Ramadhan dan Al-Aqsa__
Saya tidak punya kata-kata lagi untuk kepiluan G4z4 saat ini. Ramadhan telah tiba, mereka sungguh berpuasa tapi apakah mereka bisa berbuka dan sahur? Kalimat seorang Syeikh dalam video tentang P4les_tin hari ini menikam tepat di hati kami.
Sesak rasanya, sementara kami disini masih memilih, kali ini akan buka puasa dengan apa. Bahkan kadang terlalu sibuk hanya untuk urusan makanan semata.
Mungkin memang benar yang mereka katakan bahwa boleh jadi tangis kami bukanlah karena kasihan, tapi sebab malu. Tak sanggup seperti mereka.
Oh, Ya Rabbi....
Sungguh Engkau teramat menyayangi mereka hingga memberi ujian yang telah melampaui nalar kami. Sungguh Engkau sangat mengistimewakan mereka dengan semua nestapa panjang ini. Dan kami percaya dengan Ramadhan kali ini kemenangan itu kian dekat.
Bukankah pekatnya malam adalah pertanda fajar tidak lama lagi.
Dan sungguh hingga hari ini para penjahat itu kian putus asa, kerugian mereka sudah tak terbilang, klaim-klaim keberhasilan mereka bohong belaka. Buktinya mereka bahkan tak pernah bisa menyentuh titik pertahanan para pejuang.
Bahkan jumat menjelang Ramadhan kemarin, sesuai dengan pernyataan para pejuang melalui juru bicaranya, yang sosoknya hari ini begitu dinantikan dan menjadi idola baru, meski dengan kain khas menutupi wajahnya namun sorot matanya cukup untuk membuat kita takjub. Kalimat yang tertata, suara yang tegas dan tatapan mata yang teramat tenang.
"Menghadapi kenyataan ini dan agresi yang sedang berlangsung, kami, di Brigade Al-Q4ssam, dan perlawanan P4lestin bertahan, memahami bahwa musuh hanya memahami bahasa kekuatan tidak dapat ditundukkan oleh pernyataan, konfrrensi, kecaman, bahkan pernyataan internasional, resolusi," ucapnya tegas.
Bahwa mereka tak akan pernah berhenti untuk terus bertahan dan berjuang hingga hak-hak mereka diperoleh kembali.
Meski dengan jalan kekerasan untuk meraih keadilan itu. Toh, segala bentuk diplomasi dan jalur hukum melalui hukum internasional maupun keputusan-keputusan Dewan Keamanan PPB, sia-sia belaka.
Kita semua melihat, betapa segala upaya negara-negara yang mengecam genosida untuk menuntut penjahat itu. Tapi tidak membuahkan hasil, jangankan menghukumnya, kesepakatan gencatan senjata bahkan tidak mereka setujui. Dan rakyat sipil kian menderita. Mereka tidak hanya mati karena rudal-rudal penjahat itu, tapi juga karena kelaparan.
Betapa ketidakadilan itu sungguh mereka pertontonkan, dan kita benar-benar menontonnya tanpa daya.
Komentar
Posting Komentar