Menarik Nafas Dalam-Dalam___
Kita telah sampai dimana sekarang. Atau jangan-jangan masih di tempat semula belum beranjak kemana-mana. Merasa telah melakukan perjalanan yang begitu melelahkan hingga pada titik menarik nafas. Eh, jangan-jangan hanya rasanya. Dan realitanya teramat berbanding terbalik.
Kenapa? Ada apa?
Kau terjebak dengan keriuhan itu rupanya, tanpa sadar menyedotmu kian dalam. Bahkan kau mengalami disorientasi arah. Tidak menyadari kau berada di mana sekarang.
Begitulah.
Begitu kuat sebuah perasaan melingkupi hingga boleh jadi karena itulah kita bahkan tak pernah bisa beranjak kemana-mana. Tapi benarkah.
Ah, siapapun kita bisa saja mengalami keadaan begini bukan? Sepotong perasaan kita yang nelangsa oleh keadaan yang jauh sekali dari ekspektasi. Kita seolah menjadi benar-benar tak berarti.... Tidak ada rencana yang berjalan dengan baik, semua terasa sia-sia, jauh panggang dari api, dan semua kalimat sesal lainnya.
Hal itu sering dan bisa saja terjadi. Ini kehidupan, kan. Bahwa tidak semua hal tidak selalu sesuai keinginan.
Dan perasaan nelangsa memenuhi dada. Mau bagaimana lagi, kita tidak pernah bisa menolak setiap pergantian rasa yang datang.
Kecewa, jengkel bahkan terbersit marah. Itu wajar. Namanya manusia yang diberi rasa, dianugerahi kesempatan untuk mengecap bermacam rasa. Kita hanya perlu menerimanya dan mengelolanya dengan baik.
Bahwa setiap rasa itu hanya sekedar singgah, untuk tahu seluas atau sesempit apa ruang hati yang disinggahinya kali ini.
Namanya singgah. Kita hanya perlu menyapanya menyambutnya dengan baik lalu menyiapkan 'say bye' kemudian. Untuk apa juga menyimpannya lama-lama kalau jelas itu tidak menyenangkan. Menyapa secukupnya, dan bereaksi seperlunya.
Tidak ada sesuatupun yang benar-benar menetap termasuk perasaan. Itu selalu hanya tentang silih berganti.
Jadi sabar saja sebentar lagi rasanya akan berganti dan berganti. Dan kita hanya perlu pandai mengelolanya. Jangan mudah terbawa arah tiap pergantiannya. Aneh kan saat marah kita ikuti si marah memaki sana-sini. Eh besok-besok saat senang bagaimanalah memulai kesenangan ini saat hati yang lain bahkan masih sangat ingat bagaimana marah kita kemarin.
Dan lagian seperti di awal tadi itu lagi-lagi terkadang hanya 'rasanya'. Lalu kenapa kita tidak mengatur baik-baik setiap datang rasa-rasa itu. Biar 'rasanya' bisa sesuai dengan yang kita inginkan nantinya.
Demikianlah... untuk tiap rasa yang datang kita tidak perlu berlebihan. Secukupnya saja. Sembari menarik nafas dalam-dalam.
Komentar
Posting Komentar