Sukacita Kantor Baru__
Akhirnya kantor kami telah selesai dibangun. Seperti sebelumnya maka proses pindah-pindah barang sudah di mulai.
Memasuki pekan ketiga awal tahun, sudah bisa berkantor di sana. Kami sudah tak sabar. Seperti saat pindah kantor dulu, maka hari ini saya ingin mengabadikan momen hari penting ini juga.
Ini seperti sebuah perayaan.
Aroma kantor baru memang jelas berbeda. Bukan hanya karena semua terasa baru tapi memang sesuatu yang baru itu selalu tentang semangat. Semangat yang juga baru. Seperti saat baru saja akan memulai sesuatu, masih terasa menggebunya. Ah, baru.
Besarnya tidak lebih sama dengan yang sebelumnya. Tapi sungguh jika mengingat kantor kami yang dulu itu memang sangat menyedihkan, lantainya yang retak di sana-sini, palfonnya yang bocor hampir di tiap ruangan bahkan tepat pintu masuknya pernah bablas runtuh menumpahkan berkarung-karung daun kering yang berarti atapnya kurang lebih sama. Hanya saja karena tak terlihat bukan berarti tak berefek.
Demikianlah.
Semuanya sudah diganti. Bangunan itu sudah hilang tak berbekas, benar-benar diratakan dengan tanah. Bangunan baru diatasnya telah menguburnya. Semua tinggal kenangan.
Hari-hari berikutnya adalah dengan ruang-ruang yang masih baru itu. Cat tembok yang masih cerah, lantai yang mengilap dengan jendela-jendela kaca yang lebar sama kinclongnya. Persis seperti impianku akan ruangan kerja yang lapang dengan ventilasi yang bagus.
Tak ada gading yang tak retak. Iya, meskipun nyaris sempurna hasil kerja para pemborong itu menyelesaikan bangunan kantor kami. Selalu ada hal yang terasa kurang. Kurang ini, itu, terutama kurang luas. Satu dua bidang tidak bisa memasukkan semua properti milik mereka sebelumnya. Karena ruangannya terbatas.
Hanya ada satu ruangan yang lebih luas di banding yang lain. Maka inilah yang kemudian menjadi drama yang cukup panjang. Beruntung tidak sampai harus sekian episode, beberapa waktu kemudian semuanya bisa menerima, lebih tepatnya terpaksa menerima ini demi kepentingan bersama. Karena jika mementingkan ego masing-masing, maka urusan ini tidak akan selesai. Masing -masing merasa benar. Yang komplain merasa wajar atas protesnya, dari awal sudah memesan desain sesuai kebutuhannya. Dan seterusnya.
Karena jika menurutkan keinginan, maka semuanya ingin yang luas.
Tapi anggarannya hanya sebatas itu. Dan kami tentu saja harus menerimanya dengan bahagia apapun itu.
"Terkadang suasana baru memang diperlukan," gumanku.
"Enak memang kalau kantor baru, Bu, dii." Seorang teman di sampingku mungkin tanpa sengaja mendengar saya berguman.
Perasaan yang sama saat hari pertama di kantor sementara dulu. Rasanya ada sesuatu yang berbeda, sebuah kelegaan.
Apapun itu, kantor baru, atau hanya jika suasana yang berganti. Itu tetap membawa sesuatu kebaruan.
Komentar
Posting Komentar