menceritakan klien ini kembali. Kami semangat bertanya bagaimana perkembangannya. 

Mereka menarik kesimpulan kekurangan ada pada diri si wanita. Seringkali saat bicara kadang tidak nyambung, entahlah apakah ini sebuah penyakit atau ketidakmampuan si wanita menangkap maksud pembicaraan. Sehingga para pendamping berasumsi suaminya bersikap tidak acuh dan mulai tidak nyaman dengan istrinya. 

Saya mengingat saat pertamakali datang ke kantor. Dan kami sempat menyinggung soal komunikasi ini. Bagaimana mereka dirumah apa yang sering mereka obrolkan, saat suaminya pulang kerja apakah sudah diajak bicara dari hati ke hati. 

Jawabannya waktu itu, lagi-lagi mebuat kami geleng-geleng kepala, "suamiku kalau pulang tidak bicara-bicara sama sekali. Sibuk dengan HPnyaji."

"Apakah tidak pernah sekalipun?"

"Semenjak lahir anakku. Sikapnya berubahmi."

Waktu itu kami berfikir mungkin ada wanita lain. Lalu kami menanyakan hal yang lebih sensitif. Dan lagi-lagi kami hanya bisa mengutuk dalam hati. Walaupun hanya dijawab santai si wanita. 

"Dia jarangji minta, kalau mau langsungji juga tidak bicara apa-apa. Tapi sudah tiga bulanmi ini tidak memang, Bu." 

Apakah ini sebuah hubungan? 

Begitulah.... 

Terakhir, setelah difasilitasi juga oleh pemerintah desa, kesepakatan diambil.  Si istri kembali ke suaminya dengan syarat mereka tinggal terpisah dari orang tua.  

Semoga mereka bisa belajar lagi, setidaknya ada buah hati yang harus mereka besarkan bersama dengan kasih sayang.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pada Pagi yang Senyap__

Aku Suka Kopi

Mungkin Nanti__