Suatu Hari yang Ramai__



Sejak pagi WAG kantor sudah ramai. Di berbagai titik teman-teman yang berada dilokasi pemilihan sudah mengirimkan gambarnya, sedang bertugas. 

Lancar, aman, tidak ada kesibukan yang berarti. Sesuai prosedur. Orang-orang datang menggunakan hak pilihnya, menyerahkan undangannya, memilih di bilik secara e-voting, struck keluar dan dimasukkan ke dalam peti audit. Tangannya dibubuhi tinta, sebagai tanda sudah selesai memilih. Pulang. Meskipun ada beberapa yang tetap tinggal menunggu hasil perhitungan akhir.  

Menit dan jam berlalu. 

Ini sudah tahun ke lima pemilihan kepala Desa menggunakan sistem e-voting atau perhitungan secara elektronik. 

Seharusnya tidak menjadi hal asing lagi. Bahkan beberapa kasus sengketa pilkades yang terjadi berujung pembukaan peti. Meskipun itu menunjukkan kegagalan sistem itu, karena itu sama dengan perhitungan manual. Tidak percaya dengan rekapan sistem evoting ini. Dan hasilnya tetap sama dengan yang mesin hasilkan. 

Entah kenapa masyarakat masih selalu tak percaya, seolah penyelenggara bisa memanipulasi hasil suara dengan cara klik-klik, ok,  karena itu hanya sebuah mesin. 

Padahal logikanya karena ini hanya mesin maka tidak ada yang bisa mengintervensinya apalagi menyogoknya dengan uang biar jumlah suara yang dihasilkan sesuai keinginan salah satu calon, misalnya.  

Bahkan sebelum pelaksanaan, sosialisasi gencar dilakukan, bagaimana kerja alat ini. Agar tidak ada dusta diantara kita. 

Tapi begitulah. Hanya sedikit yang bisa berbesar hati menerima dan legowo dengan keputusan rakyat. Iya, ini keputusan masyarakat, mereka memilih pemimpin sesuai dengan keinginan mereka. Terlepas dari berbagai kepentingan dibalik itu, isu isi amploplah dan lain sebagainya. 

Kalah dalam sebuah pertarungan memang tak pernah menyenangkan

Dan benar saja, siangnya. Saat alat-alat E-voting itu selesai merekap jumlah suara, dan panitia pemilihan mengumumkan hasil perhitungannya. Ada yang Ribut. Salah satu TPS atau tempat pemungutan suara tidak terima hasil perhitungan, dan memecahkan alat evoting. Ngotot ingin dihitung secara manual. Tim teknis yang bertugas segera diamankan ke rumah warga. Beberapa laporan menyusul, juga sedang tegang. Bahkan ada aparat yang dipukul warga.

Hingga malam hari massa pendukung salah satu calon ramai-ramai mendatangi kantor penyelenggara.  

Malam itu menjadi malam yang panjang bagi penyelenggara. Satu-satu mengurai permasalahan, satu-satu menerima berbagai komplain. 

Begitulah.  

Tapi sebagian besar dari seluruh titik pemungutan suara tetap aman, damai, dan tertib. Namun demikian tetap saja hari itu menjadi hari yang RAMAI.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pada Pagi yang Senyap__

Aku Suka Kopi

Mungkin Nanti__