Sungguh Maafkan Kami___


Apa lagi yang bisa kami ucapkan selain kalimat penyesalan atas ketidakberdayaan. 'Maafkan kami' bahkan untuk sesaat kabarmu tenggelam oleh keriuhan pesta kami. Pemilihan umum. Sibuk ikut berdebat calon ini yang lebih bagus, calon itu begini dan lain sebagainya. Hingga selesai acara ini pun kami masih riuh dengan permasalahan yang kian membingungkan pula. 

Rasa miris dan tak adil, tidak seberapa rasanya dibanding keadaanmu kini duhai bumi para Anbiya. 

Bahkan untuk sejenak saya tenggelam dengan drama sekian episode, dengan dalih mengalihkan keresahan akan realita pemilihan umum yang sama dramanya. Setidaknya prahara dalam fiksi ini lebih menghibur dibanding drama yang terjadi di dunia nyata. 

Maafkan kami....

Dan setelah sekian waktu itu, lagi-lagi kami hanya terhenyak. Tersisa Rafah yang belum hancur lebur.... Kelaparan, dan sakit yang tak henti kian menyayat hati kami. Bahkan ada video pakan hingga pasir yang tak layak makan harus menjadi pengganjal perut mulia kalian. Kami harus bagaimana ya Rabbi meringankan beban mereka. 

Bahwa kesedihan,  ketidakberdayaan, dan segenap permintaan maaf kami tidak akan pernah cukup untuk membantu mereka. Ini teramat pilu. 

Tapi sungguh harapan pada para pejuang tidak pernah surut, kami meyakini itu seyakin kami akan janji kemenangan untuknya, bahkan jika mereka tidak lagi intens mengirim live penyergapan-penyergapan beruntun mereka. Penjahat itu berjatuhan dengan teramat mudah, mereka terlihat kian bodoh dengan kesombongannya. Tank markeva yang konon paling canggih dengan sekejap menjadi rongsokan besi tua yang tidak punya arti apa-apa. 

Sekali waktu hati kami bersemi oleh kabar-kabar ini.

Meski terkadang media para penjahat itu justru memutarbalik fakta, namun pada hakikatnya para mujahidlah pemenangnya. Penjahat itu kian stress hingga membabi buta menjadikan warga sipil sebagai sasaran rudal-rudal laknatnya. Mereka kehabisan akal tak juga berhasil mematahkan titik pertahanan para pejuang. 

Maka semoga Allah melipatgandakan kesabaran kalian duhai....

Teramat panjang dan sesak perjuanganmu. Sungguh kalian telah berdakwah dengan tetap teguh di sana, kalian telah sukses membuat seluruh mata tertuju padamu, bahwa keyakinan dan prinsip kalian teramat mulia hingga harus ditebus dengan ribuan nyawa dan air mata. 

Iya, entah berapa sekarang. Kami bahkan luput dengan jumlah yang telah syahid kini. 

Tapi sungguh meyakini sepenuhnya tidak ada yang sia-sia, jumlah itu bukan hanya sederet angka yang terus bergerak tapi dia adalah simbol kegigihan dan perjuangan para syuhada untuk pulang menuju RabbNya.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pada Pagi yang Senyap__

Aku Suka Kopi

Mungkin Nanti__