Adalah Kenapa___


Nyatanya memang kalau sepekan ini tenggelam dalam gelombang drama korea. Dari Seaguk ke cerita romansa. Setiap episode, tiap scene memanggil untuk segera di selesaikan. 

Tanpa bisa kuhentikan, mengendalikan seluruh pusat keinginanku.

Meski ini seperti balas dendam setelah beberapa waktu sengaja untuk tidak mencari tontonan ini, menghapusnya dari list keinginan. Ada hal yang butuh perhatian, dan harus diselesaikan. 

Tapi sukacita nonton setelah sekian waktu ini rasanya mulai berlebihan. Memaksa selesai, memaksa untuk menuntaskannya, seolah ini hanya film bioskop dengan durasi dua jam. Padahal ini ada sekian seri. Bahkan yang terakhir dan menjadi rekor, itu 51 episode. 

Kabar buruknya memuaskan rasa penasaran terkadang teramat menyiksa. Bagaimana tidak, bahkan jika telah lelah, tubuh sudah butuh segera beristirahat tapi otak masih menginginkannya. 

Dopamin yang terus membajir ternyata memang acapkali menutup ruang logika. Iya,  kesenangan yang diberikan saat nonton film itu memberikan efek bahagia. Tapi dopamin yang terlalu berlebihan terus menerus juga efeknya sama ketika hormon ini berkurang. Yang berakibat pada keadaan atau suasana hati. Ah, ini jadi membingungkan tapi terkait banjir dopamin ini bisa di search dan google akan menjelaskannya dengan baik.  

Mungkin memang belum dalam efek candu, tapi tidak bisa mengendalikan keinginan sudah masuk dalam tahap yang seharusnya mengkhawatirkan. Keinginan yang boleh jadi mengorbankan kebutuhan yang jauh lebih penting. 

Sesederhana, tubuh lebih butuh istirahat dibanding hiburan yang berlebihan yang justru berakibat lelah yang berkepanjangan. Hei, apapun yang berlebihan itu tidak pernah baik, bukan. 

Jangan karena merasa tidak ada yang dirugikan, berfikir toh ini hanya mengisi waktu luang, pun jika harus mengabaikan beberapa hal yang tidak mendesak. Atau alasan menghibur diri maka bukan berarti ini menjadi boleh dilakukan tanpa kontrol. 

Karena pada hal apapun....

Kita harus selalu punya kendali atas diri. Menentukan apa yang baik untuk diri dan apa yang sudah tidak boleh berlebihan. Sadar bahwa beberapa hal tidak  menjadi penting,  dan melihat prioritas selalu dengan kejernihan hati. Apakah ini baik untuk diri, apakah ini bukan sesuatu yang hanya sia-sia saja, dan lain sebagainya. Lalu konsisten dengan semua itu menjadi mutlak. 

Jika tidak, itu akan kembali pada diri sendiri. Produktivitas jadi berkurang. Iya, efeknya yang tentu saja lebih sering merugikan diri sendiri juga. Termasuk perasaan nelangsa tanpa sebab yang jelas. 

#suasana hatimu boleh tidak baik-baik saja.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pada Pagi yang Senyap__

Aku Suka Kopi

Mungkin Nanti__