Si Nou__


Namanya Nou, tepatnya baru saja diberi nama itu. Kucing jantan entah dari mana yang tiba-tiba saja selalu muncul dan akhirnya betah di halaman samping. 

Kadang ia juga dipanggil Lembu oleh Si Anak Muda, dan Saya malah lebih sering meneriakinya, Tutiii. Tuti itu karena ia sangat suka tidur. Tuti sama seperti Nou, awalnya datang entah dari mana dan akhirnya betah di halaman samping, selalu menyelinap masuk ketika pintu terbuka. 

Tuti cukup lama menjadi penghuni halaman samping, ia masih bayi mungil ketika pertama kali datang, terseok dengan tubuh dekil. Hari berlalu kondisinya membaik dan tumbuh besar. Lalu akhirnya melahirkan. 

Setelah melahirkan lima bayi, keadaan menjadi tidak terkendali, kotoran kucing dimana-mana, aroma kencingnya menguar kadang tercium masuk ke dalam rumah, sama seperti ibunya sangat suka di dalam rumah. Meski demikian Tuti dan keluarganya memberikan keceriaan, Si bungsu Azkiya sangat menyayanginya, ia bahkan telah memberi nama untuk semua anak-anak Tuti. 

Suatu hari kami meninggalkan rumah berhari-hari, dan saat kembali Tuti dan anak-anaknya juga sudah pergi. 

Itulah kenapa kenangan Tuti cukup dalam, hingga kucing apapun yang datang, kami masih memakai panggilannya.

Kali ini kucing putih besar yang sepertinya menempati tempatnya Tuti. 

Sama seperti Tuti, Nou suka menyelinap masuk ke dalam rumah, dan menggelung nyaman di sofa. Ia sepertinya kucing rumahan dan dipelihara dengan baik sebelumnya. Bahkan Kakak Zayya menyebut kucing ini sangat fisical touch, karena sangat suka disentuh bahkan kadang mengejar kami hanya untuk di belai. 

Nama Nou, terispirasi dari nama pemilik kucing putih di serial Bumi pada buku ke 12 dengan judul si putih,  yang bercerita tentang hewan-hewan purba yang melakukan bonding dengan manusia. 

Begitulah....

Alasan kami membiarkannya seperti Tuti sebelumnya karena ia cukup pintar, tidak mengeluarkan kotoran sembarangan dan tidak mencuri makanan di meja makan, memakan makanan yang nanti diberi. 

Selain karena Si bungsu yang memang sangat menyukai kucing, andai dibiarkan ia sangat ingin memelihara kucing seperti yang biasa dia lihat, begitu seru mungkin memandikannya, bermain hingga tidur bersama. Hanya saja ia tidak menyadari bagaimana repotnya mengurus kucing, bagaimana makanannya, apalagi kotorannya yang kalau tidak disiplin membuat rumah malah tak nyaman. Walau sebenarnya itu cukup baik untuk mengajarinya disiplin, tapi sepertinya saya memilih hal lain saja untuk point itu. 

Belum lagi, dengan bersin-bersin tak hentinya kalau pagi-pagi bermain dengan kucing. 

Lagian memelihara kucing-kucing manja demikian, biayanya tidak sedikit. Saya sudah menolaknya bahkan sebelum memikirkannya.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pada Pagi yang Senyap__

Aku Suka Kopi

Mungkin Nanti__