Mengatur Rasa Bab Kesekian___
Untuk sejenak ada rasa kecewa yang menyusupi hatiku. Rasanya sedikit kesal, hingga sesaat lalu, beberapa kalimat penuh sesal telah memenuhi ruang history di sosial mediaku. Tapi setelahnya urung kulanjutkan, memilih membuangnya saja. Bukankah sabar itu lebih baik. Ehm setidaknya itu yang terlintas.
Dan setidaknya itu hanya selesai dalam abjad yang sunyi akhirnya. Iya, sunyi karena hanya sejenak, setelahnya hanya menjadi kalimat-kalimat yang saat menghapusnya sama dengan membuang kekesalan itu. Maka selesai urusan perasaan itu. Iya, kadang sesederhana itu. Dan itu selalu ampuh.
Pun yang masih tersimpan, kadang hanya untuk pengingat dan menjadi jejak di aplikasi thread.
Begitulah, merangkai kalimat-kalimat itu terkadang tentang soal keindahan. Senang saja melihatnya sudah membuat catatan dengan sekian jumlah huruf, lalu mengunggahnya di aplikasi thread.
Sudah membayangkan buka puasanya pake itu. Tapi sudahlah bukan rezeki. Selalu ada hal baik kenapa sesuatu itu tidak jadi atau tertunda.
Pernah dengar tausyiah begini, "Puasa itu, kan menahan nafsu. Terutama nafsu mau makan ini, pengen itu. Nah, salah satu cara menundukkannya dengan tidak memenuhinya, bahkan saat berbuka nanti."
Maka hari ini mungkin Allah sedang mengajarimu. Untuk tidak menurutkan keinginan tentang suatu hal. Nanti-nantilah saat tidak terlalu mau lagi. InsyaAllah nanti nikmatnya lebih berkah.
Meskipun dalam hitungan-hitungan kita yang manusiawi, apa enaknya kalau sudah tidak terlalu ingin bahkan istilah 'lewatmi cinnanya' itu seolah kebenaran mutlak. Kita lupa Allah lah yang mengendalikan semua rasa di dunia ini. Mudah bagiNya menjadikan hal apapun menjadi sebuah nikmat tiada tara.
Karena iman memang bukan tentang hitung-hitungan apalagi hanya analisis, prediksi, persepsi semata. Akal kita tidak akan pernah menjangkaunya.
Semoga kita dianugerahi iman yang teguh terhadap segala ketetapanNya.
Demikian tertulis di sana, suatu hari nanti ketika aplikasi ini hilang, satu dua saya mencatatnya kembali disini.
Saya sedang membujuk hatiku, baru saja pesananku gagal. Ownernya terlupa, pegawainya pulang tidak ingat lagi masih ada pesanan yang harus dikirim sore jam lima sebelum tutup. Karena mereka telah pulang pada pukul 4. Saya baru mengingatkannya tiga puluh menit setelah mereka pulang karena kupikir itu masih sebelum waktu yang disepakati yaitu jam 5 sore.
Saya sedang puasa. Berharap itu menjadi menu buka puasaku nanti.
Mau marah dan protes rasanya dengan ownernya. Kenapa tidak respek dengan permintaanku padahal jelas saya meminta dikurirkan jam sekian. Jika lupa menjadi alasan maka semua orang bisa seenaknya menyepelekan keinginan pelanggan. Bukankah itu bisa dibuat catatannya kalau perlu dibuat besar-besar di area yang pandangan mata selalu tertuju. Dan seharusnya sebelum tutup itu mengecek hal-hal yang seperti ini. Aduh, itu tidak profesional dan sangat merugikan pelanggan.
Tapi, begitulah.
Maka kalimat-kalimat baik, nasehat-nasehat yang pernah singgah mengisi jiwa, dan masih terjejak dalam benak. Tidak apa-apa jika tidak lagi utuh, bahkan beberapa bagian hanya mengingatnya sepotong-sepotong. Intinya berusaha menerima dengan penerimaan yang baik adalah usaha terbaik yang bisa dilakukan.
Memesan sesuatu via online memang terkadang bernasib gagal. Entah itu makanan atau barang-barang tertentu. Salah satunya terlupa, malah kadang lebih buruk, pesanannya datang tapi tidak sesuai ekspektasi. Atau kurirnya nyasar berjam-jam baru tiba tepat ketika kesabaran telah menguap.
Salah satu drama di dunia yang katanya semua serba mudah.
Tapi demikianlah segala hal mudah yang disajikan oleh zaman tetap saja menyimpan sisi tidak sempurnanya.
Komentar
Posting Komentar