Potret Buram Kita? ___
Sebuah meme baru saja lewat di linimasa sosial mediaku. Sebuah gambar karikatur. Seseorang sedang berada dalam sel penjara yang terkunci, pakaiannya penuh tambalan. Melihatnya kita bisa memastikan dia bukan napi koruptor. Tubuhnya teramat ceking, mengabarkan seekstrim itu kemiskinan menyelimutinya. Ada sepotong roti dan sebuah kunci tergeletak di depan jeruji-jeruji besi yang terkunci itu. Ranting kecil di tangan orang itu sedang berusaha menjangkau sepotong roti di luar jerujinya.
Gambar itu berbicara banyak hal.
Sebuah fakta bahwa terkadang orang masih lebih memilih sepotong roti untuk mengenyangkan perutnya di banding sebuah kunci yang menjanjikan kebebasan yang itu berarti sebuah kesempatan yang lebih banyak untuk diperoleh bukan hanya sekedar sepotong roti itu. Tapi sepertinya ketidakberdayaan hingga kemiskinan itu telah menutup logikanya untuk berfikir akan sesuatu yang lebih baik.
Kerena kenyataannya memang masih banyak kita lebih memilih sepotong roti gratis itu dan tetap membiarkan diri terpenjara.
Hari-hari ini kita sedang disuguhi berbagai dinamika politik. Jangan salah, politik itu adalah salah satu jalan untuk menggenggam hajat hidup orang banyak. Karena politik itu tentang seperti apa kebijakan itu kemudian terbentuk dari proses-proses demokrasi yang melibatkan politik sebagai jalan untuk mencapainya. Maka seharusnyalah kita belajar atas semua suguhan itu.
Iya, ini tentang ilustrasi pada meme itu.
Ini bukan tentang mendukung siapa atau memilih siapa. Rasanya kita semua masih memiliki akal. Atau jangan-jangan karena akal itulah lalu membuat kita menutup nurani terhadap apa yang sebenarnya terjadi. Bahwa di sisi yang lain kita diinginkan untuk terus saja bodoh. Jangan pintar untuk menilai sesuatu.
Terus saja percaya bahwa lapangan kerja memang sesulit itu, gaji tidak bisa diperbaiki, pendidikan memang mahal, dan janji kehidupan yang lebih baik memang teramat susah.
Terus percaya bahwa hanya orang-orang tertentu saja yang pantas sejahtera dengan nominal fantastis di rekeningnya.
Terus pasrah memang seperti inilah hidup. Menerima keadaan kemana arah akan membawanya.
Negara Indonesia yang gemah ripah loh jinawi hanya sekedar semboyan membanggakan. Tapi sekian banyak penduduknya untuk makan sehari-hari saja susah.
Tanah subur Indonesia bahkan tongkat yang ditanam pun akan tumbuh tapi jutaan penduduknya resah mencari kerja.
Iya hari-hari ini banyak logika yang terbalik-balik rasanya.
Dan lebih lucu lagi ada yang mempertanyakan sumbangsi para Guru Besar dari berbagai Perguruan Tinggi itu pada negara yang hari ini menyatakan sikapnya. Menggiringnya pada dukungan pada salah satu pasangan calon. Padahal itu hanyalah jelas sebuah kritik pada Pemerintah. Apa yang salah. Bukankah salah satu ciri dari demokrasi adalah mengeluarkan pendapat.... Dari gua mana orang-orang yang mengatakan hal memalukan itu, hingga tak lagi tahu ke arah mana komentar ia tujukan. Mereka GURU.
Komentar
Posting Komentar